Sukses

Suara Jateng Akan Terbelah Jika Ganjar dan Puan Sama-Sama Maju Pilpres 2024

Liputan6.com, Jakarta - Nama Ganjar Pranowo dan Puan Maharani terus digadang-gadang bakal maju di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Pengamat Politik, Muhammad Qodari mengatakan, suara di Jawa Tengah akan terbelah jika dua figur itu sama-sama maju dan menjadi rival di Pilpres 2024 mendatang.

“Jadi bisa dibayangkan kalau misalkan Ganjar dan Puan Maharani maju, Jawa Tengah (akan) terbelah. Ini dua-duanya akan hancur karena dua-duanya punya basis yang sama,” kata Qodari, Minggu (7/8/2022).

Pasalnya, elektabilitas Gubernur Jawa Tengah tersebut lebih unggul dibandingkan dengan Puan Maharani.

Lembaga survei Politika Research and Consulting (PRC) pada Minggu (24/7/2022) lalu menyatakan elektabilitas Ganjar sebesar 30 persen dan menempati urutan pertama. Sementara elektabilitas Puan berada di urutan delapan dengan angka 1,3 persen.

Meskipun demikian, Puan Maharani tetap akan mendapat dukungan dari partai pengusungnya, PDIP.

“Mas Ganjar hanya punya elektabilitas, enggak punya partai politik. Sementara, di PDIP ada satu nama, yaitu Puan Maharani yang juga digadang-gadang sebagai calon presiden. Kalau suasananya struktur PDIP itu ya Mbak Puan,” kata Qodari.

Lebih lanjut dia berpendapat, bahwa mendukung Ganjar Pranowo sebagai capres akan memiliki risiko politik jika tidak diusung lewat PDIP.

“Mungkin pendukungnya Mas Ganjar enggak begitu happy mendengar itu, tapi harus (saya) sampaikan supaya realistis. Mendukung Mas Ganjar punya risiko politik yang sangat besar. Ketika mendukung Ganjar dan Ganjar tidak didukung oleh PDIP, risiko itu besar. Di PDIP itu sendiri kalau kita masuk ke kandang banteng, suasanya itu kuat (suasana Puan Maharani),” kata M Qodari. 

 

Reporter: Lydia Fransisca

Merdeka.com

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

PDIP Ingatkan Keputusan 2024 di Tangan Megawati

Sebelumnya, PDIP mengingatkan kepada semua pihak, baik kader internal partai ataupun para relawan yang aktif melakukan deklarasi pengusungan calon presiden (capres) 2024 terhadap Ketua DPR RI Puan Maharani dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, bahwa segala keputusan perihal Pilpres menjadi hak Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.

"Ya namanya kebebasan berekspresi kan boleh, kita kan tidak hidup zaman penjajahan. Tapi buat seluruh kader PDI Perjuangan memahami suatu aturan bahwa penetapan paslon presiden-wakil presiden itu ditetapkan oleh Ibu Ketua Umum Megawati," tutur Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto di Gedung DPP PDIP, Jakarta Pusat, Minggu 31 Juli 2022.

Menurut Hasto, para kader pun berkewajiban mengedukasi para relawan atau pun simpatisan agar memahami adanya suara mutlak dari Megawati dalam menentukan pasangan Pilpres 2024 dari PDIP.

"Prinsipnya siapa pun yang sebagai kader partai telah mengambil suatu keputusan dini di luar disiplin organisasi partai, kami ingatkan. Karena itulah disiplin dikedepankan oleh partai," kata Hasto.

Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menjelaskan alasan partainya belum berbicara soal calon presiden (capres) 2024 yang akan diusung untuk Pilpres.

Hasto mengatakan konsentrasi utama PDI Perjuangan saat ini bukanlah membahas soal capres, melainkan bagaimana mengerahkan energi membantu rakyat.

"Bagi PDI Perjuangan, yang penting sekarang membantu rakyat. Kalau kita berbicara calon presiden sekarang, mencalonkannya kan bulan Agustus tahun depan. Masih satu tahun lagi. Jadi mengapa kita buang energi dengan wacana tersebut. Bagi kami segala sesuatu ada waktunya, ada momentumnya, sesuai tahapan pemilu," kata Hasto seperti dilansir Antara.

Di satu sisi, sikap PDI Perjuangan itu dinilai sebagai sikap belum ingin menjalin kerja sama atau koalisi. Di sisi lain, ada juga pihak yang menyalahartikan makna koalisi tunggal.

"Sekali lagi, kita jangan buang energi. Bagi PDI Perjuangan, skala prioritas memperbaiki ekonomi rakyat. Apalagi kita baru menghadapi pandemi COVID-19 yang membutuhkan perhatian besar agar kita bisa segera bangkit," kata Hasto usai memberikan kuliah umum tentang Geopolitik Soekarno di Kampus Universitas Hasanuddin, Makassar. 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS