Liputan6.com, Semarang: Buah hati adalah karunia Sang Ilahi. Bahkan bagi sebagian orang di negeri ini, petuah banyak anak banyak rezeki diyakini acap menjadi kenyataan. Apalagi bila sang anak dianggap punya kelebihan ketimbang bocah kebanyakan. Pada kasus anak bajang, misalnya. Buat beberapa masyarakat di Dusun Tegelan, Desa Batur, Kecamatan Kedatan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, memiliki dan membesarkan si kecil berambut gimbal diyakini bisa mendatangkan rezeki plus mampu menolak bala. Di wilayah itu, banyak keluarga yang sengaja memperlakukan anak bajang secara khusus.
Tengok saja Riyanto, putra pasangan Supardi dan Rusmini yang bermata pencaharian sebagai petani sayur mayur, seperti warga setempat lainnya. Riyanto adalah satu dari sepuluh anak bajang di dusun yang dihuni 172 kepala keluarga tersebut. Angka ini dinilai amat sedikit. Namun maklumlah. Di Jateng, sosok bocah gimbal mirip Riyanto memang jarang ditemukan. Selain di lereng Gunung Merbabu, kehidupan anak bajang kebanyakan bisa ditemukan di dataran tinggi Dieng, di Kabupaten Wonosobo.
Tradisi menghidupi anak bajang amat dipertahankan warga setempat. Alasannya, masyarakat meyakini bahwa sang anak bajang akan membawa berkah sekaligus dapat menolak bala. Bahkan menurut Rusmini, sejak kelahiran anak semata wayangnya yang kini berusia tiga tahun, rezeki buat keluarga mengalir lancar. Sang anak pun tumbuh sehat dan dijauhi berbagai penyakit. "Menurut kebiasaan, rambutnya begini [gimbal] itu [selalu] sehat," tutur perempuan itu. Sayang, dia tak merinci ihwal bala yang sukses ditampik.
Rambut tumbuh menggimbal memang anugerah yang sudah sejak lahir dimiliki bocah-bocah di kaki Gunung Merbabu. Sehari-hari, sosok yang kerap disapa anak bajang itu sengaja membiarkan rambutnya tumbuh memanjang. Para orangtua pun tak akan memotongnya, sebelum sang anak yang mengutarakan keinginannya terlebih dulu. Biasanya, jenis rambut gimbal memang menghilang setelah dipotong. Rambut pun bakal berubah tumbuh normal.
Untuk urusan mahkota kepala ini, keluarga pemilik sosok yang dalam budaya Bali dikenal sebagai makhluk gaib tak sembarang bertandang ke tukang cukur. Acara potong rambut mesti dilakukan lewat tradisi cukur rambut gimbal dengan ritual khusus. Prosesi upacara bakal diwarnai pentas wayang kulit dan persembahan sesajian. Tradisi itu pun dilakukan hanya saat musim panen sayur mayur pada setiap Agustus tiba.
Tak lama lagi, mungkin Riyanto kecil yang hidup di kaki pegunungan juga akan menjalani prosesi cukur rambut. Namun dia masih menyimpan catatan kehidupan: sempat menyandang predikat anak bajang.(BMI/Yudi Sutomo)
Tengok saja Riyanto, putra pasangan Supardi dan Rusmini yang bermata pencaharian sebagai petani sayur mayur, seperti warga setempat lainnya. Riyanto adalah satu dari sepuluh anak bajang di dusun yang dihuni 172 kepala keluarga tersebut. Angka ini dinilai amat sedikit. Namun maklumlah. Di Jateng, sosok bocah gimbal mirip Riyanto memang jarang ditemukan. Selain di lereng Gunung Merbabu, kehidupan anak bajang kebanyakan bisa ditemukan di dataran tinggi Dieng, di Kabupaten Wonosobo.
Tradisi menghidupi anak bajang amat dipertahankan warga setempat. Alasannya, masyarakat meyakini bahwa sang anak bajang akan membawa berkah sekaligus dapat menolak bala. Bahkan menurut Rusmini, sejak kelahiran anak semata wayangnya yang kini berusia tiga tahun, rezeki buat keluarga mengalir lancar. Sang anak pun tumbuh sehat dan dijauhi berbagai penyakit. "Menurut kebiasaan, rambutnya begini [gimbal] itu [selalu] sehat," tutur perempuan itu. Sayang, dia tak merinci ihwal bala yang sukses ditampik.
Rambut tumbuh menggimbal memang anugerah yang sudah sejak lahir dimiliki bocah-bocah di kaki Gunung Merbabu. Sehari-hari, sosok yang kerap disapa anak bajang itu sengaja membiarkan rambutnya tumbuh memanjang. Para orangtua pun tak akan memotongnya, sebelum sang anak yang mengutarakan keinginannya terlebih dulu. Biasanya, jenis rambut gimbal memang menghilang setelah dipotong. Rambut pun bakal berubah tumbuh normal.
Untuk urusan mahkota kepala ini, keluarga pemilik sosok yang dalam budaya Bali dikenal sebagai makhluk gaib tak sembarang bertandang ke tukang cukur. Acara potong rambut mesti dilakukan lewat tradisi cukur rambut gimbal dengan ritual khusus. Prosesi upacara bakal diwarnai pentas wayang kulit dan persembahan sesajian. Tradisi itu pun dilakukan hanya saat musim panen sayur mayur pada setiap Agustus tiba.
Tak lama lagi, mungkin Riyanto kecil yang hidup di kaki pegunungan juga akan menjalani prosesi cukur rambut. Namun dia masih menyimpan catatan kehidupan: sempat menyandang predikat anak bajang.(BMI/Yudi Sutomo)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5471300/original/019987800_1768283249-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-01-13T124627.766.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5481724/original/069742900_1769143528-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-01-23T110013.385.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267613/original/079814300_1602679710-Kejahatan_Siber.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7503211/original/044195200_1780275516-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-01T075745.914.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/392500/original/160503aAnak_Bajang.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8322380/original/064889600_1782191323-063_2282870058.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8296460/original/082795500_1782159766-Argentina_s_Lionel_Messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258680/original/053706900_1781401116-Folarin_Balogun.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8293308/original/041888100_1782155517-AP26173640031261.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8317670/original/089667300_1782185621-AP26174019661970.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260107/original/053673600_1781571207-Preskon_Prancis-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5455280/original/047575700_1766643618-000_88YV4YQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8315631/original/085066700_1782183105-AP26173665939735.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8312896/original/014782800_1782180155-000_B7XU3U2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8312895/original/060240200_1782180154-000_B7XU3W8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8303531/original/058987900_1782168483-AP26173793551298-Mbappe.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309790/original/022314100_1782176318-000_B7XQ8ZR.jpg)