Kompetisi Siswa SMA, SMK dan MA di Banten Merancang Solusi Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika

10 karya terbaik dari siswa SMA, SMK, dan MA di Provinsi Banten dalam merancang solusi Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM) atas tantangan lingkungan ditampilkan.

Diperbarui 10 Agustus 2025, 14:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - 10 karya terbaik dari siswa SMA, SMK, dan MA di Provinsi Banten dalam merancang solusi Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM) atas tantangan lingkungan ditampilkan dalam Green Innovation Camp 2025 uang diselenggarakan Prestasi Junior Indonesia (PJI) bersama ExxonMobil Indonesia (ExxonMobil).

Kompetisi final ini menjadi puncak dari rangkaian program edukasi selama lima bulan yang telah membekali 444 siswa dari 61 sekolah dengan kemampuan abad ke-21 sekaligus kesadaran terhadap pembangunan berkelanjutan.

"Mereka mengikuti rangkaian pembelajaran yang mencakup lokakarya design thinking, penyusunan ide proyek, sesi konsultasi bersama mentor profesional dari ExxonMobil dan PJI, serta pengembangan prototipe solusi," ujar Chairman of the Executive Board Prestasi Junior Indonesia Pribadi Setiyanto melalui keterangan tertulis, Sabtu (9/8/2025).

Dia mengatakan, dari 77 proposal yang masuk, 27 tim terpilih ke tahap semifinal, dan 10 tim terbaik akhirnya mempresentasikan inovasi mereka di hadapan dewan juri.

"Sejalan dengan semangat kurikulum nasional, para guru turut berperan sebagai fasilitator pembelajaran berbasis proyek yang membuka ruang eksplorasi dan penerapan teknologi secara nyata dan kontekstual di ruang kelas," ucap Pribadi.

Dia menekankan pentingnya pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

"Green Innovation Camp membekali generasi muda dengan kemampuan berpikir kritis, berinovasi, dan peduli terhadap keberlanjutan. Pendidikan yang bermakna tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga menghubungkan ilmu pengetahuan dengan realita," kata Pribadi.

"Melalui program ini, siswa, guru, dan mitra industri berkolaborasi menciptakan solusi nyata atas tantangan lingkungan di sekitar mereka," sambung dia.

 

Keberlanjutan dan Isu Lingkungan

Pribadi menjelaskan, menurut Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum, pemahaman tentang keberlanjutan dan isu lingkungan kini masuk dalam daftar 10 besar keterampilan yang paling dibutuhkan di dunia kerja.

"Laporan ini juga memproyeksikan munculnya 170 juta pekerjaan baru hingga tahun 2030, ditengah pergeseran signifikan akibat otomatisasi dan kecerdasan buatan yang akan menggantikan 92 juta pekerjaan lama," kata dia.

"Temuan ini menegaskan bahwa masa depan dunia kerja tidak hanya menuntut penguasaan teknologi, tetapi juga kesadaran lingkungan dan kemampuan untuk berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan," sambung Pribadi.

Sementara itu, Consumer Manager PT ExxonMobil Lubricants Indonesia (PT EMLI) Fiksi Sastrakencana mengungkapkan, Green Innovation Camp 2025 ini adalah indikasi bentuk dukungan ExxonMobil terhadap program pemerintah dalam bidang pendidikan khususnya di wilayah operasi kami di Provinsi Banten.

"Harapan kami, program ini dapat mengembangkan pemikiran kritis dan meningkatkan kemampuan inovatif pelajar dibidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM)," kata Fiksi.

 

Dukungan Pemprov Banten

Kemudian, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten Lukman menyampaikan apresiasinya atas penyelenggaraan program ini.

"Green Innovation Camp menjadi wadah pembelajaran yang sangat relevan dengan arah transformasi pendidikan di Indonesia," kata dia.

"Pendekatan berbasis proyek dan kolaborasi dengan dunia industri mendorong siswa untuk mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan dimasa depan. Kami berharap program seperti ini dapat diperluas sehingga menjangkau lebih banyak sekolah dan membuka peluang inovasi baru dari pelajar Banten," sambung Lukman.

Dari final kompetisi ini, enam tim terbaik mendapatkan penghargaan dengan total hadiah sebesar Rp30 juta dari ExxonMobil sebagai bentuk apresiasi atas semangat inovasi dan dedikasi mereka.

Green Innovation Camp bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang belajar yang mendorong generasi muda untuk berpikir kritis, bekerja kolaboratif, dan menghadirkan solusi yang selaras dengan keberlanjutan.

Program ini juga menjadi wujud nyata kontribusi dunia usaha dalam memperkuat kesiapan kerja generasi muda di tengah perubahan pasar tenaga kerja yang makin dinamis.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6