Agus Salim Sejarawan HMI yang Ingin Persatukan DIPO-MPO

Bagi jutaan kader HMI di seluruh Indonesia, almarhum Agus dikenal tegas dan berdikasi untuk mengembangkan HMI dan pengaderan untuk menyatukan HMI MPO dan DIPO.

Diterbitkan 18 Mei 2013, 23:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Agus Salim Sitompul, Sejarawan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), meninggal dunia di usia 69 Tahun. Pria kelahiran 1944 silam itu menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Sardjito, Yogyakarta.

Bagi jutaan kader HMI di seluruh Indonesia, Agus dikenal tegas dan berdikasi untuk mengembangkan HMI dan pengaderan. Karena itu, ia mengecam perpecahan yang terjadi di tubuh HMI sehingga muncul sebutan HMI Majelis Penyelamatan Organisasi (MPO) dan HMI Diponegoro (Dipo).

HMI MPO muncul pada Maret 1986, sebagai wujud protes kader yang tak puas dengan keputusan HMI menerima Pancasila sebagai asas tunggal organisasi. Sedangkan, sebutan HMI Diponegoro (Dipo) yang mengakui Pancasila merujuk kepada markas HMI yang berada di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat.

“Saya memang tidak mengakui keberadaan HMI (MPO),” ujar almarhum Agus seperti yang dikutip dari situs hminews.com yang dikutip Liputan6.com, Sabtu (18/5/2013).

Agus yang juga Mantan Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta 1968-1969 itu menjelaskan Pancasila sudah berlandaskan hukum yang berlaku di Indonesia. Dengan UU No. 8 tahun 1985, di mana semua partai dan organisasi harus didasarkan Pancasila, dari situ HMI MPO sudah bertentangan.

"Ini kan sudah beralih dari politik ke aqidah. Terlepas menerima atau tidak, tapi dari segi hukum itu adalah sah. Sah oleh DPR dan sah secara hukum,' jelas Agus Salim.

Selain dikenal sebagai pembicara dalam berbagai forum HMI maupun nasional, Agus Salim tetap bersahaja, bahkan mau diminta untuk pembicara di tingkat lokal untuk pengaderan. Kecintaannya terhadap HMI dibuktikan dengan skripsi sampai desertasi doktoralnya tentang HMI.

Sebanyak 12 buku yang ditulis selama 45 tahun keberadaannya di organisasi yang didirikan Lafran Pane itu semua tentang HMI. Ia bersama seluruh tokoh MPO dan DIPO pun tetap berusaha menyatukan HMI hingga akhir hayatnya.

"Jika HMI tidak bersatu kembali jelas rugi. Sebab harapan kebangkitan Islam sekarang ini, kalau tidak dari Indonesia, dari Pakistan. Coba kalau bersatu, kita akan kuat. Kita masuk ke semua, eksekutif, legeslatif,yudikatif macam-macam membina masa depan. Kalau bersatu luar biasa. Kita begini saja masih ditakuti, apalagi kalau bersatu," tukas Agus.

Berikut beberapa karya tulis Agus Salim yang diterbitkan HMI dalam Pandangan Seorang Pendeta: Antara Impian dan Kenyataan (1982), Historiografi Himpunan Mahasiswa Islam tahun 1947-1993 (1995). Menyatu dengan Umat, Menyatu dengan Bangsa: Pemikiran Keislaman Keindonesiaan HMI 1947-1997 (2002).
KAHMI: Memadukan Langkah Menuju Persatuan Membangun Indonesia Baru (2003), dan Usaha-usaha Mendirikan Negara Islam dan Pelaksanaan Syariat Islam di Indonesia (2008).

Selamat jalan Bang Agus Salim. (Adi/*)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6