Sukses

Pertama di Dunia, Proyek StAR Jadi Jurus Mitigasi Kepunahan Hiu Belimbing di Raja Ampat 

Liputan6.com, Jakarta - Dalam upaya memulihkan populasi Hiu Belimbing di Raja Ampat, Papua Barat Daya, proyek StAR (Stegostoma tigrinum Augmentation and Recovery) diluncurkan. Proyek yang digawangi oleh Reshark ini merupakan hasil kolaborasi yang baik antarpihak yang concern pada persoalan biota laut.

Proyek StAR hadir atas kekhawatiran populasi Hiu belimbing yang terus mengalami penurunan sejak 2003 lalu, yang mana saat itu masuk pada tahap rentan. Kemudian pada 2016, penelitian menyebutkan bahwa populasi species ini menyusut sampai 50 persen sehingga berstatus endangered dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Hiu Belimbing makin jarang ditemui lantaran menjadi objek eksploitasi yang volume perdagangannya meningkat dari tahun ke tahun di pasar domestik maupun mancanegara.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Papua Barat, Charly D Heatubun mengapresiasi atas peluncuran proyek StAR ini. Menurutnya, proyek ini merupakan terobosan baru yang ada di dunia.

"Secara khusus, Star project ini merupakan inovasi karena baru pertama kali di dunia bagaiama dilakukan upaya pemulihan populasi dari Hiu Belimbing dengan pendekatan lewat translokasi dari telur akuarium, ditetaskan dibesarkan di Raja Ampat, kemudian nanti akan dilepasliarkan di Raja Ampat," kata dia dalam jumpa pers di Kantor Wali Kota Sorong, Selasa (29/11/2022).

Dia menambahkan, berdasarkan hasil riset dari temuan menyebutkan bahwa Hiu Belimbing yang dulunya memiliki penyebaran yang cukup luas termasuk di daerah Raja Ampat, kini beberapa tahun terakhir sudah sangat jarang dijumpai.

"Walaupun kita tahu Raja Ampat merupakan kawasan konservasi perairan laut yang dikelola terbaik di dunia. Semua populasi laut mengalami peningkatan kecuali Hiu Belimbing ini. Sehingga tentunya menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menyelamatkan satu bagian spesies kharismatik, yang juga menjadi ikon dari perairan Raja Ampat," ujar dia,

"Dan ini sangat penting tidak hanya konservasi, scientific, tapi akan membawa dampak ekonomi bagi masyarakat setempat karena berkaitan erat dengan pariwisata berkelanjutan, dimana menjadi ikon bagi wisatawan penyelam atau diving," dia mengimbuhkan.

Charly juga menambahkan dalam proses penetesan, perawatan di dalam tanki, sampai nanti sudah siap dilepasliarkan tentunya ada prosedur tetap yang diikuti, termasuk juga bagaimana monitoring evaluasinya. Nantinya, hiu tersebut akan dipasang alat untuk mendeteksi keberadaannya.

"Ini ada juga dilengkapi dengan alat pemancar yang bisa dipantau, tapi intinya juga bagaimana kita melibatkan masyarakat di Raja Ampat yang terkait dengan pengawasan, tapi juga terkait bagaimana juga supaya ini menjadi bagian dari upaya upaya mereka untuk menjaga melestraikan, karena akan menjadi aset bagi mereka untuk mengembangkan pariwisata keberlanjutan," jelas Charly.

Terkait dengan kewenangan, dia melanjutkan, saat ini sudah ada Unit Pelaksana Tugas (UPT) Dinas yang bekerja di Raja Ampat. Dan menyangkut pengawasan, Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) akan mengawasi yang bekerja sama dengan mitra terkait LSM, NGO, kelompok masyarakat adat yang ada, dengan aparat penegak hukum, dan ini sudah dibuktikan sehingga Raja Ampat sebagai tempat konservasi terbaik di dunia. "Pengelolaannya sudah cukup bagus menjadi contoh."

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Tak Semudah Dibayangkan

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Konservasi Indonesia, Meizani Irmadhiany, menuturkan, pihaknya merupakan mitra dari konsorsium internasional yang sebelumnya juga telah bermitra cukup lama untuk pemerintah Pusat maupun Pemprov Papua Barat serta Raja Ampat. Selain itu juga sudah beberapa dekade melakukan konservasi baik di daratan maupun di lautan, yang salah satu kegiatan utamanya adalah di Raja Ampat.

