Sukses

Om Liem dan Gurita Bisnisnya

Liputan6.com, Singapura: Liem Sioe Liong atau lebih dikenal dengan nama Sudono Salim, konglomerat yang pernah menjadi orang terkaya di Indonesia, mengembuskan napas terakhir di Singapura, Ahad (10/6) petang. Pengusaha yang semasa hidup dekat dengan penguasa Orde Baru mendiang Soeharto itu meninggal di usia 95 tahun [baca: Liem Sioe Liong Tutup Usia].

Sudono Salim rencananya dikebumikan di Chua Chu Kang Cemetary Singapura, Ahad mendatang. Sebelum dimakamkan, jenazah Salim akan disemayamkan di Mount Vernon Parlour selama sepekan. Liem Sioe Liong meninggalkan istri, Lie Las Nio atau Lilani dan empat putra-putri, yakni Albert, Andre Halim, Anthony Salim, dan Mira Salim.

Lahir di Cina pada 10 September 1915 (sumber lain menyebut 16 Juli 1916--Red.), Sudono Salim adalah pendiri Grup Salim, induk perusahaan yang di bawahnya bernaung sejumlah perusahaan besar. Sebut saja Bank Central Asia, Indofood Sukses Makmur, Indocement Tunggal Prakarsa, dan sederet perusahaan lainnya.

Saat krisis moneter 1998, bisnis Grup Salim sempat jatuh. Grup Salim harus menyerahkan sejumlah perusahaan untuk membayar utang sebesar Rp 52,7 triliun.

Pada saat kerusuhan melanda Jakarta, pertengahan Mei 1998, kediaman Sudono Salim yang berada di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, menjadi korban perusakan dan penjarahan. Pun demikian rumah Sudono Salim di Medan, Sumatra Utara, tak luput dari amuk massa.

Setelah peristiwa tersebut, ia mulai mengalihkan kepengurusan bisnisnya kepada anaknya Anthony Salim, lalu pindah dan tinggal di Singapura hingga tutup usia.

Namun, beberapa tahun setelah krisis, Grup Salim berhasil bangkit yang ditandai dengan dikuasainya kembali Indofood, raksasa industri makanan. Anthony Salim dan sang menantu Franciscus Welirang, sekarang meneruskan seluruh usaha yang dirintis Sudono Salim.

Boleh dikatakan, sang miliarder meninggalkan sejumlah warisan bisnisnya yang menggurita. Sejak lama ia dekat dengan Soeharto. Hubungan Soeharto dengan Liem berawal sejak dirinya memasok kebutuhan tentara pada dekade 1950. Ketika itu, Soeharto menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Diponegoro, Jawa Tengah.

Salim kemudian menggandeng tiga sahabatnya, yakni Djuhar Sutanto, Ibrahim Risjad dan Sudwikatmono mendirikan PT Waringin Kentjana. Ini merupakan cikal-bakal imperium bisnis Grup Salim.

Liem Sioe Liong pun menikmati aneka fasilitas ketika Soeharto menjadi presiden. Pada 1971-1972, keduanya sepakat membangun pabrik tepung terigu raksasa, PT Bogasari Flour Mills-cikal-bakal Indofood-di Jakarta dan Surabaya.

Pada 1969, Liem bersama Sudwikatmono, Djuhar Sutanto, dan Ibrahim Risjad yang dikenal dengan julukan The Gang of Four ini mendirikan CV Waringin Kentjana. Liem sebagai chairman dan Sudwikatmono sebagai pucuk eksekutif (CEO). Perusahaan ini bergerak di bidang perdagangan, ekspor kopi, lada, karet, tengkawang, dan kopra, serta mengimpor gula dan beras.

The Gang of Four ini lalu mendirikan pabrik tepung terigu PT Bogasari dengan modal pinjaman dari pemerintah. Ketika pertama berdiri, PT Bogasari berkantor di Jalan Asemka, Jakarta, dengan kantor seluas 100 meter persegi. Pada 1975, kelompok ini mendirikan pabrik semen PT Indocement Tunggal Prakarsa.

Pria yang juga disapa Om Liem ini juga mendirikan kerajaan bisnis bidang otomotif di bawah bendera PT Indomobil Sukses Internasional. Bahkan, bisnisnya merambah ke bidang perbankan dengan mendirikan PT Bank Central Asia bersama Mochtar Riyadi.

Ketika krisis moneter dan Soeharto lengser, usahanya ikut terpuruk. Pada saat krisis moneter yang dimuiai sejak pertengahan 1997, tepatnya pada 1998 bisnis Grup Salim jatuh. Saat itu, Om Liem harus menyerahkan sekitar 108 perusahaan kepada pemerintah guna membayar utang Rp 52,7 triliun. Rumahnya di Jalan Gunung Sahari, Jakarta dijarah massa. Sejak saat itu, ia lalu tinggal di Singapura hingga akhir hayatnya.

Majalah Forbes pernah menempatkan Liem Sioe Liong menjadi orang terkaya di Asia Tenggara peringkat ke-23 pada 2005. Liem pada saat itu diperkirakan memiliki harta US$ 750 juta.

Sumber kekayaannya berasal dari PT Indofood Sukses Makmur Tbk yang telah bertransformasi menjadi perusahaan Total Food Solution dengan kegiatan operasional mencapai seluruh tahapan proses produksi makanan, mulai dari produksi dan pengolahan bahan baku menjadi produk akhir yang tersedia di pasar.

Di Indofood terdiri atas empat grup usaha.

Pertama, produk konsumen bermerek atau consumer branded products (CBP), yang kegiatan usahanya dilaksanakan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak 7 Oktober 2010. Produk ini terdiri atas Divisi Mi Instan, Divisi Dairy, Divisi Penyedap Makanan, Divisi Makanan Ringan, Divisi Nutrisi dan Makanan Khusus.

Kedua, Grup Bogasari, yang memiliki kegiatan usaha utama memproduksi tepung terigu dan pasta.

Ketiga, Grup Agribisnis yang terdiri atas Divisi Perkebunan, Divisi Minyak dan Lemak Nabati. Di bidang agribisnis, kegiatan operasional dijalankan oleh PT Salim Ivomas Pratama Tbk dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk yang sahamnya tercatat di BEI dan merupakan anak perusahaan Indofood Agri Resources Ltd (IndoAgri) yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Singapura.

Kegiatan usaha utama grup ini meliputi penelitian dan pengembangan, pembibitan, pemuliaan, dan pengolahan kelapa sawit hingga produksi serta pemasaran minyak goreng, margarin dan shortening bermerek.

Keempat, Grup Distribusi, yang memiliki jaringan distribusi paling luas di Indonesia. Grup ini mendistribusikan hampir seluruh produk konsumen Indofood dan anak perusahaannya, serta berbagai produk pihak ketiga.

Adapun The Gang of Four plus Ciputra juga mendirikan perusahaan real estate PT Metropolitan Development. Mereka membangun perumahan mewah Pondok Indah dan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai.

Kini, tiga dari dari pengusaha The Gang of Four telah tiada, hanya Djuhar Sutanto yang masih hidup. Sementara, bisnis Grup Salim kembali bangkit.(ANS/dari Berbagai Sumber)