Karir Sukses Arif Budimanta Semasa Hidup: dari Ekonom, Terjun ke Politik hingga Masuk ke Pemerintahan

Arif Budimanta meninggal dunia hari ini pukul 00.06 Wib.

Diperbarui 06 September 2025, 10:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Arif Budimanta Sebayang, yang lebih dikenal sebagai Arif Budimanta, meninggal pada Sabtu (6/9/2025) dini hari di Jakarta. Pria kelahiran Medan, 15 Maret 1968 ini tutup usia 57 tahun.

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Dengan penuh duka cita, kami mengabarkan bahwa ayah kami, Bapak Arif Budimanta, telah berpulang ke Rahmatullah pada hari ini, 6 September 2025, pukul 00.06 WIB di Jakarta," tulis informasi dari pihak keluarga, Sabtu (6/9/2025).

Sosok Arif Budimanta cukup tersohor di Tanah Air. Tak hanya memiliki peran di bidang ekonomi, Arif juga mendedikasikan dirinya di bidang politik Indonesia.

Semasa hidupnya, Arif dikenal sebagai salah satu ekonom handal yang dimiliki Indonesia. Dia juga pernah ditunjuk sebagai Staf Khusus Presiden atau Stafsus Jokowi yang membidangi ekonomi di periode kepemimpinannya. Tak hanya itu, Arif juga mendapatkan mandat sebagai Ketua Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata PP Muhammadiyah.

Sepanjang kariernya, Arif Budimanta berhasil membangun reputasi sebagai ekonom yang mampu mengintegrasikan teori dengan praktik kebijakan. Kemampuannya dalam menganalisis data ekonomi dan merumuskan solusi strategis menjadikannya rujukan penting bagi para pembuat kebijakan di Indonesia.

Fondasi Pendidikan yang Beragam

Perjalanan akademik Arif Budimanta dimulai dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Dia menamatkan pendidikan sarjana jurusan Ilmu Tanah pada tahun 1990. Kenudian, ia melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Indonesia dengan konsentrasi Ekonomi Sumber Daya Alam pada tahun 1996.

Pada tahun 2006, Arif meraih gelar Doktor dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, menandai transformasinya dari ahli ilmu tanah menjadi ekonom. Tidak berhenti sampai di situ, Arif kembali mengambil studi bidang keuangan di University of Chicago. Dia juga mengikuti Senior Executive Program di Harvard Business School. Berbagai ilmu yang ditekuni semakin memperkuat kredibilitas Arif di dunia ekonomi internasional.

Program ASEAN-ROK Next Generation Opinion Leaders yang diselenggarakan The Korea Foundation pada 2015 menjadi bukti pengakuan internasional terhadap kapasitas seorang Arif Budimanta. Kombinasi pendidikan formal dan informal yang dimilikinya menghasilkan perspektif holistik dalam memandang permasalahan ekonomi Indonesia.

Keberagaman latar belakang pendidikannya dari ilmu tanah hingga ekonomi memberikan keunikan tersendiri dalam pendekatan analisis ekonomi. Pemahaman mendalam tentang sumber daya alam Indonesia membuatnya mampu merumuskan kebijakan ekonomi yang berbasis pada potensi riil bangsa.

Kiprah Politik dan Legislatif

Tak hanya fokus di bidang ekonomi, Arif juga menjajal dunia politik. Arif bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Ia pernah menjabat sebagai Ketua DPP PDIP pada periode 2005 hingga 2010. Penunjukkan ini memperlihatkan kepercayaan partai terhadap kemampuan kepemimpinannya. Posisi strategis ini memungkinkannya untuk turut merumuskan arah kebijakan partai, khususnya di bidang ekonomi.

Pada periode 2009-2014, Arif terpilih sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dari Fraksi PDIP. Selama di DPR, ia duduk di komisi yang membidangi keuangan, moneter, perencanaan, dan pengawasan pembangunan. Peran legislatifnya menunjukkan komitmen dalam mengawal kebijakan publik dari sisi parlemen dengan fokus pada aspek ekonomi dan keuangan negara.

Sebagai Wakil Ketua Fraksi PDIP di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI dari 2009 hingga 2013, Arif turut berperan dalam proses pengambilan keputusan strategis bangsa. Posisi ini memberikannya platform untuk menyuarakan pemikiran ekonomi yang berpihak pada rakyat. Semasa berada di DPR, ia menggagas kaukus ekonomi konstitusi untuk memperjuangkan masuknya indikator kesejahteraan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bersama anggota DPR lintas fraksi.

Inisiatif kaukus ekonomi konstitusi menunjukkan visi progresif Arif dalam memastikan APBN tidak hanya fokus pada angka-angka makro, tetapi juga pada dampak riil terhadap kesejahteraan masyarakat. Pendekatan lintas fraksi yang ditempuhnya mencerminkan kemampuan membangun konsensus untuk kepentingan bangsa di atas kepentingan politik sempit.

