Gita Wirjawan Paparkan Kunci Transformasi Asia Tenggara, Dari Literasi hingga Energi

Eks Mendag Gita Wirjawan hadir sebagai salah satu narasumber dalam forum Meet the Leaders ke-6 di Universitas Paramadina.

Diperbarui 08 September 2025, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Asia Tenggara lemah narasi global, hanya 0,26% buku dunia bahas kawasan ini.
  • Pendidikan adalah fondasi perubahan, penting tingkatkan kualitas kepemimpinan.
  • Kesenjangan sosial-ekonomi dan infrastruktur energi jadi tantangan utama.

Liputan6.com, Jakarta Mantan Menteri Perdagangan (Mendag) RI Gita Irawan Wirjawan menjadi salah satu narasumber di forum Meet the Leaders ke-6 yang diselenggarakan di Auditorium Benny Subianto, Universitas Paramadina, Kampus Kuningan, Jakarta Selatan pada Kamis (4/9/2025).

Acara yang dipandu oleh Wijayanto Samirin ini mengangkat tema “What It Takes: Southeast Asia from Periphery to Core of Global Consciousness”, menyoroti tantangan sekaligus peluang Asia Tenggara dalam menempatkan diri sebagai pusat kesadaran global.

Pada kesempatan tersebut, Gita menyoroti tantangan Asia Tenggara dalam membangun narasi global. Dia menyebut, dari 140 juta buku yang terbit di seluruh dunia hanya 0,26% yang mengulas Asia Tenggara, meski kawasan ini dihuni lebih dari 700 juta penduduk. “Ini menunjukkan masih lemahnya kemampuan masyarakat Asia Tenggara dalam bercerita, menguasai literasi, dan numerasi” jelasnya.

 

Beberapa 'Kunci' Transformasi Asia Tenggara

Eks Mendag pada Kabinet Indonesia Bersatu II itu juga menekankan pentingnya pendidikan sebagai fondasi perubahan. Saat ini, 88% kepala keluarga dan 93% pemilih di Indonesia belum berpendidikan S1, sehingga investasi besar dalam pendidikan menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan dan politik.

“Guru memiliki peran sentral dalam menyuntikkan imajinasi, ambisi, serta keberuntungan yang lahir dari kerja keras. Inilah modal utama generasi muda untuk melangkah maju” tegas Gita.

Selain itu, Gita membahas tantangan kesenjangan sosial-ekonomi yang termanifestasi dalam empat bentuk: kekayaan, pendapatan, peluang, serta pertumbuhan ekonomi yang timpang antara kota besar dan daerah kecil.

Gita juga menekankan pentingnya akselerasi pembangunan infrastruktur, khususnya dalam sektor energi. Indonesia, misalnya, membutuhkan pembangunan 400 ribu megawatt listrik untuk menopang modernisasi. Namun, saat ini hanya mampu membangun 3.000–5.000 megawatt per tahun.

Perbandingan Capaian Tiongkok dan Negara di Asia Tenggara

Dalam konteks global, Gita membandingkan capaian Tiongkok dengan Asia Tenggara. Selama 30 tahun terakhir, GDP per kapita Tiongkok tumbuh 30 kali lipat, sementara Asia Tenggara hanya 2,7 kali lipat.

Hal ini terjadi karena Tiongkok berhasil menginvestasikan sumber daya pada pendidikan, infrastruktur, tata kelola (governance), daya saing, serta model politik-ekonomi yang memungkinkan independensi kota dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Menurut Gita, nasionalisme sejati tidak berhenti pada identitas, tetapi pada siapa yang mampu menikmati manfaat pembangunan. “Keterbukaan terhadap talenta, imajinasi, ambisi, serta keberuntungan yang dibentuk oleh kerja keras harus menjadi nilai utama generasi muda kita” tegasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6