Sukses

Masjid LDII Cisoka Nyaris Dibakar

Liputan6.com, Tangerang: Suasana Kampung Leungsir, Desa Munjul, Cisoka, Tangerang, Banten, mencekam, Jumat (4/10) dini hari. Sejumlah anggota Komando Rayon Militer Tigaraksa dan personel Kepolisian Sektor Cisoka hilir mudik. Sebagian dari mereka membawa senjata laras panjang. Ada juga yang menyelipkan pistol di saku. Mata Kepala Polsek Cisoka Ajun Komisaris Polisi Iriyanto Suwandi tak henti-henti memperhatikan lingkungan sekitar. Ia khawatir massa akan kembali menyerang masjid milik Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang ada di kampung itu.

Malam sebelumnya massa memang menyatroni Masjid LDII. Massa yang berjumlah ratusan orang datang membawa balok, kayu, besi, dan senjata tajam. Mereka ingin merusak Masjid LDII yang terletak di RT 06/01 Desa Munjul. Bahkan, ada warga yang berniat membakar masjid tersebut. "Suasananya benar-benar tegang. Sebagian dari mereka teriak, bakar! bakar!" kata Sardiyo, seorang jemaah LDII. Untungnya, polisi bertindak cepat. Massa berhasil dibubarkan setelah polisi melepaskan tembakan peringatan. Untuk mengantisipasi peristiwa serupa, tadi malam Polsek Cisoka menurunkan satu peleton Pasukan Perintis.

Penyerangan ke Masjid LDII berawal dari isu yang beredar di tengah masyarakat. Warga sekitar menuding jemaah LDII adalah golongan eksklusif, tidak mau bergaul, dan tertutup. Mereka juga menuduh Masjid LDII hanya boleh dipergunakan oleh kelompoknya. Bahkan, beredar kabar yang menyebutkan kalau ada umat Islam salat di masjid itu, jemaah LDII pasti akan segera mengepel lantai masjid tersebut. Warga percaya dengan sas-sus yang menyatakan bahwa di luar jemaah LDII adalah kafir.

"Padahal itu semua tak benar. Jemaah LDII sangat terbuka. Siapa saja boleh beribadah di tempat (masjid) ini. Kami malah senang jika ada yang ingin salat di sini. Saya percaya berbagai isu sengaja diembuskan untuk mendiskreditkan LDII," kata Hery Kurniadhy, Ketua Pimpinan Cabang LDII Cisoka. Ia juga membantah LDII disebut-sebut menyebarluaskan kaidah Islam secara menyimpang. Ia meminta masyarakat membuktikan jika LDII dinyatakan sebagai aliran sesat.

Pernyataan Hery senada dengan pendapat Ketua Umum DPP LDII Kiai Haji Abdullah Syam. Dalam beberapa kesempatan, ia mengatakan, selama ini penilaian orang terhadap LDII salah. LDII bukan organisasi ekslusif. Sejak berdiri 30 tahun silam, program LDII terpaksa dilaksanakan di dalam ruangan khusus agar tak mengganggu aktivitas kelompok lain. Menurut dia, keberadaan LDII dijamin undang-undang.

Masjid LDII di Desa Munjul dibangun pada 1994. Luasnya 12x12 meter. Lantainya dilapisi keramik berwarna putih. Menurut Hery, pembangunan masjid yang sudah menghabiskan dana Rp 200 juta itu dilakukan secara swadaya. Secara perlahan, jemaah LDII mengumpulkan uang untuk menyelesaikan pembangunan masjid tersebut. Maklumlah, meski sudah dibangun sejak delapan tahun silam, pembangunan masjid belum rampung. Buktinya, hingga kini langit-langit masjid belum juga terpasang.

Untuk menjaga masjid tersebut, Kapolsek AKP Iriyanto Suwandi berjanji akan terus menerjunkan personelnya sampai suasana kondusif. Ia tak segan menindak siapa pun yang merusak Masjid LDII. Menurut Iriyanto, persoalan LDII sudah ditangani pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia. Ia berharap, masyarakat sekitar dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan jemaah LDII.

Beberapa waktu silam, sebuah masjid milik LDII dibakar massa dari Desa Siasem, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah [baca: Masjid Milik LDII Dibakar Warga]. Aksi itu dilakukan lantaran warga tak menghendaki tempat ibadah tersebut didirikan. Sejumlah pihak menyayangkan peristiwa tersebut.(ULF/Fransambudi dan Yudi Wibowo)
    Loading