Sukses

Fariz RM Setelah Seperempat Abad

Liputan6.com, Jakarta: Jika menengok ke blantika musik Indonesia di zaman `80-an, pastilah Fariz RM termasuk satu di antara nama yang tak terlupakan. Sampai sekarang pun lagu-lagunya masih menggema memeriahkan musik Tanah Air. Sebut saja "Nada Kasih", "Barcelona", dan "Panggung Perak". Bahkan beberapa tembang itu dinyanyikan ulang oleh sejumlah musisi generasi muda. Beberapa tahun tak kelihatan, ternyata sang legendaris jazz kelahiran 44 tahun silam ini sibuk menggarap musik di belakang panggung. Hingga akhirnya dorongan sejumlah teman musisi menggugahnya untuk bangkit kembali. Maka muncullah ide konser bertajuk "25 Tahun Fariz RM Berkarya", yang kelahirannya tinggal menunggu hari, tepatnya 21 Agustus 2003 di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta Selatan.

Konser ini benar-benar disiapkan secara matang oleh Fariz dan kru. Antara lain dengan riset mendalam soal keinginan penggemar Fariz setelah lama vakum. Hasilnya, sebuah tontonan penuh gaya "Fariz" dijamin akan memuaskan kehausan penonton yang rindu melihat sang seniman yang kini berbadan sangat kurus ini. "Sekaligus memuaskan kehausan saya bermusik dan menemui penggemar," balas Fariz saat diwawancarai Alfito Deannova di Studio SCTV, Jakarta, Ahad (17/8) pagi.

Menurut Fariz, keseluruhan konsernya akan menampilkan musik Fariz dalam nuansa soundtrack film. Sesuai perjalanan musik dan lagu-lagu Fariz yang banyak dipakai sebagai pengiring sinema, antara lain "Badai Pasti Berlalu", "Sakura dalam Pelukan", dan "Cinta di Balik Noda". Musisi yang sudah mengenal not balok sejak kecil ini juga akan menampilkan keahlian bermusiknya yang lain yakni memetik bass dan menabuh drum. "Supaya mereka [penonton] bisa melihat saya secara original. Seperti layaknya melihat Fariz dulu," ujar Fariz berpromosi.

Dan yang tak kalah unik, Fariz tak akan menonjolkan koreografer tari seperti konser-konser musik sukses penyanyi-penyanyi sebelumnya. Kelahiran 5 Januari ini bakal menyuguhkan tayangan multimedia lengkap dengan laser, animasi, dan efek-efek tekno. Bahkan, lobi masuk ke ruangan konser juga akan dihiasai dengan galeri seni berupa lukisan-lukisan karya Fariz. "Referensinya saya ammbil dari konser Pink Floyd" jelas dia.

Sebelum benar-benar manggung, Fariz juga sudah mencoba menjajaki kemampuannya lagi lewat tampilan di acara "Laris Manis" SCTV. Bahkan dia juga menjadi bintang tamu dalam konser Chrisye berjudul "Dekade". "Saya juga sempat manggung di Hard Rock [Cafe]. Dan kaget lihat anak-anak muda bisa nyanyiin lagu saya," ucap bernama lengkap Fariz Roestam Moenaf ini.

Fariz sadar betul dia memerlukan jembatan agar musiknya bisa berinteraksi dengan jiwa muda anak zaman sekarang. Karena itu, digandenglah musisi generasi sekarang pada konsernya nanti. Antara lain Reza, Yovie Widianto, /rif, dan mantan penyanyi cilik Sherina. "Tadinya Dewa juga ikut, tapi batal karena mereka harus konser ke Jepang," beber Fariz panjang lebar. Sedangkan musisi yang digaet antara lain Eet Sjaharanie, Musya Joenes, Mus Mujiono, serta Hendri Lamiri. "Saya jamin konser ini memuaskan orang yang mau bernostalgia," ungkap suami Oneng Diana Riyadini ini antusias.

Menurut rencana, konser ini juga akan dilanjutkan ke beberapa daerah. Namun belum ditentukan tanggalnya karena masih terhambat situasi politik menjelang Pemilihan Umum 2004, serta kemanan yang belum terjamin. Kejutan baru pun telah disiapkan Fariz bagi para penggemarnya. "Saya sedang menyiapkan album baru," kata dia.

Fariz pertama kali mengenal musik lewat ibunya yang pandai memainkan piano. Alat musik itu dia pelajari sejak berusia delapan tahun lewat seorang pianis bernama Sunarto Sunaryo. Selain itu, ia juga belajar dari Charlotte Sutrisno yang juga adalah guru dari ibunya.

Pada usia 12-13 tahun, Fariz berteman dengan Debby dan Odink Nasution, yang pada saat itu sudah membentuk Young Gipsy dengan membawakan musik blues dan rock. Melihat bakat dan keseriusan Fariz dalam bermusik inilah yang membuat Keenan Nasution pun berhasrat untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan Fariz dalam bermusik. Hal semacam inilah yang dikemudian hari mempertebal pribadi musik dari Fariz RM.

