Liputan6.com, Jakarta: Apa jadinya kalau sesama banteng saling seruduk? Bisa dipastikan, kandangnya bakal gaduh. Itulah yang terjadi di tubuh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, akhir-akhir ini. Di sana, untuk kesekian kali, para penghuninya saling menanduk. Perkaranya enteng. Kali ini, soal "makanan"-lah yang menjadi penyebab. Bermula dari tudingan seekor banteng bahwa rekan-rekannya mencuri makanan yang bukan haknya, banteng-banteng lain pun mengamuk. Ramai-ramai yang marah ini berteriak agar si banteng "kurang ajar" itu keluar kandang. Pelan-pelan, perseteruan inilah yang kemudian santer terdengar di luar. PDI-P goyang, begitulah yang terekam.
Pada mulanya adalah Kwik Kian Gie. Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat PDI-P ini, dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pendayagunaan Aparatur Negara di Jakarta, Senin pekan silam, menilai PDI-P adalah partai paling korup dan tengah di ambang kehancuran. Mudah ditebak, bola panas Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional itu membuat rekan-rekannya di partai gerah. Mereka menganggap Kwik sudah keterlaluan. Karena itu, mereka secara tegas meminta Kwik mundur dari PDI-P jika sudah tak lagi sejalan dengan garis partai. Adalah Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Laksamana Sukardi dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwa Wea berada di balik tuntutan itu.
Dalam open house di rumah pribadi Presiden Megawati Sukarnoputri, Jacob meminta orang dalam yang menghujat PDI-P mundur dari partai. "Mereka tidak ingat kalau mereka jadi menteri karena PDIP," kata Jacob. Pria kelahiran Flores, Nusatenggara Barat itu sepertinya belum puas dengan sentilannya itu. Dia kemudian menanyakan kepada massa PDI-P yang hadir pada saat itu," Kalau ada menteri asal PDI-P yang menghina PDI-P, harus diapakan?". Massa spontan menjawab," pecat". Mendengar itu, Jacob lantas mengatakan," Pak Kwik, dengarkan baik-baik, itu ancaman dari massa".
Tuntutan serupa juga disampaikan Laksamana Sukardi. Namun, Laksamana tak menyebutkan orang yang dimaksud. Meski demikian, pernyataan Laks--begitu Laksamana disapa--tak lebih lunak dari Jacob. Buktinya, pria berkaca minus ini secara tegas meminta mundur orang-orang dalam yang menyerang PDI-P. Tak terkecuali kader-kader lama yang membesarkan partai. "Juga kader yang sudah pikun menyerang partai dari dalam. Daripada menyerang dari dalam, sebaiknya mundur saja," tegas Laks. Mantan Menteri Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN era Presiden Abdurrahman Wahid ini mengaku tak alergi dengan kritik jika langsung disampaikan kepadanya. "Kalau tidak setuju dengan saya, jangan kritik dari luar. Tapi, langsung saja kirim surat pada saya," ujar Laks.
Kemarahan Laks terhadap Kwik boleh jadi sudah meradang. Kwik kerap berseberangan dengan kebijakan kementerian negara BUMN. Kasus terakhir, Kwik menentang penjualan Indosat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian era Presiden Wahid ini mengaku tak bisa memahami alasan pemerintah melepas BUMN berkategori sehat seperti Indosat kepada swasta asing. Menurut Kwik, seharusnya pemerintah melepas badan usaha pelat merah yang terus merugi. Sedangkan BUMN yang sehat bisa dinikmati masyarakat Indonesia, bukan justru orang asing. Kwik juga menilai sikap Megawati terhadap penjualan Indosat berubah [baca: Kwik: Megawati Dulu Menolak Penjualan Indosat]. Padahal, menurut dia, sejak Soeharto masih berkuasa, Megawati sangat menentang divestasi perusahaan telekomunikasi itu.
