Indonesia Masih Hadapi Beban Karies Tinggi, ICD Dorong Pemeriksaan Gigi hingga Desa Terpencil

Menurut Seno, keterlibatan organisasi profesi dokter gigi, termasuk ICD, sangat penting untuk memperluas pemeriksaan gigi hingga ke wilayah terpencil, desa, dan pulau terluar.

Diperbarui 12 September 2025, 20:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia masih menghadapi beban karies gigi yang tinggi. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, indeks DMF-T nasional pada kelompok dewasa mencapai 5,3–5,6. Artinya, rata-rata setiap orang Indonesia memiliki 5–6 gigi bermasalah, baik berlubang, sudah dicabut, maupun ditambal.

Ketua International College Dentists (ICD), Hananto Seno, menilai kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi target Indonesia Tanpa Karies 2030.

"Dengan data itu, target Indonesia tanpa karies 2030 harus diakui cukup berat. Pemerintah perlu bekerja sama dengan organisasi profesi untuk mencapainya,” ujar Seno dalam peringatan Hari Kesehatan Gigi dan Mulut, bekerja sama dengan Universitas Jayabaya, Pemerintah DKI, dan PDGI, Kamis (11/9/2025).

Menurut Seno, keterlibatan organisasi profesi dokter gigi, termasuk ICD, sangat penting untuk memperluas pemeriksaan gigi hingga ke wilayah terpencil, desa, dan pulau terluar. Upaya itu dinilai krusial untuk mendeteksi karies sejak dini.

"Program edukasi dan pencegahan sejak usia sangat dini, termasuk di sekolah, kampanye kesadaran tentang menyikat gigi dengan benar, pengurangan konsumsi gula, dan pemanfaatan fluor atau sealant jika memungkinkan. Ini yang kami lakukan hari ini,” jelas dia.

Seno mengingatkan, tingkat kepatuhan menyikat gigi dengan benar masih rendah. Data menunjukkan hanya sekitar 2,8 persen masyarakat Indonesia yang menyikat gigi dua kali sehari, setelah sarapan dan sebelum tidur.

"Tanpa keterlibatan aktif organisasi profesi, target bebas karies sulit tercapai, terutama bagi anak-anak dan kelompok masyarakat dengan akses layanan kesehatan terbatas,” tambahnya.

 

Perlu Dukungan Pemerintah

Ketua Yayasan Universitas Jayabaya, Moestar Putra Jaya, menegaskan perlunya dukungan pemerintah dalam bentuk kebijakan, pendanaan, serta kerja sama lintas organisasi dan universitas.

"Apabila pemeriksaan rutin diperluas hingga ke wilayah terkecil dan upaya pencegahan digenjot, target Indonesia Tanpa Karies 2030 memiliki peluang lebih realistis untuk tercapai,” ujarnya.

Moestar menambahkan, universitas juga harus terlibat langsung dalam kampanye kesehatan gigi.

"Universitas, termasuk Jayabaya, harus menjadi motor penggerak edukasi kesehatan gigi. Mahasiswa kedokteran gigi bisa dilibatkan langsung dalam program penyuluhan, riset lapangan, dan layanan bakti sosial. Dengan begitu, kampus tidak hanya menghasilkan dokter gigi berkualitas, tetapi juga ikut menurunkan angka karies secara nyata,” tegas dia.

Dalam acara bertema Generasi Kuat Indonesia, ratusan siswa sekolah dasar negeri di Jakarta Timur serta anak-anak dari Yayasan Solidaritas Difabel Indonesia mendapatkan edukasi dan pemeriksaan gigi gratis. Kegiatan ini melibatkan ICD, Ladokgi TNI AL, Brimob, dan Formula.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6