Sukses

Presiden PKS Sebut Presidential Threshold 20 Persen Jadi Kendala Lahirkan Pemimpin Nasional

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Syaikhu berbicara mengenai presidential threshold atau ambang batas pencalonan presiden dan wakil presiden di sela sambutannya pada acara Milad ke-20 PKS yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (27/5/2022).

Ahmad Syaikhu menyoroti tingginya ketentuan presidential threshold atau ambang batas pencalonan presiden di Indonesia sebagai suatu kendala.

"Di antara berbagai kendala-kendala yang dihadapi dalam melahirkan kepemimpinan nasional adalah masih tingginya angka presidential threshold sebesar 20 persen," ujar Ahmad Syaikhu dalam sambutannya pada Milad PKS ke-20 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (27/5/2022).

"Tidak ada partai politik yang bisa memajukan secara leluasa kader-kadernya untuk bisa tampil menjadi pemimpin-pemimpin nasional," sambung dia.

Menurut Ahmad Syaikhu, ketentuan ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold 20 persen yang diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 7/2017 tentang Pemilu (UU Pemilu) memiliki peluang untuk ditinjau kesesuaiannya dengan konstitusi di Indonesia.

"Oleh karena itu sudah selayaknya lah kita sebagai elemen-elemen partai politik syukur-syukur dalam era kolaborasi yang pada hari ini kita bisa melakukan judicial review terhadap ketentuan presidensial threshold 20 persen ini," kata dia.

Ahmad Syaikhu berharap tingginya angka presidential threshold dapat berkurang. Dia menilai, berkurangnya angka presidential threshold akan lebih memudahkan partai politik yang hendak mengusung capres dan cawapres dalam Pemilu.

"Sehingga kemudian bisa turun sehingga lebih memudahkan dan tidak terjadi polarisasi dalam perpolitikan ke depan inilah menjadi tugas kita semuanya," jelas dia.

Dalam kesempatan itu, Ahmad Syaikhu juga mengajak semua kader dan simpatisan PKS yang hadir meramaikan acara milad PKS sekaligus dapat mempersiapkan kemenangan di Pemilu 2024.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Raffi Ahmad Diusulkan Jadi Capres 2024

Sebelumnya, nama selebriti Raffi Ahmad mencuat untuk jadi calon presiden 2024 yang pantas diusung PKS. Pengamat politik Ujang Komarudin menilai, usulan Raffi Ahmad jadi capres PKS hanya candaan saja untuk menjangkau kalangan milenial.

"Itu candaan politik dari PKS saja, agar mendapatkan pemberitaan di kalangan anak-anak muda. Itu strategi PKS untuk bisa menjangkau kalangan milenial. Itu tak serius," kata Ujang lewat pesan tertulis, Minggu (29/5/2022).

Menurutnya, karakter PKS untuk mengusung capres atau cawapres ialah memprioritaskan kader internal. Jika di internal tak ada menjual, maka PKS baru mendukung dari figur eksternal.

"Nah figur eksternal pun bukan artis lah. Raffi Ahmad itu jadi komoditas politik. Ketika ramai-ramai bicara soal Pilkada DKI, Raffi Ahmad juga disebut-sebut didukung maju cawagub, lalu hingga kini pemberitaan itu hilang dan itu hiburan politik saja," tuturnya.

"Saat ini juga masih sama, ketika bicara soal pencapresan, Raffi Ahmad juga disebut. Ya hiburan di tengah tahun politik saja," jelas Ujang.

 

3 dari 3 halaman

Mainkan Isu

Ujang menilai, terkadang politik hanya main-main saja dan bagaimana memainkan isu. Soal mendongkrak suara lewat artis juga belum tentu berhasil.

Sebab, kata dia, banyak artis ketika masuk politik justru terjebak dengan permainan politik sehingga tak dapat dukungan rakyat.

"Anak muda memang ingin figur muda. Tapi tentu ingin figur muda yang berprestasi, berintergritas, capabel, dan lain lain. Bukan hanya publik figur yang terkenal. Bisa saja itu aspirasi anak muda. Tapi mendorong-dorong RA juga bukan lah solusi," ucapnya.

"Karena pemimpin itu bukan hanya dilihat dari keterkenalannya di mata anak muda, tetapi juga kemampuan manajerial dan leadership nya harus hebat," tambah Ujang.

Ujang berpendapat, partai politik suka menjual nama artis agar berdampak positif pada pemberitaan parpolnya. Menurutnya, anak muda yang paham politik mungkin preferensinya bisa ke Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

"Namun anak milenial yang a-politis bisa saja lebih condong ke RA. Kalau Giring sudah tak laku. Itu strategi dewa mabuk PKS saja, agar mendapatkan efek pemberitaan dari keterkenalan RA," tutup Ujang.