Berbekal fondasi yang mulai terbentuk pada musik dan keinginan serta kemauan akan ciptaan sendiri, saat duduk di bangku SMA Negeri 3 Jakarta, 1975, Fariz bekerja sama dengan Addie MS, Adjie Soetama, dan Iman RN. Mereka membuat operet pada acara perpisahan dan vokal grup sekolahnya. Kemudian bersama teman-teman di bawah naungan Vokal Group SMA 3 Fariz berangkat ke ajang "Lomba Cipta Lagu Remaja" yang diadakan Radio Prambors. Fariz dan teman-temannya waktu itu melantunkan lagu "Angin", "Di malam Sang Sukma Datang", dan "Akhir Sebuah Opera". Hasilnya tak mengecewakan, mereka berhasil menggondol Juara III.

Dari situ, Fariz menuju tonggak awal tampil di panggung musik dan terlibat dalam beberapa grup band. Pada 1977 Fariz mendapat tawaran untuk mengisi posisi drumer di grup Badai Band, dan menghasilkan album monumental untuk ilustrasi musik pada film layar lebar "Badai Pasti Berlalu".

Selepas SMA pada 1978, Fariz masuk Institut Teknologi Bandung jurusan Seni Rupa. Sambil kuliah, Fariz pun kesibukan dengan kegiatan bermusik. Fariz terlibat dalam pembuatan lagu dan pergelaran musik Keenan Nasution bertajuk "Negeriku Cintaku" yang merupakan visualisasi dari album perdana Keenan berjudul "Di Batas Angan-angan". Dalam kesempatan inilah Fariz semakin menambah pengalaman dan ilmu musiknya. Masih di tahun itu, Fariz kembali mencoba membantu, mengembangkan dan menimba ilmu serta menambah pengalaman untuk dua grup band beraliran rock, Giant Step dan The Rollies.

Di Giant Step, Fariz bertindak sebagai musisi pengganti untuk dua orang, kibordis Giant Step untuk penampilan panggung, yaitu Triawan Moenaf dan Erwin Badudu. Sedangkan di The Rollies, Fariz menggantikan posisi Jimmy Manopo pada dram untuk karya-karya pentas.

Pada 1979, Fariz mendapat kesempatan untuk membantu mengiringi kelompok musik dari Bandung pimpinan Harry Roesly, Harry Roesli Kharisma. Kali ini, Fariz lebih banyak tampil atau terlibat pada karya-karya pentas. Tak berapa lama, Fariz lalu mencoba merilis album perdananya yang bertajuk "Selangkah ke Seberang". Sayang, album tersebut tidak jadi dirilis. Fariz kemudian sempat mencoba menjadi seorang sutradara musik atau penata musik seorang penyanyi Indonesia, Harry Dea di albumnya, "Santun Petaka".

Setelah terlibat di berbagai grup band, akhirnya Fariz membuat album kedua dengan judul "Sakura", 1980. Sukses album kedua ini lalu diikuti dengan dirilisnya album perdana Fariz yang belum sempat dirilis. Lagu Sakura pulalah yang kemudian menjadi ilustrasi film drama berjudul "Sakura dalam Pelukan", produksi Diwandida Film. Sekali lagi, Fariz kembali mencoba bertindak sebagai sutradara musik atau penata musik untuk beberapa penyanyi terbaik Indonesia, di antaranya Delly Rollies (album "Kau") dan Emilia Contessa (album "Andhika").

Pada 1981, Fariz bergabung dalam group Transs dan menghasilkan album berjudul "Hotel San Vicente". Meskipun Fariz tergabung atau terlibat pada beberapa grup band, namun dia masih tetap meneruskan karir solonya dan merilis album "Panggung Perak". Setahun kemudian, Fariz kembali hadir lewat album baru, "Peristiwa 77-81" yang menjadi kumpulan lagu-lagu Fariz sejak 1977 hingga 1981.

Setelah itu, Fariz masih tetap aktif dibeberapa grup band, macam Symphony yang menghasilkan album "Trapesium". Di tahun yang sama, Fariz juga hadir di group Wow! dan merilis album "Produk Hijau", 1983. Di tengah kesibukannya sebagai produser, pencipta dan ilustrator, Fariz kembali menyempatkan diri terlibat di sebuah grup bernama Gif yang hanya lebih banyak tampil untuk pementasan dan mencoba sesuatu yang lain dalam bermusik dan tidak merilis album.

Setelah melepas album "Rasta", 1983, Fariz bergabung menjadi staf pengajar di Forum Musik Jack dan Indra Lesmana dan menggarap ilustrasi musik untuk film "Cinta di Balik Noda" produksi Virgo Film. Setelah sempat membentuk band Jakarta Rythm Section yang menghasilkan album "Reinkarnasi", 1984, kegiatan Fariz mulai berkurang. Ia sempat menjabat sebagai Broadcast Production Manager di Radio Elshinta sebelum merilis album "Peristiwa 81-84".(MTA)