Cuaca Ekstrem Masih Hantui Sejumlah Wilayah di Indonesia, Waspada Banjir hingga Longsor

Masyarakat di wilayah terkait juga diminta untuk menjauhi area terbuka, pohon, atau bangunan rapuh saat hujan deras berlangsung.

Diperbarui 20 Agustus 2025, 11:54 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • BMKG peringatkan potensi cuaca ekstrem 22-25 Agustus 2025 di Indonesia.
  • Beberapa wilayah berstatus waspada atau siaga hujan lebat dan angin kencang.
  • Kondisi atmosfer kompleks picu cuaca ekstrem, masyarakat diminta waspada.

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 22–25 Agustus 2025.

Cuaca di Indonesia pada periode tersebut secara umum cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang tetap perlu diwaspadai, khususnya di wilayah yang telah masuk kategori peringatan dini.

 

Wilayah Berstatus Waspada hingga Siaga

Adapun wilayah dengan status waspada meliputi Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua.

“Sementara itu, wilayah dengan status Siaga berpotensi hujan lebat terjadi di Sumatera Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan,” kata Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (20/8/2025).

Sementara itu, potensi angin kencang, diprediksi dapat terjadi di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua Selatan.

“Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak berupa pohon tumbang, gangguan transportasi, hingga kerusakan infrastruktur ringan,” ucap Andri.

Waspada Pohon Tumbang

Oleh sebab itu, masyarakat di wilayah terkait juga diminta untuk menjauhi area terbuka, pohon, atau bangunan rapuh saat hujan deras berlangsung.

Kemudian, masyarakat di sejumlah wilayah dari Jambi hingga Papua juga diimbau mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.

Penyebab Cuaca Ekstrem di Indonesia

Andri mengungkapkan, kondisi atmosfer dalam sepekan ke depan masih cukup aktif dan kompleks. Hal ini karena adanya faktor pemicu berupa nilai Dipole Mode negatif (-0,84) yang meningkatkan pasokan uap air di Samudra Hindia bagian barat Sumatera.

Ada pula faktor lain, yakni fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) fase 3 menuju fase 4, serta aktivitas gelombang tropis seperti Kelvin, Mixed Rossby-Gravity, dan Low Frequency.

“Selain itu, sirkulasi siklonik yang teridentifikasi di Samudra Hindia sebelah barat Sumatra turut memicu terbentuknya daerah konvergensi yang mendukung pertumbuhan awan hujan,” jelas Andri.

Kombinasi faktor-faktor ini lah yang diperkirakan meningkatkan potensi hujan sedang hingga lebat, angin kencang, serta gelombang laut tinggi di beberapa wilayah Indonesia. Dengan kondisi atmosfer yang masih aktif ini, maka masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem.

“Kewaspadaan dan kesiapsiagaan akan membantu mengurangi risiko kerugian maupun korban akibat bencana hidrometeorologi,” ucap Andri.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

  • liputan6
    BMKG adalah singkatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika yang berstatus Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPN).
    BMKG
  • Cuaca ekstrem merupakan suatu kondisi cuaca atau iklim yang terjadi pada waktu dan tempat tertentu yang sangat jarang terjadi.
    Cuaca ekstrem merupakan suatu kondisi cuaca atau iklim yang terjadi pada waktu dan tempat tertentu yang sangat jarang terjadi.
    Cuaca Ekstrem
  • Cuaca di Indonesia