Profil dr Tan Shot Yen, Ahli Gizi Lulusan Filsafat yang Kritik Tajam MBG di Rapat DPR

dr Tan Shot Yen heran menu MBG tidak menggunakan pangan lokal. Justru diisi burger hingga spageti.

Diterbitkan 26 September 2025, 14:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta- Ahli gizi komunitas, dr Tan Shot Yen mengkritik tajam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dia heran menu MBG tidak menggunakan pangan lokal. Justru diisi burger hingga spageti.

"Saya pengen anak Papua bisa makan ikan kuah asam, saya pengen anak Sulawesi bisa makan kapurung. Tapi yang terjadi, dari Lhoknga sampai dengan Papua yang dibagi adalah burger,” kata Tan dalam rapat bersama komisi IX DPR RI di Jakarta, Senin (22/9/2025).

Burger merupakan makanan yang berasal dari Amerika Serikat (AS). Namun, istilah hamburger pertama kali dikenal di Hamburg, Jerman.

Menurutnya, penggunaan menu seperti burger dan spageti dalam program MBG sangat tidak mencerminkan semangat kedaulatan pangan. Dia juga menyoroti kualitas bahan yang digunakan. Meski burger terlihat ‘fancy’ di pusat, dengan isian chicken katsu, namun di daerah kualitasnya bisa sangat berbeda.

"Maaf ya, itu isi burgernya kastanisasi juga. Kalau di pusat biar keliatan bagus pakai chicken katsu, tapi coba yang di daerah yang SPPG-nya juga agak sedikit main, dikasih itu loh, benda tipis berwarna pink,” ucapnya.

Dia bahkan menyindir rasa dan tampilan dari makanan tersebut yang menurutnya jauh dari layak.

“Saya aja enggak pernah mengatakan ini adalah daging olahan, saya aja nista bilang itu daging olahan, saya enggak tahu itu produk apaan. Itu rasanya kayak karton warnanya pink,” kata Tan.

Profil Tan Shot Yen

Tan Shot Yen lahir pada 17 September 1964. Dia memulai pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara dan menamatkannya pada tahun 1990.

Tak berhenti di situ, dia melanjutkan program profesi dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 1991.

Tan sempat memperdalam ilmu di luar negeri, termasuk dalam bidang instructional physiotherapy di Perth, Australia, serta mengambil diploma terkait Penyakit Menular dan HIV/AIDS dari Thailand.

Tak seperti dokter pada umumnya, Tan kemudian melanjutkan pendidikan filsafat. Dia menamatkan pendidikan pascasarjana di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara pada 2009.

Tak hanya dokter dan pegiat gizi, Tan juga dikenal sebagai penulis. Dia aktif mengisi seminar dan diskusi untuk menyuarakan pentingnya food literacy, kemandirian pangan, serta perlawanan terhadap dominasi makanan ultraprocessed dalam keseharian masyarakat Indonesia.

Makanan Dianggap Tan Shot Yen Tak Layak Masuk MBG

Tan Shot Yen menilai ada sejumlah menu dalam program MBG yang tidak hanya tak sesuai kebutuhan gizi anak, tapi juga berpotensi membahayakan kesehatan.

Salah satunya, dia menyinggung tentang keberadaan susu dalam menu MBG yang dinilainya tak lagi relevan secara nutrisi dan budaya konsumsi masyarakat Indonesia.

“Saya enggak tahu apakah anggota dewan yang terhormat masih ingat bahwa kita sudah lewat dari era 4 Sehat 5 Sempurna. Susu itu bukan komponen wajib kalau sudah ada protein hewani lain seperti telur, ikan, atau daging. Negara kita ini kaya sumber protein, kenapa harus tergantung susu?” ujarnya.

Dia juga menyinggung fakta bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya dari ras Melayu, secara genetik tidak cocok mengonsumsi susu karena rentan mengalami intoleransi laktosa. Namun yang lebih memprihatinkan, kata dia, bukan susu yang dibagikan melainkan minuman bergula yang sama sekali tidak memberikan manfaat gizi signifikan.

Dia juga mengungkap fakta mengejutkan terkait beberapa paket MBG yang berisi makanan ringan tak layak konsumsi anak-anak, seperti kacang goreng balut tepung.

"Ada menu kering yang dibagikan, kacang itu kan enggak masuk akal sama sekali, ada tulisannya mengandung aspartam, tidak cocok untuk balita dan ibu hamil,” katanya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6