Bukan hanya Laks dan Jakob yang geram dengan manuver pria keturunan Tionghoa itu. Taufik Kiemas, suami Megawati juga demikian. Malah, Taufik pernah secara langsung meminta Kwik mundur dari kabinet. Pernyataan Kwik menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak, tarif dasar listrik, dan tarif telepon pada awal 2003 membuat Taufik marah. Taufik juga tak bisa menyembunyikan kekesalannya ketika menanggapi tudingan Kwik bahwa PDI-P partai paling korup dan diambang kehancuran. "Berobat dululah Pak Kwik," ujar pria kelahiran Palembang, Sumatra Selatan itu [baca: Taufik Kiemas: Kwik Periksa Kesehatan Saja Dulu].
Taufik memang geram dengan sikap Kwik yang dianggap mbalelo. Meski demikian, dia mengaku tak ingin Kwik keluar dari kandang banteng. "Saya nggak mau [Kwik mundur]. Pak Kwik kan lebih pintar dari saya. Ini juga saking pintarnya, dia sendirian. Kalau orang pintar bersatu paling susah. Yang tidak mau bersatu kan dia. Kalau kita dari dulu bersatu," Taufik. Anehnya, Taufik menyelipkan pesan bahwa Kwik dulu sampai menangis meminta masuk kepengurusan PDI-P. "Pak Kwik itu kan dulu nangis-nangis minta masuk DPP, kasih tahu Pak Kwik," ungkap Taufik.
Kwik memang sendirian. Sejauh ini, hanya dia yang berani secara terang-terangan membangun oposisi dari dalam kandang. Buktinya, meski berada dalam lingkaran kekuasaan, Kwik kerap mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap tak wajar. Dia pernah dengan lantang menentang kebijakan pemerintah memberikan release and discharge atau pembebasan tuntutan hukum kepada empat obligor kakap jika mereka telah melunasi utang. Dia menilai keputusan itu telah menyalahi aturan hukum. "Seharusnya, itu tidak dilakukan karena nilai utang yang dibayarkan obligor melalui aset masih merugikan negara," kata Kwik dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR dan Badan Penyehatan Perbankan Nasional di Gedung DPR/MPR, pertengahan November 2002 tahun silam.
Dalam kesendirian itu pula, Kwik menanggapi kecaman rekan-rekannya yang menilai dirinya telah kebablasan menganggap PDI-P partai paling korup dan diambang kehancuran. Seperti tak punya beban, Kwik meminta rekan-rekannya mengetahui latar belakang pernyataannya sebelum bereaksi keras. Dia menjelaskan, pernyataan pedas itu bermula dari sebuah pertanyaan yang disampaikan kepadanya. Intinya mengenai politik uang yang marak saat ini. "Itu bagian yang sedang saya bahas. Kita tahu bahwa itu semua ada. Dan mungkin kalau dihitung-hitung, PDI Perjuangan partai yang korupsinya yang paling besar" ungkap Kwik menceritakan suasana Rakornas saat itu, sehingga dia mengatakan hal tersebut.
Kwik memang mengaku tak memiliki bukti untuk memperkuat tudingan tersebut. "Saya tidak punya," Kwik mengungkapkan. Namun, dia mengaku memiliki dasar untuk membeberkan kelemahan partainya. "Itu, saya kira Pak Laksamana dan Pak Jacob Nuwa Wea sudah tahu," kata Kwik enteng. Nah, atas dasar itulah, Kwik meminta rekan-rekannya tak berlebihan menanggapi ucapannya. "Jangan merasa dirinya diserang. Karena ini fenomena umum yang mengena ke semua orang," tutur dia. Kwik juga bukan tanpa action menanggapi fenomena tersebut. Buktinya, dia memprakarsai pertemuan sejumlah orang PDI-P yang dianggap berempati terhadap masa depan partai ke depan. Sabam Sirait, Yahya Nasution, Sophan Sophiaan, Sukowaluyo, Didi Suprianto, dan M. Prakosa, Menteri Kehutanan yang juga kader PDI Perjuangan hadir dalam pertemuan ini. Sedangkan Roy B.B. Janis dan Arifin Panigoro yang diundang tak hadir dalam kesempatan itu. Mungkin pertemuan inilah yang dianggap sebagai gerombolan kader pikun menyerang partai.
