CCTV Ungkap ADP Sempat Lakukan Percobaan Ini Sebelum Ditemukan Tewas

Polisi mengungkap hasil rekaman CCTV yang memperlihatkan jejak terakhir hidup Arya Daru Pangayunan atau ADP (39), diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu) yang ditemukan tewas dengan kepala terlilit lakban di indekosnya.

Diterbitkan 30 Juli 2025, 01:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Polisi mengungkap hasil rekaman CCTV yang memperlihatkan jejak terakhir hidup Arya Daru Pangayunan atau ADP (39), diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu) yang ditemukan tewas dengan kepala terlilit lakban di indekosnya. ADP sempat terlihat berada di lantai 12 kantor Kemlu.

Di sana, ADP menghabiskan waktu selama kurang lebih 1 jam 26 menit sebelum ditemukan tewas di kos Guest House Gondia, Jalan Gondangdia Kecil, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (8/7/2025).

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Wira Satya Triputra, menjelaskan seluruh pergerakan ADP terekam CCTV.

"Di sana ada beberapa event kegiatan yang terekam di CCTV dan itu sudah dilakukan pemeriksaan oleh pihak digital," kata Wira dalam konferensi pers, Selasa (29/7/2025).

Dalam rekaman tersebut, korban terlihat dua kali mencoba menaiki pagar pembatas setinggi 150 sentimeter.

"Percobaan pertama sampai sebatas ketiak ini disudut sebelah sini. Di bawahnya adalah lantai rooftop lantai 11 dan ke bawah, itu sampai di ketiak," ucap Wira.

Wira mengatakan, korban juga terlihat melakukan percobaan kedua. Kali ini korban berpindah posisi ke bagian depan, dan tubuhnya naik hingga di atas pusar. "Itu terekam semua, filenya ada lengkap," kata dia.

Sebelumnya, jenazah Arya Daru Pangayunan dengan kepala terlilit lakban ditemukan di dalam kamar kos Guest House Gondia, Jalan Gondangdia Kecil, Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa (8/7/2025).

Penemuan jasad diplomat muda Kemlu itu berawal dari kecurigaan istrinya yang tak kunjung mendapatkan kabar sang suami. Istri Arya Daru lalu meminta penjaga kos untuk memeriksa kamar korban.

Diplomat Kemlu ADP Cari Cara Bunuh Diri, Kalau Lihat Gedung Ingin Lompat

Polisi mengungkap isi email Yahoo yang dikirimkan diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arya Daru Pangayunan ke badan yang melayani orang-orang tertekan dan memiliki keinginan bunuh diri.

"Kami jelaskan bahwa yang kami lakukan dengan beberapa pencarian terkait bunuh diri, itu kami temukan di akun yahoo-nya yang dikirim dari tahun 2013 sebanyak 11 segmen," kata Anggota tim digital forensik Dit Ressiber Polda Metro Jaya, Ipda Saji Purwanto saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Selasa (29/7/2025).

"Di tahun 2021 itu, 9 segmen ke salah satu badan yang menyediakan layanan dukungan emosional rahasia bagi orang yang merasa tertekan dan putus asa dan termasuk yang dapat menimbulkan bunuh diri," ujar dia.

Meski begitu, Saji menegaskan bahwa tidak ada pencarian terkait dengan bunuh diri dengan cara membungkus atau melilit kepala dengan lakban.

"Nah yang dicari apakah ada pencarian atau keyword lakban atau dibungkus kepalanya, saya katakan itu tidak ada, tapi diinformasi di email pada 2021," ujar Saji.

Dari sembilan segmen yang ditemukan, ternyata ada temuan bahwa ada keinginan dari diplomat Kemlu Arya Daru untuk bunuh diri dengan cara melompat bila melihat gedung.

"Pada intinya dari sembilan segmen itu bahwa korban ini sedang bercerita, ketika melihat gedung ini ingin mencari cara untuk loncat dari atas. Kemudian kalau melihat pantai ingin menenggelamkan diri intinya seperti itu," pungkasnya.

Temuan Psikologi Forensik: Isu Kesehatan Mental di Balik Kematian Arya Daru

Ketua Umum Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (Apsifor), Nathanael E. J. Sumampouw menguak temuan lain. Sebelum tewas, Arya Daru Pangayunan (ADP) sempat mengakses layanan kesehatan mental secara daring. Hal itu dilakukan pada 2021 lalu.

"Kami menemukan bahwa pada almarhum ada upaya di mana almarhum berusaha mengakses layanan kesehatan mental secara daring. Terakhir kali dari data-data yang dihimpun kami melihat sekitar tahun 2021. Awalnya dari data yang dihimpun di tahun 2013," jelas Nathanael dalam konferensi pers, Selasa (29/7/2025).

Nathanael menjelaskan, ADP memiliki karakter positif seperti pekerja keras, suportif, bertanggung jawab, dan peduli terhadap lingkungannya. Namun, Arya Daru kesulitan mengekspresikan emosi negatif, terutama dalam situasi tekanan yang tinggi.

"Tekanan tersebut dihayati secara mendalam sehingga mempengaruhi bagaimana almarhum memandang dirinya, memandang lingkungan, dan memandang masa depan," kata Nathanael.

Menurut dia, Arya Daru selalu berusaha menginternalisasi berbagai emosi yang dirasakan dan berupaya untuk tidak menunjukkannya di depan orang lain. Beban itu dipikul Arya Daru di tengah beratnya tanggung jawab sebagai pekerja kemanusiaan.

Metode Berlapis untuk Ungkap Kepribadian Arya Daru

Nathanael menjelaskan, temuan kondisi Arya Daru tersebut ditelusuri oleh tim khusus yang terdiri dari tujuh psikolog berpengalaman dalam pemeriksaan forensik, khususnya menggunakan pendekatan autopsi psikologis.

"Autopsi psikologis adalah proses evaluasi terhadap individu yang telah meninggal untuk memahami dinamika psikososial yang mungkin berkontribusi pada kematiannya," ujar Nathanael.

Tim Apsifor menggunakan metode berlapis, mulai dari wawancara mendalam dengan keluarga, kolega, hingga atasan almarhum. Kemudian, penelaahan dokumen pribadi dan profesional, hingga sinkronisasi informasi dengan temuan kepolisian. Tujuannya membangun gambaran utuh soal kondisi psikologis almarhum.

Nathanael menyebut, proses ini dilakukan dengan menjunjung pendekatan trauma informed care penuh empati dan kesadaran bahwa para informan tengah berduka.

"Kami sangat berhati-hati dan menjunjung tinggi etika profesi," tegas Nathanael.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6