Program Dana Indonesiana Dorong Pengembangan Kajian Warisan Budaya oleh BWCF

Seno mengatakan dengan bantuan dana Indonesiana sangat bermanfaat untuk meningkatkan format acara yang semula hanya dilaksanakan di kawasan Borobudur tapi sekarang sudah menjadi urban festival.

Diterbitkan 06 Mei 2025, 02:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) adalah wahana pertemuan bagi para penulis baik fiksi dan non fiksi, para pekerja kreatif, aktivis budaya dan keagamaan lintas iman yang diselenggarakan tiap tahun. Festival ini sudah didirikan sejak 2012 yakni saat ini sudah berusia 14 tahun.

Pendiri BWCF Seno Joko Suyono mengatakan keberlangsungan acara festival tersebut juga dibantu oleh program Dana Indonesiana yang diberikan selama tiga tahun terakhir. Ia mengatakan dengan bantuan dana tersebut sangat bermanfaat untuk meningkatkan format acara yang semula hanya dilaksanakan di kawasan Borobudur, tapi sekarang sudah menjadi urban festival.

“Kami mendapat bantuan selama 3 tahun terakhir ini. Jadi, dari mulai tahun 2022, tahun 2023, dan tahun 2024. Nah, dukungan ini sangat bermanfaat dan sangat berguna sekali bagi kami, terutama untuk membangunkan program-program kami. Jadi, dengan Dana Indonesiana ini, kami sampai mengubah format festival kami dari semula tahun 2012, festival ini hanya diselenggarakan di kawasan Borobudur. Dengan dana Indonesia ini, kami mengubah menjadi BWCF dari sebuah urban festival atau festival yang bergerak dari kota-kota yang memiliki heritage atau situs-situs yang menarik,” kata Seno dalam peluncuran program Dana Indonesiana 2025 di Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Senin (5/5/2025).

Dia menjelaskan dengan Dana Indonesiana, BWCF dapat mengembangkan program lainnya bukan hanya festival tapi juga mengembangkan program yang mendukung warisan (heritage) budaya Indonesia. Program ini juga bertujuan untuk mengkaji dan memperkenalkan lebih dalam suatu warisan sebuah kota di Indonesia.

“Misalnya, kami memiliki satu program yang disebut Workshop Juralisme Heritage. Jadi, setiap tahun kami dari kota ke kota yang memiliki Heritage. Kami mengundang para wartawan, mengundang para peneliti, mengundang para mereka yang berminat pada kajian heritage untuk mengkaji sebuah situs atau mengkaji sebuah kota dan bagaimana cara menuliskannya,” jelasnya.

 

Program Workshop Juralisme Heritage

Program Workshop Juralisme Heritage akan direalisasikan di Lasem, Jawa Tengah pada bulan Juni mendatang. Seno mengatakan akan mengundang para pakar dan wartawan untuk menghadiri kegiatan tersebut.

“Jadi, bulan depan Juni, misalnya kami menyelenggarakan Workshop Juralisme Heritage di Lasem. Kita tahu Lasem ini mempunyai lapis-lapis sejarah yang saling silang menyilang dan menarik sekali untuk dikaji. Dan kita akan mengundang banyak pakar dan wartawan untuk melakukan Workshop di Lasem bulan depan,” ujarnya.

Selain itu, ada program lain yang dikembangkan saat menerima bantuan program Dana Indonesiana yaitu menyelenggarakan program Borobudur Forum Meditation. Program ini mengundang praktisi meditasi se-Asia Tenggara.

“Lalu program lain yang juga baru yang kami kembangkan ketika (menerima Dana Indonesiana) adalah program Borobudur Forum Meditation. Jadi, kami mengundang banyak praktisi meditasi dari program-program dari Asia Tenggara untuk bersama-sama melakukan workshop selama lima hari tentang berbagai macam teknik meditasi,” ucapnya.

 

Sampaikan Terima Kasih

Seno mengucapkan rasa terima kasih kepada program Dana Indonesiana yang membantu dalam mengembangkan program-program yang bermanfaat dalam memperluas target audiens dan mempertahankan kualitas BWCF.

“Saya terima kasih sekali BWCF telah mendapatkan Dana Indonesiana. Dana Indonesiana ini dapat membuat kami mengembangkan program-program dan membuat kami bisa memperluas audiens dan juga membuat kami bisa mempertahankan kualitas dan berani untuk menyelenggarakan tema-tema yang out of the box,” kata Seno.

“Tema-tema yang selama ini dilupakan oleh para intelektual Indonesia. (Seperti) kajian-kajian yang dalam ranah arkeologi, ranah filologi ini,” lanjutnya.

 

Alasan Adanya Workshop

Seno mengatakan Indonesia memiliki banyak doktor dan ahli dengan kajian yang luar biasa. Namun, pada era modern saat ini hal tersebut cenderung dilupakan akibat terbawanya arus globalisasi. Hal ini menumbuhkan semangat BWCF untuk membuat workshop yang mendalami kajian warisan budaya bangsa Indonesia dengan harapan generasi muda saat ini dapat mengenal dan menumbuhkan ketertarikan terhadap tema yang dibuat oleh BWCF.

“Kita mempunyai banyak sekali doktor-doktor, banyak sekali memiliki ahli-ahlinya yang kajian yang luar biasa tapi cenderung pada masa era sekarang juga dilupakan. Nah salah satu tujuan BWCF adalah itu memunculkan kembali kajian-kajian ini agar para kaum muda kita tertarik dengan tema-tema ini,” jelasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6