"Bergerak di bidang perlindungan pelestarian ekosistem baik di darat dan di lautan, sebagai yayasan yang fokus untuk menjadi bagian transformasi ekonomi pembangunan berkelanjutan berdasarkan ekosistem yang sehat, aktivitas ini menjadi kunci, karena kita organisasi yang bergerak di bidang science dan ilmu pengetahuan," jelas dia.

Meizani menuturkan, species Hiu Belimbing ini dulu tahun 2003 populasinya disebut rentan. Waktu dilakukan penelitian di 2016 populasinya berkurang sampai 50 persen, di tiga dekade sudah disebutkan sebagai populasi yang endangered.

"Jadi ini adalah salah satu spesies kharismatik kunci selalu banyak ditemukan di Raja Ampat, sekarang populasinya tidak meningkat seperti biota-biota lainnya," ungkap Meizani.

Dia menegaskan, pihaknya sebagai salah satu mitra utama pemerintah dan juga di konsorsium Reshark ini memang fokus ke science data di lapangan. Selain itu, juga memfasilitasi proses pengembalian atau restocking Hiu Belimbing ini.

"Kita harapkan launching ini bisa raise awareness, kenapa pentingnya spesies kunci ini untuk populasinya bisa meningkat lagi, tadi ada sistem ekonomi tapi juga ada indikator ekosistem yang sehat, dan ini bisa menjadi another tambahan success story Raja Ampat sebagai kawasan konservasi perairan yang terbagus di dunia," ujar dia,

Sedangkan Director of Conversation Program and Partnership dari The Seattle Aquarium, Erin Meyer menilai proyek StAR merupakan ide yang cukup gila. Hal ini lantaran program yang pertama kali dicetuskan beberapa tahun lalu itu terdengar mudah. karena dianggap tinggal membawa dan mengirim telur Hiu Belimbing ke Indonesia, kemudian melepasliarkannya ke laut.

"Tapi ternyata lebih rumit," ungkap dia.

 

3 dari 3 halaman

Telur Didatangkan dari Luar

Saat ini, lanjut Erin, pihaknya sudah memiliki protokol untuk membesarkan spesies-spesies tersebut. Ia sudah mengetahui genetik populasinya agar bisa dilepasliarkan berdasarkan gen-gen yang tepat di Raja Ampat.

"Kita sudah melatih akuaris lokal yang dilatih Jakarta Akuarium di bulan Maret 2022. Kita juga kerja sama dengan Raja Ampat Research dan konversation Center yang ada di Pulau Kri, dan satu lagi di Misool," ujar Erin.

Dia menambahkan, pihaknya berhasil menyelesaikan pengiriman percobaan telur Hiu Belimbing dua kali. Yang pertama dari Australia dan yang kedua, dari Amerika Serikat.

"Dan bertahan hidup. Tiga telur pertama sudah menetes di Raja Ampat Research Conversation Center, dan diberi makan pakan lokal dan tumbuh besar dengan cepat. Kami berharap telur terakhir yang datang, yang dikirim ke misool sebentar lagi menetas dan tumbuh dengan cepat," ujar dia.

Erin mengapresiasi atas respons pemerintah daerah setempat yang menyambut baik program ini. Ia berharap proyek StAR ini dapat menginspirasi belahan dunia lainnya dalam memulihkan spesies yang terancam langka.

"Ini baru projek pertama di lokasi pertama juga. Kami sangat senang karena Pemprov Papua Barat memimpin projek ini dan juga masyarakat Raja Ampat. Dan juga mitra lain, akuarium, pemerintah kini sudah memahami ada projek ini," terangnya.

"Ini adalah satu hal yang bagus, karena ada sekitar 400 spesies pari dan hiu terancam punah. Dalam tiga tahun ini, koalisi ini telah berkembang 70 mitra di 13 negara dan ini masih berkembang terus. Kami berharap StAR Project ini bisa menginspirasi spesies lain di tempat lain di belahan dunia," terang dia.

Untuk memilih akuarium mengembangbiakkan Project StAR ini, Erin mengimbuhkan, pihaknya mengambil terlebih dahulu sampel darah dari spresias dewasa yang berasal dari akuarium tersebut. Karena ada dua populasi genetic Hiu Belimbing. Salah satu genetic ada di indonesia bagian timur, yang sebagian populasi lainnya ada di bagian barat Indonesia dan dataran-dataran besar lainnya.

"Saya sudah survei akuarium yang ada di Amerika dan Australia, dan juga sudah mulai survei akuarium di Eropa, dan Jakarta Akuarium itu ada Hiu Belimbing yang masih berusia remaja, jadi belum bisa kawin, tapi mungkin dalam 10 tahun ke depan, bisa (ada telur Hiu Belimbing) dari Indonesia," jelas Erin.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS