Net Zero Emission 2050 Arah Baru Pembangunan Global: Realitiskah?

Net Zero 2050 adalah tujuan ambisius untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, namun apakah ini realistis?

Diterbitkan 01 November 2025, 12:43 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Target Net Zero Emission 2050 telah menjadi arah baru pembangunan global. Negara-negara berkomitmen memangkas emisi karbon hingga nol bersih dalam tiga dekade ke depan. Namun, di tengah peningkatan konsumsi energi dan laju ekonomi, muncul pertanyaan "realistiskah target ini dicapai tepat waktu?"

Merujuk Science Direct (H. Chen, 2023) menunjukkan bahwa capaian Net Zero tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada sinergi kebijakan energi, keuangan, dan kualitas sumber daya manusia. Keterlambatan dalam salah satu aspek dapat memperlambat transisi menuju emisi nol bersih.

Indonesia sendiri telah menargetkan Net Zero Emission pada 2060, sementara negara maju menetapkan 2050. Perbedaan 10 tahun ini mencerminkan realitas terkait kesiapan infrastruktur, kemampuan finansial, dan akses teknologi yang sayangnya masih belum setara secara global. Lantas bagaimana proyeksi ke depannya? Simak informasi selengkapnya berikut, dirangkum Liputan6, Sabtu (11/10).

Apa Itu Net Zero 2050

Konsep Net Zero Emission (NZE) berarti jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepas ke atmosfer harus diimbangi dengan penyerapan kembali melalui teknologi atau alam. Artinya, total emisi dunia harus setara dengan nol bersih.

Studi Science Direct menegaskan bahwa Net Zero 2050 hanya dapat tercapai jika pertumbuhan ekonomi, konsumsi energi bersih, dan pengelolaan populasi berjalan seimbang. Dalam konteks ini, pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menekan jejak karbon per kapita.

Target 2050 muncul dari Paris Agreement 2015 yang mematok batas kenaikan suhu bumi maksimal 1,5°C. Jika emisi tidak ditekan secara drastis sebelum 2030, peluang mencapai nol bersih pada 2050 akan semakin kecil.

Alasan Global Mendorong Tercapainya Net Zero 2050

Dorongan global menuju Net Zero bukan sekadar tren, tetapi respon terhadap ancaman nyata krisis iklim. Laporan IPCC menunjukkan, tanpa langkah cepat, suhu rata-rata dunia bisa naik 2,7°C pada akhir abad ini.

Negara-negara maju seperti Uni Eropa, Jepang, dan Kanada sudah memulai dekarbonisasi industri sejak 2020. Mereka berinvestasi besar di energi terbarukan dan kendaraan listrik. Tujuannya adalah untuk menjaga daya saing sekaligus menghindari dampak ekonomi dari bencana iklim.

Indonesia, meski berkomitmen mencapai NZE 2060, sudah menetapkan peta jalan transisi energi dan pembiayaan hijau. Pemerintah menargetkan bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 44% pada 2030 untuk menekan emisi nasional hingga 32% secara mandiri.

Tantangan Utamanya Apa?

Menurut H. Chen (2023), tantangan terbesar terletak pada ketidakseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kemampuan adopsi energi bersih. Negara berkembang masih bergantung pada batubara untuk kebutuhan listrik dan industri.

Selain itu, pendanaan menjadi penghambat signifikan. Untuk mencapai NZE 2050, investasi global energi bersih perlu meningkat tiga kali lipat dari saat ini. Di Indonesia, diperlukan lebih dari USD 500 miliar untuk membangun infrastruktur energi rendah karbon hingga 2060.

Kesenjangan teknologi juga memperlambat transisi. Teknologi carbon capture dan green hydrogen masih mahal, sementara ketergantungan pada energi fosil masih tinggi di Asia Tenggara.

Seberapa Besar Peran Energi Terbarukan untuk Mewujudkan Net Zero 2050

Energi terbarukan menjadi tulang punggung utama untuk menekan emisi. Dari studi tersebut ditegaskan bahwa peningkatan konsumsi energi bersih berbanding lurus dengan penurunan emisi COâ‚‚ secara signifikan.

Di Indonesia, potensi besar datang dari tenaga surya dan panas bumi. Namun, pemanfaatannya baru sekitar 12% sampai 16% dari total potensi nasional. Jika laju investasi dan kebijakan tidak dipercepat, pencapaian NZE 2060 bisa mundur hingga 2070.

Global pun menghadapi tantangan serupa. Transisi energi hijau membutuhkan integrasi lintas sektor, dari transportasi listrik, efisiensi industri, hingga manajemen limbah. Setiap keterlambatan berarti emisi tambahan yang sulit ditebus di masa depan.

Peran yang Bisa Dilakukan Masyarakat untuk Menjawab Tantangan Net Zero

Transisi menuju Net Zero Emission tidak hanya bergantung pada kebijakan negara dan investasi besar, tetapi juga pada perubahan perilaku individu. Langkah paling sederhana dimulai dari efisiensi energi. Mengurangi penggunaan listrik berlebih, memilih transportasi umum, dan beralih ke kendaraan listrik adalah bentuk kontribusi nyata. Di sisi lain, masyarakat dapat mempercepat adopsi energi bersih melalui penggunaan panel surya atap, meski dalam skala rumah tangga.

Perubahan pola konsumsi juga menjadi faktor penting. Mengurangi limbah makanan, membeli produk lokal, serta memilih barang dengan jejak karbon rendah dapat menekan emisi dari sektor produksi dan logistik. Gerakan kecil seperti urban farming atau daur ulang plastik, ketika dilakukan massal, memberikan dampak signifikan pada penurunan emisi kumulatif nasional.

Kesadaran publik untuk menuntut kebijakan hijau juga berperan. Partisipasi aktif dalam mendorong transparansi energi, mendukung bisnis berkelanjutan, dan mengedukasi lingkungan sekitar akan mempercepat transformasi sosial menuju ekonomi rendah karbon. Dengan kata lain, Net Zero bukan sekadar tugas pemerintah atau korporasi besar. Ia adalah tanggung jawab kolektif di mana tindakan kecil, bila dilakukan konsisten dan meluas, menjadi fondasi tercapainya nol emisi bersih sebelum 2050.

Manfaat Pencapaian Net Zero

1. Apa arti Net Zero 2050?

Net Zero 2050 berarti seluruh emisi karbon yang dihasilkan manusia diimbangi dengan upaya penyerapan atau kompensasi hingga total emisi bersihnya nol pada tahun 2050.

2. Mengapa penting mencapai Net Zero sebelum 2050?

Karena setiap tahun keterlambatan menambah risiko pemanasan global di atas 1,5°C, yang dapat memicu krisis pangan, air, dan migrasi iklim.

3. Apa perbedaan target Indonesia 2060 dengan global 2050?

Indonesia masih memberi waktu transisi lebih panjang karena keterbatasan teknologi dan pendanaan, sementara negara maju sudah mulai dekarbonisasi lebih awal.

4. Apa saja sektor yang paling sulit dikurangi emisinya?

Transportasi berat, industri semen, dan energi fosil adalah sektor paling sulit karena teknologinya masih mahal dan belum masif.

5. Bisakah dunia benar-benar capai Net Zero 2050?

Secara teknis bisa, tapi memerlukan tindakan cepat, pendanaan besar, dan kolaborasi global tanpa jeda kebijakan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6