Sukses

4 Hal tentang Tidak Adanya Tempat Sampah di Stasiun MRT

Liputan6.com, Jakarta - Sudah 3 hari sejak transportasi publik Moda Raya Terpadu (MRT) mulai dijalankan. Meski sudah berbayar, masyarakat masih sangat antusian menaiki kereta impian itu.

Hal tersebut bisa dilihat dari mengularnya antrean MRT sejak Rabu (3/4/2019) pagi. Apalagi hari ini merupakan hari libur peringatan Isra Mikraj.

Namun rupanya, ada keluhan dari masyarakat terkait dengan tidak banyaknya tempat sampah yang berada di stasiun MRT.

Mereka pun harus membawa sampahnya masing-masing atau justru membuangnya sembarangan dan menjadikan stasiun MRT kotor.

Tetapi, kebijakan tidak banyaknya tempat sampah di stasiun MRT didukung oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Berikut 4 hal tentang tidak adanya tempat sampah di stasiun MRT dihimpun Liputan6.com:

 

2 dari 6 halaman

1. Kebijakan Didukung Gubernur DKI Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mendukung langkah pengelola MRT Jakarta yang tidak enyediakan banyak tempat sampah di tiap stasiunnya.

Anies mengatakan, langkah itu bertujuan untuk mendidik masyarakat agar membawa sampahnya ke luar stasiun.

"Stasiun MRT tidak ada tempat sampah, ini bagian dari pendidikan, bahwa sampahnya dibawa, tidak ditinggalkan, jadi stasiun ini bukan tempat sampah. Karena itu sampahnya jangan ditinggal, dibawa,” ucap Anies Baswedan usai mendampingi para anggota DPRD DKI menaikin MRT di Stasiun Blok M, Jakarta Selatan, Selasa, 2 April 2019.

Dia pun meminta agar masyarakat pengguna MRT Jakarta untuk saling mengingatkan bila ada yang membuang samoah sembarangan di area stasiun.

"Kalau ada yang buang ingatkan jangan membuang sampah, di sisi lain petugas kita akan selalu bergerak untuk memastikan setiap tempat yang ditinggal dibersihkan, tapi ingat untuk semuanya," ucap dia.

Anies memastikan, bila masih ada warga yang masih membandel, pihaknya berencana menerapkan aturan yang memuat denda senilai Rp 500 ribu bagi para pembuang sampah sembarang.

"Bisa (denda Rp 500 ribu), nanti prosesnya, nanti jalan," tandasnya.

 

3 dari 6 halaman

2. Program TSP

PT MRT Jakarta memberlakukan aturan tidak menyediakan tempat sampah di seluruh area stasiun Moda Raya Terpadu (MRT).

Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta Muhammad Kamaluddin mengatakan, lewat kebijakan itu pihaknya ingin mengedukasi masyarakat untuk tidak membawa sesuatu yang berpotensi menjadi sampah di area stasiun.

Kita ingin masyarakat tidak membawa potensi sampah di stasiun. Misalnya, jangan sampai karena ada tempat sampah lalu ada yang makan atau minum di kereta, bungkusnya dibuang di tempat sampah stasiun," ucap Kamaluddin saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (3/4/2019).

Untuk mencegah warga membawa potensi sampah, Kamaluddin mengaku pihaknya telah menyiapkan langkah sosialisasi. Salah satunya dengan memasang peringatan bagi para penumpang untuk tidak makan dan minum di stasiun.

"Dari aktivitas makan atau minum itu, penumpah membawa potensi sampah ke dalam stasiun. Ini yang mau kita cegah," ucap dia.

Selain itu, dengan menggandeng sejumlah komunitas masyarakat, PT MRT Jakarta juga membuat program 'Tahan, Simpan, Pungut'.

Program ini bertujuan agar masyarakat menahan diri dari makan dan minum di stasiun, kemudian menyimpan sampah hingga keluar stasiun, dan memungut bila menemukan sampah.

"Ini terus kita sosialisasikan.Selain itu auran sanksi denda maksimal sebesar Rp 500 ribu juga telah diterapkan bila ada yang terbukti membuang sampah sembaranga," kata dia.

 

4 dari 6 halaman

3. Dikeluhkan Masyarakat

Pengguna jasa transportasi publik MRT mengeluhkan minimnya tempat sampah yang tersedia di area dalam stasiun mengakibatkan sulit untuk membuang sampah.

"Terlalu sedikit, harusnya diperbanyak seperti di KRL," ujar seorang pengguna MRT, Budi di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, seperti dilansir Antara, Rabu (3/4/2019).

Budi mengatakan, terbatasnya tempat sampah yang tersedia di stasiun MRT dapat memicu pengguna KRL membuang sampah sembarangan lantaran tidak menemukan tempat sampah. Akibatnya area stasiun bisa menjadi lebih mudah kotor.

Warga Lebak Bulus itu meminta pihak MRT dapat mencermati hal tersebut dan mempertimbangkan untuk lebih banyak menyediakan tempat sampah, baik di area loket maupun di dalam peron stasiun.

Toni, pengguna MRT lainnya juga mengeluhkan hal yang sama. Dia mengaku kesulitan menemukan tempat sampah untuk membuang struk kertas yang dia peroleh usai membeli kartu MRT harian.

"Tadi saya bingung mau buang struknya di mana, akhirnya saya kantungin saja daripada menyampah di stasiun," kata dia.

Toni mengatakan, sikap yang dia ambil belum tentu bisa diikuti penumpang lainnya. Menurut dia, minimnya tempat sampah di stasiun MRT bisa membuat masyarakat menjadi abai dan dengan mudah membuang struk pembelian kartu MRT harian di sembarang tempat.

Toni berharap pihak MRT bisa segera menambah jumlah titik penempatan tempat sampah di dalam stasiun. Dengan adanya penambahan tempat sampah, dia optimis stasiun MRT akan menjadi lebih bersih, pun masyarakatnya juga semakin tertib.

 

5 dari 6 halaman

4. Sama Seperti di Negara Lain

Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta Muhammad Kamaluddin mengatakan, selain untuk mengedukasi masyarakat, aktivitas pengangkutan sampah di stasiun, khususnya di bawah tanah akan mengganggu aktivitas di dalam stasiun.

"Secara teknis, tidak memungkinkan adanya mobilitas pengangkutan sampah di ruang bawah tanah. Jadi kalau ada sampah pengelolaan ruang bawah tanah stasiun akan lebih sulit. Resiko keselamatan pun jadi lebih besar," ucap Kamaluddin saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (3/4/2019).

Dia juga mengatakan, keberadaan sampah di stasiun akan sangat menggangu penumpang. Terlebih, akses keluar dan masuk ruangan stasiun sangat terbatas.

"Pengangkutan sampah ini akan sangat mengganggu, apalagi dengan akses pintu masuk yang terbatas, ini malah akan menjadi barier baru," ucap dia.

Kamaluddin pun mengatakan, ketidaktersediaan tempat sampah di stasiun MRT, tidak hanya ada di MRT Jakarta, di sejumlah negara seperti Jepang dan Singapura, tempat sampah juga menjadi sesuatu yang asing.

"Ini sudah standar dalam pengelolaan ruang bawah tanah. Di negara-negara lain, yang ada MRT-nya seperti Jepang dan Singapura, juga menerapkan hal yang sama," ucap Kamaluddin.

6 dari 6 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: