Sukses

Merawat Raja Ampat, Surga Kecil yang Jatuh ke Bumi

Sebagai salah satu perairan dengan flora dan fauna terlengkap di dunia, Raja Ampat, memiliki hampir 75% terumbu karang dunia, lebih dari 1.000 jenis ikan, dan 700 jenis moluska. Raja Ampat, yang terletak di Provinsi Papua Barat Daya, juga dikenal sebagai salah satu dari 10 tempat menyelam terbaik yang dimiliki dunia. Keindahan dunia bawah laut Raja Ampat juga tidak perlu diragukan lagi. Raja Ampat merupakan sebuah aset besar bagi kesuksesan pelestarian terumbu karang dan populasi ikan laut dunia. Kepulauan Raja Ampat memiliki peran penting bagi kelestarian alam dunia, oleh karena itu banyak sekali lembaga konservasi dunia yang mengarahkan fokus penelitian mereka di kawasan ini. Namun dibalik segala keindahan alamnya, keberlangsungan ekosistem di Raja Ampat juga menghadapi sejumlah tekanan, di antaranya perluasan penambangan nikel dan lonjakan pariwisata internasional. Seperti yang terjadi pada 2025 lalu sempat terjadi polemik di kawasan Raja Ampat. Polemik berpusat pada aktivitas pertambangan nikel yang mengancam kelestarian ekosistem dan sektor pariwisata di kawasan tersebut. Isu ini menjadi perhatian nasional melalui tagar #SaveRajaAmpat. Selain itu, lonjakan wisatawan tanpa pengelolaan berkelanjutan yang ketat juga bisa berimbas pada beban berlebih pada ekosistem rapuh, seperti kerusakan terumbu karang oleh jangkar kapal atau aktivitas diving yang tidak bertanggung jawab. Para aktivis lingkungan dan pesohor terus menyuarakan kekhawatiran atas kerusakan alam di kawasan yang berjuluk Surga Kecil yang Jatuh ke Bumi ini. Untuk menjawab kekhawatiran itu semua, Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Paulus Waterpauw di Sorong, Selasa 7 April 2026, mengusulkan Raja Ampat ditetapkan menjadi kawasan kebijakan khusus nasional guna mendorong percepatan pembangunan pariwisata yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Editor:
Helmi Fithriansyah
Photographer:
Liputan6.com

Foto Terkini