Terungkap! Ada Korban Lain Selain Prada Lucky, Begini Kondisinya Saat Ini

Sebanyak 20 orang prajurit TNI sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Diperbarui 11 Agustus 2025, 20:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • 20 prajurit TNI ditetapkan tersangka penganiayaan yang menewaskan Prada Lucky.
  • Satu junior lain juga dianiaya, namun kondisinya baik dan selamat.
  • Kadispenad tegaskan latihan harus keras sesuai teori, bukan kekerasan.

Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak 20 orang prajurit TNI ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan yang menewaskan Prada Lucky Chepril Saputra Namo.

Dalam pemeriksaan maraton yang terus dilakukan, ternyata ada satu junior lagi yang juga dianiaya.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Inf Wahyu Yudhayana.

"Memang ada (korban) satu lagi, tapi kondisinya baik. Seperti yang saya sampaikan tadi prajurit kan kondisinya beda-beda," kata Wahyu kepada wartawan di Gedung Mabes TNI AD, Jakarta, Senin (11/8).

Kondisi Fisik Tiap Prajurit Berbeda

Dia menjelaskan, proses pembiasaan dan pembinaan tentu dilakukan pada beberapa prajurit. Tetapi, kondisi kesehatan dan fisik daripada prajurit menjadi hal penting. Untuk kasus Prada Lucky, sedang didalami seperti apa penganiayaan dialaminya dan kondisi fisik korban sehingga yang bersangkutan meninggal dunia.

"Pada saat prajurit yang lain bagaimana perlakuannya, sehingga korban ini bisa tidak survive dan wafat," jelasnya.

Kejadian Berulang Kali

Menanggapi kejadian yang berulang, menurutnya karena ada beberapa hal yang memang tidak sesuai dengan ketentuan. Tetapi dia tidak menjelaskan detil ketidaksesuaian yang dimaksud. Dia hanya menekankan, seorang prajurit harus dilatih dengan keras tetapi bukan dengan kekerasan.

"Keras itu artinya sesuai dengan teorinya, sesuai dengan taktiknya, sesuai dengan buku petunjuknya, sesuai dengan metodenya. Sehingga membuat prajurit itu betul-betul memiliki kemampuan perorangan, maupun kemampuan tim yang baik, yang mendukung pelaksanaan tugasnya," tegasnya.

"Latihan harus dengan keras. Latihan keras itu bukan berarti kekerasan. Itu yang saya sampaikan," pungkasnya.

Reporter: Nur Habibie/merdeka.com

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6