Sukses

'Gus Dur Pejuang Keadilan Sosial, Tak Sebatas Tokoh Pluralisme'

Mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur selama ini dikenal sebagai tokoh pluralisme. Namun penyebutan tersebut tidaklah cukup. Sebab Gus Dur dinilai tidak sebatas tokoh pluralisme, melainkan sebagai pejuang keadilan sosial.

"Yang diperjuangkan Gus Dur adalah keadilan sosial. Jangan direduksi hanya pejuang atau tokoh pluralisme," ujar Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Mun'im DZ dalam diskusi bertajuk "PKB Penerus Perjuangan Gus Dur" di Sekretariat DPP PKB Jakarta, Minggu (7/4/2013).

Menurut aktivis senior NU itu, sejak awal Gus Dur berorientasi menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang besar.

"Kalau Gus Dur membela minoritas Tionghoa, iya. Namun, itu hanya varian saja. Gus Dur lebih besar dari itu," katanya.

Oleh karena itu, Mun'im meminta PKB melanjutkan pemikiran besar tersebut dengan membangkitkan semangat juang dan semangat volunterisme yang memang masih ada.

"Pusaka dari Gus Dur harus terus kita kembangkan. Semangat volunterisme, semangat juang masih ada. Hanya perlu dibangkitkan kembali. Kultur masih solid, harus ditopang organisasi yang solid," tutur dia.

Nasionalisme

Mantan juru bicara Gus Dur sewaktu menjabat presiden, Yahya C Staquf mengatakan, sebagai seorang santri, pondasi nasionalisme Gus Dur sangatlah kuat.

"Nasionalisme itu naluri, bukan lagi konsep bagi seorang santri. Karena Indonesia itu dirintis oleh santri. Itulah kenapa Gus Dur sangat mencintai Indonesia," ucapnya.

Menurut Yahya, gagasan dan pemikiran Gus Dur sangat dipengaruhi oleh pengalamannya sebagai seorang santri yang ditempa di pesantren.

"Cara berpikir, cara bertindak, dan semua yang digagas Gus Dur bermula dari alam santri," jelasnya.

Sebagai cucu ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy'ari, Gus Dur diyakini mendapat pendidikan yang khas serta melebihi santri biasa.

"Saya menyadari bahwa tindakan dan ucapannya dapat dipertanggungjawabkan dalam konteks ilmunya seorang santri, Gus Dur serba fikih, fikih usuli," tutup Yahya. (Ant/Riz)

    Loading