Namun, Kwik tetap pada pendiriannya. Dia tetap merasa benar, meski akhirnya mengalah setelah bertemu Megawati. Hadir pula Laksamana dan Jacob dalam pertemuan yang tak dijadwalkan seusai Rapat Terbatas Kabinet itu. Selepas pertemuan itu, Kwik mengaku sadar bahwa dirinya salah. "Ya saya dikoreksi dan saya terima koreksi itu dengan baik. Pernyataan saya tentang terkorup salah, karena ter memiliki konotasi kuantifikasi. Padahal belum melakukan perhitungan," kata Kwik. Meski demikian, dia menjamin, sikap kritisnya tak akan surut. "Saya hanya berusaha untuk berhati-hati. Karena penyakit saya jika sudah berbicara spontan, saya tidak sadar apakah pernyataan saya itu akan menyinggung pihak lain," tutur Kwik.
Kwik juga menganggap pernyataan Taufik Kiemas bahwa dirinya meski berobat tak memiliki konotasi kebencian. Malah, Kwik menganggap hal itu sebagai ciri khas Taufik. "Tiap manusia mempunyai ciri khas dalam penggunaan kata-kata," " kata Kwik menilai. Namun, seperti tak mau ketinggalan, Kwik membantah dirinya sampai nangis-nangis meminta jabatan. Dia bahkan mengaku siap membuktikan bahwa tudingan itu tak benar. "Wong tidak betul-betul, masa saya menangis-nangis," ujar Kwik tersenyum. Perkara ini memang dianggap telah selesai, meski bara-baranya masih dibiarkan hidup. Buktinya, sehari kemudian, Sekretaris Jenderal DPP PDI-P Sutjipto kembali mengipas bara yang mulai padam itu [baca: Sekjen PDI-P: Kwik Sakit Hati]. "Kwik sakit hati karena tak dicalonkan sebagai gubernur Bank Indonesia," ungkap Sutjipto seusai menerima pengurus Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan se-Jateng yang meminta Kwik dipecat. Agaknya, kekisruhan di kandang banteng masih jauh dari kata selesai.(AWD)
Pada mulanya adalah Kwik Kian Gie. Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat PDI-P ini, dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pendayagunaan Aparatur Negara di Jakarta, Senin pekan silam, menilai PDI-P adalah partai paling korup dan tengah di ambang kehancuran. Mudah ditebak, bola panas Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional itu membuat rekan-rekannya di partai gerah. Mereka menganggap Kwik sudah keterlaluan. Karena itu, mereka secara tegas meminta Kwik mundur dari PDI-P jika sudah tak lagi sejalan dengan garis partai. Adalah Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Laksamana Sukardi dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwa Wea berada di balik tuntutan itu.
Dalam open house di rumah pribadi Presiden Megawati Sukarnoputri, Jacob meminta orang dalam yang menghujat PDI-P mundur dari partai. "Mereka tidak ingat kalau mereka jadi menteri karena PDIP," kata Jacob. Pria kelahiran Flores, Nusatenggara Barat itu sepertinya belum puas dengan sentilannya itu. Dia kemudian menanyakan kepada massa PDI-P yang hadir pada saat itu," Kalau ada menteri asal PDI-P yang menghina PDI-P, harus diapakan?". Massa spontan menjawab," pecat". Mendengar itu, Jacob lantas mengatakan," Pak Kwik, dengarkan baik-baik, itu ancaman dari massa".
Tuntutan serupa juga disampaikan Laksamana Sukardi. Namun, Laksamana tak menyebutkan orang yang dimaksud. Meski demikian, pernyataan Laks--begitu Laksamana disapa--tak lebih lunak dari Jacob. Buktinya, pria berkaca minus ini secara tegas meminta mundur orang-orang dalam yang menyerang PDI-P. Tak terkecuali kader-kader lama yang membesarkan partai. "Juga kader yang sudah pikun menyerang partai dari dalam. Daripada menyerang dari dalam, sebaiknya mundur saja," tegas Laks. Mantan Menteri Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN era Presiden Abdurrahman Wahid ini mengaku tak alergi dengan kritik jika langsung disampaikan kepadanya. "Kalau tidak setuju dengan saya, jangan kritik dari luar. Tapi, langsung saja kirim surat pada saya," ujar Laks.
