Mendikdasmen Belum Dapat Laporan dari Dedi Mulyadi soal Usulan Anak Nakal Dikirim ke Barak Militer

Gagasan Gubernu Jabar Dedi Mulyadi yang ingin anak-anak nakal dikirim ke barak militer untuk dididik kedisiplinan tengah disorot publik. Meski begitu, Mendikdasmen yang memiliki tanggung jawab pendidikan anak-anak Indonesia ternyata belum mendapat laporan dari Demul terkait usulan tersebut.

Diterbitkan 01 Mei 2025, 03:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengaku belum mendapat laporan mengenai usulan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi alias Demul terkait ide mengirimkan anak nakal ke barak militer.

Mu'ti menyebut, dirinya baru mendengar usulan Dedi Mulyadi tersebut melalui media saja.

“Enggak, enggak (ada laporan Dedi Mulyadi). Jadi saya hanya tahu itu dari teman-teman media justru,” kata Menteri Mu'ti saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (30/4/2025).

Oleh sebab itu, Mu’ti belum bisa memberikan tanggapan lebih dalam terkait gagasan Dedi Mulyadi yang menginginkan mengirim anak-anak nakal di Jawa Barat ke barak militer.

“Jadi kami no comment dulu,” ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyarankan agar siswa nakal bisa dikirim mengikuti pelatihan disiplin karakter di Barak TNI/Polri. Siswa bakal mewujudkan pembentukan karakter selama setahun.

“Bisa 6 bulan, bisa setahun,” kata Gubernur Jabar, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (29/4/2025).

 

Bidik Anak Doyan Tawuran hingga Kecanduan Game Online

Dedi Mulyadi membeberkan kategori siswa nakal yang akan dikirim ke barak militer, di antaranya pernah terlibat tawuran, mabuk-mabukan, hingga kecanduan game online.

"Tukang tawuran, tukang mabuk, tukang main mobile legenda. Yang kalau malam kemudian tidurnya tidak mau. Melawan, melakukan pengancaman. Di sekolahnya bikin ribut. Bolos terus. Dari rumah berangkat ke sekolah, ke sekolah enggak sampai," jelasnya.

 

Tetap Bisa Sekolah dari Kompleks Militer

Selama menjalani pendidikan disiplin karakter di TNI/Polri, para siswa tetap bisa belajar di ruangan khusus di kawasan kompleks militer. Dia juga mengatakan, guru sekolah dari siswa berasal akan didatangkan untuk menengok.

"Tetap belajar di sekolah. Mereka tetap melaksanakan kegiatan belajar-mengajar. Gurunya mengajar di sekolah. Cuma bedanya mereka melaksanakan kegiatan itu di area kompleks militer atau Polri. Nanti ada ruang kelasnya. Nanti ada guru yang dari sekolah di mana dia asal untuk berkunjung," pungkasnya.

 

Reporter: Alma Fikhasari

Merdeka.com

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6