3 Titik Aksi Demo Hari Ini Selasa 23 September 2025 di Jakpus

Ribuan personel gabungan Polri, TNI, dan Pemerintah Daerah atau Pemda DKI disiagakan untuk mengawal aksi unjuk rasa di Jakarta pada Selasa (23/9/2025).

Diperbarui 23 September 2025, 09:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ribuan personel gabungan Polri, TNI, dan Pemerintah Daerah atau Pemda DKI disiagakan untuk mengawal aksi unjuk rasa di Jakarta pada Selasa (23/9/2025). Konsentrasi massa terpantau di tiga titik.

Menurut data yang disampaikan Kasi Humas Polres Metro Jakpus Ipda Ruslan Basuki, Koalisi Nasional untuk Reforma Agraria akan berujuk rasa di depan Kementerian Kehutanan.

Apel gelar pasukan digelar sejak pukul 08.00 WIB. Tak cuma itu, berbagai elemen massa menggelar aksi demo di Silang Selatan Monas, Gambir. Apel gelar pasukan digelar mulai pukul 09.00 WIB.

Sementara itu pada 10.00 WIB, giliran mahasiswa yang menamakan diri Aliansi Mahasiswa Indonesia yang akan berujuk rasa di Taman Proklamator, Menteng.

Guna mengawal aksi ini, sebanyak 5.684 personel gabungan dari Polri, TNI, dan Pemda DKI dikerahkan.

"Kekuatan pengamanan wilayah Jakpus sebanyak 5.684 personel gabungan," kata Ruslan dalam keterangan tertulis, Selasa (23/9/2025).

Ruslan menegaskan, pengamanan akan dilakukan secara persuasif.

"Silakan berorasi dengan tertib, jangan memprovokasi, jangan melawan petugas, dan mari kita hindari tindakan seperti membakar ban, menutup jalan, atau merusak fasilitas umum," kata Ruslan.

Ruslan menambahkan, menyuarakan pendapat di muka umum adalah hak warga negara yang dijamin undang-undang. Namun harus dilakukan damai.

"Mari kita jaga suasana tetap kondusif agar pesan yang disampaikan bisa diterima dengan baik," tandas Ruslan.

 

Bedah Persepsi Publik, Median Sebut Kenaikan Gaji dan Tunjangan DPR Jadi Pemicu Utama Demo Rusuh

Sebelumnya, Median baru saja merilis hasil penelitian terkait demo berujung kerusuhan yang terjadi di beberapa kota di Indonesia pada akhir Agustus dan awal September silam.

Proses pengambilan data berlangsung pada 8-13 September 2025, menggunakan kuesoner berbasis google form yang disebar melalui media sosial Meta, dengan target pengguna aktif berusia 17-60 tahun. Form pertanyaan disebar di akun media sosial di seluruh provinsi di Indonesia, hasilnya terkumpul 643 responden.

Direktur Eksekutif Median Rico Marbun menjelaskan, saat ditanya apakah responden tahu terhadap aksi demonstrasi, mayoritas mengetahuinya.

Mayoritas responden yakni 85,8 persen mengetahui aksi demonstrasi itu, dan tidak tahu 14,2 persen," kata Rico dalam paparannya, Senin (22/9/2025).

Adapun sumber informasi responden tahu informasi demonstrasi tertinggi berasal dari Facebook 72 persen, Instagram 67,2 persen, Tiktok 61,4 persen, televisi 58,5 persen, dan Youtube 44,9 persen.

Sementara Responden menjawab tahu aksi unjuk rasa dari portal berita 35 persen, pembicaraan dengan teman 30 persen, X (twitter) 28,9 persen, dan melihat langsung 17,1 persen, dan radio 8,1 persen.

 

Responden

Rico juga memaparkan, saat responden ditanya terkait persepsi atas demostrasi, jawaban terbanyak adalah kerusuhan 26,9 persen, tolak kenaikan gaji DPR 17,1 persen, menyampaikan aspirasi 15,7 persen, dan tuntut keadilan korban ojol Affan Kurniawan 10,6 persen.

“Bubarkan DPR 5,3 persen, kekecewaan rakyat 5 persen, tuntutan 17+8 sebanyak 3,3 persen, jalanan macet juga 3,3 persen, dan aksi damai 2,8 persen," papar Rico.

Tidak ketinggalan, Median juga menanyakan ke responden apa yang memicu aksi demo berujung kerusuhan yang terjadi di beberapa kota di Indonesia. Tertinggi adalah kenaikan gaji dan tunjangan DPR 30,2 persen, perilaku arogan DPR 9,8 persen, tidak peduli rakyat 8,1 persen, kesulitan ekonomi 6,5 persen, serta kesenjangan ekonomi 4,2 persen.

"Pejabat korupsi dan kekecewaan rakyat ke DPR masing-masing 4 persen dan kinerja buruk 3,1 persen dan pejabat tidak empati 2,6 persen," kata Rico.

Sementara dari sisi sumber informasi, survei menunjukkan bahwa media sosial menjadi saluran utama yang membentuk kesadaran publik. Facebook (72,0 persen), Instagram (67,2 persen), dan TikTok (61,4 persen) menjadi tiga platform teratas yang paling banyak digunakan responden.

Meski begitu, media tradisional seperti televisi masih berperan penting (58,5 persen), diikuti oleh YouTube (44,9 persen) dan portal berita online (35,0 persen). Sementara itu, radio hanya digunakan oleh 8,1 persen responden sebagai sumber informasi terkait demonstrasi.

“Temuan ini menegaskan bahwa opini publik hari ini dibentuk secara dominan oleh informasi di media sosial. Namun, televisi dan media online masih menjadi referensi penting, terutama bagi kalangan yang lebih luas,” katanya menambahkan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6