Kemarahan Laks terhadap Kwik boleh jadi sudah meradang. Kwik kerap berseberangan dengan kebijakan kementerian negara BUMN. Kasus terakhir, Kwik menentang penjualan Indosat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian era Presiden Wahid ini mengaku tak bisa memahami alasan pemerintah melepas BUMN berkategori sehat seperti Indosat kepada swasta asing. Menurut Kwik, seharusnya pemerintah melepas badan usaha pelat merah yang terus merugi. Sedangkan BUMN yang sehat bisa dinikmati masyarakat Indonesia, bukan justru orang asing. Kwik juga menilai sikap Megawati terhadap penjualan Indosat berubah [baca: Kwik: Megawati Dulu Menolak Penjualan Indosat]. Padahal, menurut dia, sejak Soeharto masih berkuasa, Megawati sangat menentang divestasi perusahaan telekomunikasi itu.
Bukan hanya Laks dan Jakob yang geram dengan manuver pria keturunan Tionghoa itu. Taufik Kiemas, suami Megawati juga demikian. Malah, Taufik pernah secara langsung meminta Kwik mundur dari kabinet. Pernyataan Kwik menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak, tarif dasar listrik, dan tarif telepon pada awal 2003 membuat Taufik marah. Taufik juga tak bisa menyembunyikan kekesalannya ketika menanggapi tudingan Kwik bahwa PDI-P partai paling korup dan diambang kehancuran. "Berobat dululah Pak Kwik," ujar pria kelahiran Palembang, Sumatra Selatan itu [baca: Taufik Kiemas: Kwik Periksa Kesehatan Saja Dulu].
Taufik memang geram dengan sikap Kwik yang dianggap mbalelo. Meski demikian, dia mengaku tak ingin Kwik keluar dari kandang banteng. "Saya nggak mau [Kwik mundur]. Pak Kwik kan lebih pintar dari saya. Ini juga saking pintarnya, dia sendirian. Kalau orang pintar bersatu paling susah. Yang tidak mau bersatu kan dia. Kalau kita dari dulu bersatu," Taufik. Anehnya, Taufik menyelipkan pesan bahwa Kwik dulu sampai menangis meminta masuk kepengurusan PDI-P. "Pak Kwik itu kan dulu nangis-nangis minta masuk DPP, kasih tahu Pak Kwik," ungkap Taufik.
Kwik memang sendirian. Sejauh ini, hanya dia yang berani secara terang-terangan membangun oposisi dari dalam kandang. Buktinya, meski berada dalam lingkaran kekuasaan, Kwik kerap mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap tak wajar. Dia pernah dengan lantang menentang kebijakan pemerintah memberikan release and discharge atau pembebasan tuntutan hukum kepada empat obligor kakap jika mereka telah melunasi utang. Dia menilai keputusan itu telah menyalahi aturan hukum. "Seharusnya, itu tidak dilakukan karena nilai utang yang dibayarkan obligor melalui aset masih merugikan negara," kata Kwik dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR dan Badan Penyehatan Perbankan Nasional di Gedung DPR/MPR, pertengahan November 2002 tahun silam.
Dalam kesendirian itu pula, Kwik menanggapi kecaman rekan-rekannya yang menilai dirinya telah kebablasan menganggap PDI-P partai paling korup dan diambang kehancuran. Seperti tak punya beban, Kwik meminta rekan-rekannya mengetahui latar belakang pernyataannya sebelum bereaksi keras. Dia menjelaskan, pernyataan pedas itu bermula dari sebuah pertanyaan yang disampaikan kepadanya. Intinya mengenai politik uang yang marak saat ini. "Itu bagian yang sedang saya bahas. Kita tahu bahwa itu semua ada. Dan mungkin kalau dihitung-hitung, PDI Perjuangan partai yang korupsinya yang paling besar" ungkap Kwik menceritakan suasana Rakornas saat itu, sehingga dia mengatakan hal tersebut.
