Sukses

Dilarang MKD Jadi Alasan Arteria Dahlan Batal Penuhi Panggilan Polisi

Liputan6.com, Jakarta - Penyidik Polresta Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) batal memeriksa anggota Komisi III DPR RI Arteria Dahlan terkait kasus cekcok dengan Anggiat Pasaribu, perempuan yang viral mengaku anak jenderal TNI.

Arteria mengungkapkan alasan dirinya tidak bisa memenuhi panggilan penyidik Polres Bandara Soetta lantaran dilarang datang oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI.

“Sudah siap hadir dan saya posisinya di Pluit tadi. Tapi ada permintaan dari MKD, Pak Habiburokhman (MKD) untuk saya kembali, enggak usah menghadiri panggilan kepolisian,” kata Arteria kepada wartawan, Rabu (24/11/2021).

Berdasarkan Undang-Undang tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3), kata Arteria, pihak kepolisian memang harus meminta izin Presiden terlebih dahulu jika akan memanggil anggota DPR.

“Memang berdasarkan ketentuan UU, kami kalau dimintai keterangan, harus mendapatkan izin dari Presiden,” katanya.

Kendati, Arteria menjelaskan bahwa sejak awal kasus keributan terjadi, dia mengaku dirinya adalah warga sipil biasa, bukan berkapasitas sebagai anggota dewan. Oleh karena itu, ia imeminta izin ke MKD untuk memenuhi panggilan polisi.

“Saya katakan kepada Pak Habib, saya ini mau melepaskan diri sebagai anggota DPR. Kan memang dari sejak awal kami ini mengaku sebagai rakyat biasa. Tapi tadi Pak Habiburokhman minta tolong betul jangan sampai saya ini merusak sistem, katanya,” ujar Arteria.

Anggota Komisi III itu mengaku ingin memenuhi panggilan Polres Bandara Soetta untuk menghormati institusi kepolisian. Ia ingin statusnya sebagai anggota dewan tidak diberi keistimewaan dengan mangkir dari panggilan.

“Saya akan coba sebisa mungkin untuk hadir bukan untuk macam-macam, itu demi penghormatan saya terhadap institusi kepolisian. Saya mau berdiskusi dulu. Karena jangan sampai kami ingin diperlakukan istimewa,” kata dia.

 

2 dari 2 halaman

Arteria Siap Berdamai

Sementara itu, Arteria juga mengakui banyak pihak memintanya untuk menyelesaikan kasus ini secara damai. Oleh karena itu ia mengaku siap berdamai apabila laporan telah dicabut dan ada permintaan maaf langsung dari Anggiat.

“Katanya (Anggiat) saudaranya Pak Hasan (PPP) ya. Kami berkeluarga, Pak Hasan dan saya itu. Saudara kita di Medan. Kalau kami di Medan itu ‘Pak Hasan preman Medan’. Jadi tentunya akan kami pertimbangkan. Pastilah saya hormat sama semua yang senior saya hormat. Ada Mas Bambang Pacul (PDIP) sudah menyarankan perdamaian itu pimpinan saya, saya harus tegak lurus ya. Ada Pak Utut (PDIP) juga seperti itu. Juga barusan Mas Hasto (Sekjen PDIP) juga WA, “mas saya bilang itu kan rakyat kami tanpa diminta saya pastinya saya membukakan pintu damai,” pungkas dia.