Harga Penawaran Commerce Sudah Final

Commerce Asset Holding Berhard sebagai bidder tunggal enggan membeli saham Bank Niaga seharga Rp 30 per lembar seperti diinginkan DPR.

Diterbitkan 24 September 2002, 00:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Keinginan DPR agar harga saham Bank Niaga di atas Rp 30 per lembar saham pupus sudah. Commerce Asset Holding Berhard sebagai pembeli atau bidder tunggal 75 miliar lembar saham menyatakan harga Rp 26,5 per lembar yang mereka tawarkan telah final. Alasannya, harga tersebut telah sesuai dengan nilai investasi. Bahkan, lebih tinggi 1,45 kali nilai buku yang ditawarkan Badan Penyehatan Perbankan Nasional. BPPN mematok harga Rp 24,8 per lembar saham. Demikian diungkapkan Ketua Tim Kecil Komisi IX DPR untuk Divestasi Bank Niaga Hamka Yandhu seusai rapat tertutup dengan BPPN, Senin (23/9) petang. Hadir pula konsultan keuangan Commerce, J.P. Morgan.

Menurut Hamka, rencananya, tim kecil akan melaporkan hasil rapat tersebut ke Komisi IX. Setelah Komisi IX membahas hasil itu, mereka akan menggelar pertemuan dengan BPPN dan Commerce. "Hasilnya akan ditentukan setelah pertemuan tersebut," kata anggota Fraksi Partai Golongan Karya DPR ini.

Commerce menjadi bidder tunggal Bank Niaga karena ANZ Panin didiskualifikasi [baca: Harga Penawaran Commerce Assets Berhad Dianggap Layak]. Panin tersingkir karena hingga saat-saat terakhir tak menyerahkan bid bond atau jaminan pembelian seperti yang disyaratkan BPPN. Akhirnya, perusahaan asal Malaysia ini menjadi pemenang karena telah membayar bid bond sebesar US$ 10 juta.

Sebelum rapat, Ketua BPPN Syafruddin Temenggung mengungkapkan, mereka telah bertemu dengan Commerce, perusahaan asal Malaysia. Dalam pertemuan itu, menurut Syafruddin, BPPN mengajukan harga yang ditawarkan DPR. Sayangnya, dia tak menjelaskan hasil pertemuan tersebut. "Tunggu setelah bertemu DPR," kata bekas Ketua Komite Kebijakan Sektor Keuangan ini. Namun, selepas rapat Syafruddin enggan berkomentar. Dia mengatakan, hal itu sudah disampaikan ke DPR. "DPR yang akan menjelaskan," kata Syafruddin, menghindari wartawan yang menghujani pertanyaan suap untuk memperlancar penjualan Bank Niaga.

Kabar suap beredar setelah divestasi yang telah diupayakan sejak setahun silam ini alot di DPR. Yah, itu tadi DPR menginginkan harga saham Bank Niaga di atas Rp 30 per lembar saham. Selain itu, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Kwik Kian Gie meminta divestasi Bank Niaga ditunda [baca: Kwik Meminta Divestasi Bank Niaga Dibatalkan]. Dia juga bersikukuh agar obligasi rekap pemerintah di bank tersebut ditarik terlebih dahulu sebelum divestasi. Jika tidak, divestasi hanya akan merugikan negara.

Adalah anggota Komisi IX Meilono Suwondo dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang mengungkap itu. Menurut Meilono, dia sempat disodorkan amplop untuk memperlancar penjualan 51 persen saham milik pemerintah di Bank Niaga. Tapi, dia mengaku menolak mengambil amplop tersebut. Belakangan, dia tahu uang yang diberikan oleh seorang rekannya sesama wakil rakyat selepas rapat yang membahas divestasi bank swasta nasional itu di Hotel Park Lane, Jakarta, berisi uang US$ 1.000 (kurs Rp 9.000 senilai Rp 9 juta)

Syafruddin membantah tudingan tersebut. "Silakan lihat, saya punya akuntabilitas sebagai pejabat publik," kata Syafruddin. [baca: Syafruddin Temenggung Menyangkal Menyuap Anggota Komisi IX]. Untuk itu, dia mempersilakan Badan Pemeriksa Keuangan serta Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan memeriksa keuangan BPPN.(AWD/Rike Amru dan Erwin Arief)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6