Kwik memang mengaku tak memiliki bukti untuk memperkuat tudingan tersebut. "Saya tidak punya," Kwik mengungkapkan. Namun, dia mengaku memiliki dasar untuk membeberkan kelemahan partainya. "Itu, saya kira Pak Laksamana dan Pak Jacob Nuwa Wea sudah tahu," kata Kwik enteng. Nah, atas dasar itulah, Kwik meminta rekan-rekannya tak berlebihan menanggapi ucapannya. "Jangan merasa dirinya diserang. Karena ini fenomena umum yang mengena ke semua orang," tutur dia. Kwik juga bukan tanpa action menanggapi fenomena tersebut. Buktinya, dia memprakarsai pertemuan sejumlah orang PDI-P yang dianggap berempati terhadap masa depan partai ke depan. Sabam Sirait, Yahya Nasution, Sophan Sophiaan, Sukowaluyo, Didi Suprianto, dan M. Prakosa, Menteri Kehutanan yang juga kader PDI Perjuangan hadir dalam pertemuan ini. Sedangkan Roy B.B. Janis dan Arifin Panigoro yang diundang tak hadir dalam kesempatan itu. Mungkin pertemuan inilah yang dianggap sebagai gerombolan kader pikun menyerang partai.
Namun, Kwik tetap pada pendiriannya. Dia tetap merasa benar, meski akhirnya mengalah setelah bertemu Megawati. Hadir pula Laksamana dan Jacob dalam pertemuan yang tak dijadwalkan seusai Rapat Terbatas Kabinet itu. Selepas pertemuan itu, Kwik mengaku sadar bahwa dirinya salah. "Ya saya dikoreksi dan saya terima koreksi itu dengan baik. Pernyataan saya tentang terkorup salah, karena ter memiliki konotasi kuantifikasi. Padahal belum melakukan perhitungan," kata Kwik. Meski demikian, dia menjamin, sikap kritisnya tak akan surut. "Saya hanya berusaha untuk berhati-hati. Karena penyakit saya jika sudah berbicara spontan, saya tidak sadar apakah pernyataan saya itu akan menyinggung pihak lain," tutur Kwik.
Kwik juga menganggap pernyataan Taufik Kiemas bahwa dirinya meski berobat tak memiliki konotasi kebencian. Malah, Kwik menganggap hal itu sebagai ciri khas Taufik. "Tiap manusia mempunyai ciri khas dalam penggunaan kata-kata," " kata Kwik menilai. Namun, seperti tak mau ketinggalan, Kwik membantah dirinya sampai nangis-nangis meminta jabatan. Dia bahkan mengaku siap membuktikan bahwa tudingan itu tak benar. "Wong tidak betul-betul, masa saya menangis-nangis," ujar Kwik tersenyum. Perkara ini memang dianggap telah selesai, meski bara-baranya masih dibiarkan hidup. Buktinya, sehari kemudian, Sekretaris Jenderal DPP PDI-P Sutjipto kembali mengipas bara yang mulai padam itu [baca: Sekjen PDI-P: Kwik Sakit Hati]. "Kwik sakit hati karena tak dicalonkan sebagai gubernur Bank Indonesia," ungkap Sutjipto seusai menerima pengurus Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan se-Jateng yang meminta Kwik dipecat. Agaknya, kekisruhan di kandang banteng masih jauh dari kata selesai.(AWD)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569782/original/065699500_1777454729-Tugas__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305798/original/030195100_1784803071-sri_mulyani_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294353/original/011938600_1783830677-cek_fakta_-_bansos_pkh_juli.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305541/original/012313500_1784796799-Screenshot_2026-07-23_151441.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/387977/original/240203Fokus.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4786318/original/084826700_1711521270-GJmtYCIbgAAkw1f.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299963/original/007789300_1784281017-mainoo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3104854/original/092516000_1587109605-000_1Q35MK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5535295/original/004219900_1773977617-gianni.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303609/original/094591200_1784672116-AP26200776667216.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303337/original/087011100_1784626958-063_2286813749.jpg)