Sukses

Pecel Phitik Jadi Menu Santap Khas Kemiren di Tradisi Tumpeng Sewu

Liputan6.com, Jakarta Warga Desa Kemiren Kecamatan Glagah Banyuwangi menggelar Tumpeng Sewu. Ini adalah rangkaian tradisi yang dilakukan sebagai bagian dari ritual bersih desa, agar masyarakat terhindar dari mara bahaya.

Ya, satu per satu warga Kemiren keluar rumah dan membawa tumpeng untuk disantap di sepanjang jalan desa pada Minggu (2/7) malam. Diketahui sejak sore, warga Kemiren telah menggelar tikar di depan rumahnya masing-masing untuk persiapan tradisi ini.

Masyarakat pun duduk bersila sambil menikmati tumpeng sewu. Sementara jalan menuju Desa Adat Kemiren, mulai pukul 17.00 WIB ditutup. Pada tradisi ini ribuan masyarakat dari berbagai penjuru desa maupun wisawatan hadir di Desa Kemiren untuk menikmati ribuan Tumpeng Sewu yang disajikan berderet-deret di sepanjang jalan desa.

Menariknya, pecel pithik menjadi menu wajib yang tersedia di setiap tumpeng. Pecel phitik adalah makanan khas suku Osing, ayam kampung yang dibakar lalu dicampur dengan parutan kelapa dengan racikan bumbu tertentu.

 

 

Iring-iringan barong pun melintas dan melakukan Ider Bumi. Beberapa panitia kemudian menyalakan beberapa obor yang ada di sepanjang jalan.

Baru sekitar pukul 18.30 WIB atau usai salat Maghrib, ritual ini mulai dibuka. Usai dibacakan doa, ritual ini dimulai. Di bawah temaram api obor, semua orang duduk dengan tertib bersila di atas tikar maupun karpet yang tergelar di depan rumah.

Dihadapannya tersedia tumpeng yang ditutup daun pisang dan lauk khas warga Kemiren, pecel pithik dan sayur lalapan sebagai pelengkapnya.

Menurut Suhaimi, sesepuh Desa Kemiren, Tumpeng Sewu merupakan tradisi adat warga Using, suku asli masyarakat Banyuwangi, yang digelar awal Iduladha.

"Kami terus lestarikan adat dan tradisi budaya ratusan tahun lalu. Semoga dengan kegiatan ini warga Kemiren dijauhkan mara bahaya," tambahnya.

 

Sebelum makan Tumpeng Sewu warga diajak berdoa agar desanya dijauhkan dari segala bencana dan sumber penyakit. Sebab, ritual Tumpeng Sewu diyakini merupakan selamatan tolak bala.

"Setiap rumah warga Using di Kemiren mengeluarkan minimal satu tumpeng yang diletakkan di depan rumahnya. Siapapun bisa makan dan tentunya gratis," jelasnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi MY Bramuda mengatakan tradisi telah menjadi atraksi yang menarik bagi wisatawan.

"Makanya pemerintah terus konsisten mengangkat tradisi ini dalam sebuah festival. Selain sebagai upaya melestarikan tradisi leluhur juga diharapkan mampu menjadi sebuah atraksi yang mampu menarik wisatawan," kata Bramuda.

Dia melanjutkan, dengan menjadi atraksi yang menarik wisatawan, diharapkan mampu menggeliatkan perkonomian daerah.

"Kekhasan semacam ini banyak diminati wisatawan. Ditambah lagi keramahtamahan warga Kemiren, tradisi ini akhirnya menjadi salah satu favorit bagi wisatawan, tutupnya. 

 

(*)