SBY: Urusan Perubahan Iklim Harus Dipandu Sains, Bukan Kepentingan Politik

SBY menjelaskan, hari ini dunia dihadapkan pada perang krisis iklim yang jauh lebih besar dan berskala global.

Diterbitkan 30 Juli 2025, 16:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden RI keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyebut, bahwa saat ini dunia tengah menghadapi tantangan krisis iklim. Menurut SBY, cara pemerintah menangani krisis iklim menjadi penentu arah peradaban ke depan.

“Kita tahu bahwa dalam sejarah, banyak peradaban besar yang runtuh karena kegagalan mengelola lingkungan hidup dan sumber daya alamnya,” kata SBY dalam Pidato Kebangsaannya soal gejala “The World Disorder and The Future of Our Civilization” yang digelar Institut Peradaban di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Rabu (30/7/2025).

SBY menjelaskan, hari ini dunia dihadapkan pada perang krisis iklim yang jauh lebih besar dan berskala global. “Not only climate change, tapi juga climate crisis,” ujar SBY.

Suhu bumi, lanjutnya telah meningkat 1,1 derajat celcius dibandingkan era praindustri. Kadar CO2 pun telah meningkat tajam sebesar 2,8 part per million (PPM) hanya dalam waktu setahun.

“Sisa kuota karbon dunia tinggal 200 gigaton yang bisa habis dalam satu dekade, dalam waktu 10 tahun jika tidak ditekan secara drastis,” ungkapnya.

 

Dampak Besar

SBY bilang, apabila krisis iklim ini gagal diatasi, termasuk oleh Indonesia, maka bukan hanya satu bangsa atau satu wilayah yang akan terdampak, tetapi seluruh umat manusia. Hasilnya, kata dia akan terjadi bencana sistemik, kekeringan panjang, kenaikan air laut, krisis pangan, dan migrasi besar-besaran.

“If we fail untuk membuat dunia sebelum tahun 2060, jika kita gagal membuat Indonesia 10 tahun 2060 menjadi net zero world, net zero Indonesia, selebihnya gelap. Ini real, bukan fiksi,” kata SBY.

Oleh karenanya, SBY menekankan mengatasi segala urusan iklim, para politisi harus percaya kepada ahlinya, yakni para ilmuan. Persoalan iklim, kata dia tidak bisa diselesaikan oleh kepentingan politik.

“Politisi harus percaya kepada saintis. Urusan climate change must be guided by science, not by politics,” ujar dia.

 

Dunia Harus Bersatu

Ia menyebut, jika dunia bersatu untuk transisi energi bersih, mewujudkan restorasi ekosistem, ekonomi hijau, dan pembangunan berkelanjutan, maka Indonesia bakal bisa ikut serta untuk menyelamatkan peradaban dari kehancuran ekologis.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6