Peran Strategis di Pemerintahan

Transisi Arif Budimanta dari legislatif ke eksekutif dimulai ketika ia menjabat sebagai Senior Advisor Menteri Keuangan pada 2014-2016. Posisi ini memungkinkannya untuk memberikan masukan strategis dalam perumusan kebijakan fiskal Indonesia. Pada periode yang sama, ia juga menjadi Tim Ahli Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan pada 2014-2019, menunjukkan keahliannya yang multidisiplin.

Pada tahun 2015-2020, Arif dipercaya menjadi Anggota Dewan Direktur Indonesia Eximbank, lembaga yang berperan penting dalam pembiayaan ekspor Indonesia. Pengalaman di sektor perbankan ini memperkaya pemahamannya tentang dinamika perdagangan internasional dan pembiayaan ekspor. Tahun 2016 menjadi tonggak penting ketika ia ditunjuk sebagai Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), badan yang dibentuk untuk mendukung kebijakan ekonomi dan industri Presiden Joko Widodo.

Puncak karier pemerintahannya tercapai pada 2019 ketika Presiden Joko Widodo memilihnya bersama 13 orang lainnya menjadi Staf Khusus Presiden. Arif ditugaskan khusus membantu memberikan masukan kepada Presiden di bidang ekonomi. Posisi ini menempatkannya sebagai salah satu penasihat ekonomi utama presiden dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi nasional dan global.

Selain peran di pemerintahan, Arif juga aktif sebagai Direktur Eksekutif Megawati Institute sejak 2008. Melalui lembaga ini, ia menggelar berbagai diskusi seputar ekonomi kerakyatan, ekonomi Pancasila, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), hingga industri keuangan dan kebijakan moneter. Perannya di Megawati Institute menunjukkan konsistensi dalam memperjuangkan ekonomi yang berpihak pada rakyat.

Kontribusi Pemikiran Ekonomi

Sebagai Wakil Ketua KEIN, salah satu output penting yang dihasilkan Arif adalah penyusunan peta jalan (roadmap) perekonomian Indonesia hingga tahun 2045. KEIN di bawah kepemimpinannya menggunakan Regional Growth Strategy untuk pembangunan daerah berdasarkan potensi sumber daya alam dan manusia. Pendekatan ini menunjukkan visi jangka panjang dalam membangun ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.

Berdasarkan kajian KEIN, Arif menjabarkan empat sektor unggulan yang dapat mengarahkan Indonesia menjadi negara industri, yaitu pertanian, maritim, pariwisata, dan industri kreatif. Ia menekankan pentingnya mekanisasi industri di sektor pertanian untuk efisiensi pasca-panen dan riset perbenihan. Identifikasi sektor unggulan ini menjadi acuan penting dalam perumusan kebijakan ekonomi nasional.

Fokus pada ekonomi kerakyatan dan Pancasila menjadi ciri khas pemikiran ekonomi Arif. Melalui berbagai forum dan diskusi, ia konsisten mempromosikan model ekonomi yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga pemerataan dan keadilan. Pemikirannya tentang ekonomi Pancasila menjadi alternatif model pembangunan yang sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia.

Kontribusinya dalam diskursus ekonomi global juga sangat diakui. Arif kerap menjadi pembicara dalam forum-forum internasional, membawa nama Indonesia di kancah global. Keahliannya dalam menganalisis data ekonomi dan merumuskan solusi menjadikannya rujukan penting tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional.

Karya Tulis dan Penghargaan

Sebagai seorang akademisi dan praktisi, Arif Budimanta sangat produktif dalam menghasilkan karya tulis. Beberapa bukunya antara lain "Indonesia Masa Kini dan Masa Depan dalam Membangun Kemandirian Indonesia" (1994), "Corporate Social Responsibility: Jawaban bagi Model Pembangunan di Indonesia Masa Kini" (2004), dan "Pancasilanomics: Jalan Keadilan dan Kemakmuran" (2019). Karya-karya ini mencerminkan evolusi pemikirannya dari pembangunan konvensional hingga ekonomi berkelanjutan.

Pada tahun 2022, ia berkontribusi dalam buku "Handbook of Research on Green, Circular, and Digital Economies as Tools for Recovery and Sustainability" dengan tulisan berjudul "Digital Economy Transformation in Nexus With External and Social Sustainability: The Indonesian Experience". Kontribusi ini menunjukkan pemahamannya yang mendalam tentang transformasi ekonomi digital dan keberlanjutan.

Pengakuan atas kontribusinya diwujudkan melalui berbagai penghargaan. Pada tahun 2019, Arif menerima penghargaan Bata Ilyas karena dinilai berkontribusi pada upaya penguatan posisi koperasi dalam sistem perekonomian Indonesia. Penghargaan ini mengakui perannya dalam memperkuat ekonomi kerakyatan melalui gerakan koperasi.

Puncak pengakuan diterimanya pada tahun 2024 ketika Presiden Jokowi menganugerahinya penghargaan Bintang Jasa Pratama. Penghargaan tertinggi ini menjadi bukti pengakuan negara atas dedikasi dan kontribusinya dalam membangun perekonomian Indonesia. Hingga akhir hayatnya, Arif tetap aktif sebagai pengajar pada program pascasarjana di Sekolah Muhammadiyah ITB Ahmad Dahlan dan Universitas Indonesia, serta rutin menjadi narasumber di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) dan Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP).

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6