[VIDEO] Didik Rachbini: Kenaikan BBM Bisa Picu Inflasi

"Harusnya ada kontrol dan kendali seperti harga beras dan kebutuhan pokok lainnya juga, jika tidak ingin terjadi inflasi," kata Didik.

Diterbitkan 14 Juni 2013, 18:28 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Pro dan kontra rencana pemerintah menaikkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan pemberian kompensasi kepada rakyat miskin terus terjadi di sejumlah daerah. Pemerintah beralasan pemberian subsidi BBM yang terus meningkat selama ini tidak tepat sasaran karena hanya menguntungkan orang kaya terutama pemilik mobil pribadi. 

Sementara pihak yang menentang menilai kenaikan BBM dan kompensasinya hanya menguntungkan partai penguasa jelang Pemilu 2014 mendatang. Ketidakpastian rencana kenaikan BBM itu, menimbulkan spekulasi. Pemerintah diminta menstabilkan harga barang pokok yang terus naik atau menghilang di pasaran sebelum dan sesudah harga BBM dinaikkan.

Dalam tayangan Liputan 6 Petang SCTV, Jumat (14/6/2013), pengamat ekonomi Didik J Rachbini mengaku khawatir inflasi yang terjadi saat ini bisa mencapai 25 persen jika pemerintah tidak bisa menstabilkan harga. Terlebih, kenaikan BBM dilakukan menjelang puasa dan lebaran di mana harga bahan pokok selalu naik.

"Harusnya ada kontrol dan kendali seperti harga beras dan kebutuhan pokok lainnya juga, jika tidak ingin terjadi inflasi. BBM tidak naik juga ada inflasi apalagi kalau naik (BBM dinaikkan)," kata mantan Cawagub DKI Jakarta itu.

Hingga saat ini memang belum dipastikan berapa persisnya kenaikan harga BBM. Namun sempat bergulir wacana, harga premium yang semula Rp 4.500 akan naik menjadi Rp 6.500 per liter.

Pemerintah berharap subsidi BBM seperti pembagian Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) sebesar Rp 150 ribu selama 4 bulan bisa membuat kestabilan harga bahan pokok terjaga. (Adi/Mut)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6