Kemarau Basah Landa Indonesia hingga Agustus 2025, Bagaimana Antisipasinya?

BMKG memprediksi kemarau basah akan melanda Indonesia hingga Agustus 2025, sebuah fenomena cuaca tidak biasa yang perlu diwaspadai dampak buruknya.

Diperbarui 30 Mei 2025, 08:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia tengah menghadapi fenomena cuaca yang tidak biasa, yaitu kemarau basah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi ini akan berlangsung hingga akhir Agustus 2025. Apa sebenarnya kemarau basah itu, dan mengapa hal ini bisa terjadi di Indonesia?

Kemarau basah adalah kondisi anomali cuaca di mana musim kemarau yang seharusnya kering dan panas justru diwarnai dengan curah hujan yang tinggi. Fenomena ini berlawanan dengan musim kemarau normal yang bercuaca panas dan udara kering. Bahkan, intensitas hujan selama kemarau basah bisa melebihi 100 milimeter per bulan.

Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa kemarau basah merupakan fenomena cuaca yang tidak biasa. Masyarakat perlu mewaspadai dampak yang mungkin ditimbulkan akibat kemarau basah ini.

Penyebab Terjadinya Kemarau Basah

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa kemarau basah disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor, baik lokal maupun global. Faktor-faktor ini mempengaruhi dinamika atmosfer di wilayah Indonesia, sehingga menyebabkan curah hujan tetap tinggi meski sedang musim kemarau.

Salah satu faktor dominan adalah meningkatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia. Suhu yang lebih hangat meningkatkan penguapan air laut, sehingga memperbesar peluang terbentuknya awan konvektif yang berujung pada hujan. Selain itu, fenomena global seperti El Nino dan La Nina juga turut memengaruhi.

Saat ini, Indonesia juga berada dalam masa peralihan atau pancaroba dari musim hujan ke musim kemarau. Pada periode ini, cuaca cenderung tidak menentu, dengan pagi hingga siang hari relatif cerah berawan, namun berubah menjadi hujan disertai petir pada sore hingga malam hari.

Dampak Kemarau Basah yang Perlu Diwaspadai

Meskipun terlihat seperti berkah karena curah hujan tetap tinggi, kemarau basah dapat menimbulkan dampak yang signifikan pada berbagai sektor. Salah satu dampak yang paling terasa adalah potensi terjadinya banjir dan tanah longsor. Curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan sungai meluap dan tanah menjadi labil.

Selain itu, kemarau basah juga dapat memengaruhi sektor pertanian. Perubahan pola tanam dan hasil panen dapat terjadi akibat curah hujan yang tidak menentu. Beberapa jenis tanaman mungkin tidak dapat tumbuh dengan baik dalam kondisi terlalu lembap.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem selama periode kemarau basah. Masyarakat juga diminta untuk memantau prakiraan cuaca secara berkala melalui kanal resmi BMKG.

Antisipasi dan Mitigasi Dampak Kemarau Basah

Menghadapi potensi dampak negatif dari kemarau basah, langkah-langkah antisipasi dan mitigasi perlu dilakukan. Pemerintah daerah dan masyarakat perlu bersinergi untuk menjaga ketahanan pangan, keselamatan, serta keberlangsungan aktivitas ekonomi.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Memperkuat sistem drainase untuk mencegah banjir.
  • Melakukan pemantauan dan peringatan dini terhadap potensi tanah longsor.
  • Menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca yang ada.
  • Menjaga kesehatan dengan melindungi diri dari paparan sinar matahari dan mencukupi asupan cairan tubuh.

Kemarau basah menjadi salah satu indikasi bahwa perubahan iklim global telah mengubah pola cuaca secara signifikan. Oleh karena itu, adaptasi dan mitigasi perlu terus ditingkatkan untuk mengurangi dampak negatif terhadap berbagai sektor.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6