Sukses

3 Kisah Inspiratif di Balik Pilu Gempa dan Tsunami Palu

Liputan6.com, Palu - Bencana memang mendatangkan kisah pilu dan mengenaskan. Namun, bukan berarti tidak ada kisah inspiratif yang bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat luas. Tiga kisah ini diharapkan bisa menjadi pelipur lara untuk hati yang berduka.

Berikut tiga kisah inspiratif di balik duka gempa dan tsunami yang mengguncang Donggala dan Palu, Jumat 28 September 2018.

1. Izrael, Bocah Palu yang Ingin Ikut Jokowi

Peristiwa mengharukan terjadi saat Presiden Joko Widodo berkunjung ke Palu untuk melihat proses evakuasi bencana secara langsung. Seorang anak korban Gempa Palu mengikuti Jokowi saat hendak masuk ke mobil. Anak bernama Izrael itu tampak tegar dan tidak menangis saat menceritakan ibunya yang tewas akibat bencana alam tersebut.

"Jadi mamaku sudah mati. Saya gak boleh nangis. Saya harus berani, mamaku sudah di atas sekali," ujar anak berbaju biru garis-garis putih itu kepada awak media.

"Kalau saya nangis, mamaku nangis juga," lanjutnya.

Pertemuan Jokowi dengan anak berusia 4 tahun ini tidak hanya berkesan bagi Izrael tetapi juga bagi Jokowi. Melalui akun Twitter dan Instagram resminya, Presiden ke-7 Republik Indonesia ini mengenalkan Izrael kepada publik.

"Bocah kecil ini saya temui di satu lokasi pengungsian korban gempa di Kota Palu, tidak jauh dari Hotel Roa-Roa yang runtuh. Ibunya meninggal, sementara ayahnya dirawat karena luka. Pada tubuh bocah pemberani ini pun terlihat bekas luka," tulis akun @jokowi, Rabu (3/10/2018).

Izrael sempat ingin ikut rombongan Jokowi, tetapi kakek dari Jan Ethes ini memintanya untuk tetap di Palu dan pergi sekolah.

"Besok sekolah. Belajar ya. Yang pintar ya," ujar Jokowi sambil mengelus kepala Izrael.

Izrael mengungkapkan sekolahnya yang rusak, dan Jokowi menyatakan bahwa sekolahnya akan diperbaiki.

Sepeninggal ibunya, Izrael tinggal bersama ayah dan saudara kembarnya yang sedang dirawat di rumah sakit.

 

2 dari 3 halaman

2. Presilia, Anak yang Terlindung dalam Pelukan Ibunya

'Kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa.'

Lirik lagu anak-anak itu sangat cocok untuk menggambarkan situasi yang terjadi pascagempa Palu. Presilia Andini ditemukan dalam posisi memeluk ibunya saat ditemukan oleh prajurit TNI bersama para relawan. Anak berusia 4 tahun itu terus menangis seraya memanggil ibunya yang sudah terlebih dahulu dipanggil Yang Mahakuasa.

"Sedih juga melihat anak ini. Menangis terus memanggil ibunya yang sudah tidak ada. Dia ditemukan tiga hari setelah gempa," ujar Serka Dedy Handoko dari Yonkes 1 Kostrad.

Presilia dibawa dan dirawat di rumah sakit lapangan Yonkes 1 Kostrad. Dalam perawatannya, ia diberi dukungan moril dan hiburan dengan harapan bisa memperbaiki dan menormalkan suasana hatinya. Selain itu, ada pula psikolog yang menangani anak itu untuk menghilangkan traumanya.

"Sedih juga melihat ketika menangis dan memanggil ibunya. Sepertinya, ketika terjadi gempa, ibunya berusaha melindungi anaknya agar tidak terkena reruntuhan bangunan dengan cara memeluknya," jelas Dedy.

Sebelum bencana gempa dan tsunami terjadi, Presilia sudah menjadi anak yatim. Ayahnya sudah terlebih dahulu meninggal dunia. Setelah kondisinya kembali normal, Presilia akan dibawa ke Kota Makassar untuk tinggal bersama pamannya yang sudah bersedia mengasuh dan merawatnya.

 

3 dari 3 halaman

3. Rahmat, Penyintas Tsunami Aceh dan Palu

Manusia dapat berpulang ke akhirat dengan berbagai cara. Namun, menjadi korban tsunami sepertinya bukan menjadi jalan Rahmat.

Pria bernama lengkap Rahmat Saiful Bahri ini menjadi saksi hidup tsunami Aceh dan Palu. Pria asal Aceh ini berada di Palu untuk mengikuti workshop 'Nasional Best Practise Implementasi Penguatan Peran Tokoh Informal dan Lembaga Adat' yang rencananya akan berlangsung selama empat hari, tepatnya sejak 28 September hingga 1 Oktober. Bencana gempa disusul tsunami yang melanda Sulawesi Tengah membuat lokakarya itu gagal dilaksanakan.

Saat gempa terjadi, Rahmat sempat terbanting di kamar mandi. Sebagai orang yang pernah mengalami gempa dan tsunami besar di Aceh, Rahmat segera berlari ke lantai teratas hotel berbintang 4 itu. Aksi Rahmat itu diikuti oleh beberapa karyawan dan penghuni hotel lainnya.

Setibanya di lantai teratas, pria berusia 50 tahun ini mengumandangkan azan dan melafalkan serangkaian zikir dan doa.

"Kalau kita di Aceh kan, biasanya saat terjadi bencana, apapun itu, kita orang Aceh selalu refleks mengumandangkan azan," kisah Rahmat, kepada Liputan6.com, Minggu (7/10/2018).

Di sela azan yang dikumandangkannya itu, berderai pula air mata lelaki setengah abad itu. Dalam hatinya ia berucap, "Ku serahkan seluruhnya kepada-Mu ya Allah". Bayangan anak dan istrinya pun langsung melintas seperti sedang memanggil namanya.

Saat air mulai surut, Rahmat bersama penghuni hotel lainnya menuju kawasan Bukit Silae, Palu, yang berjarak sekitar 1,3 kilometer dari Swiss-Belhotel untuk beristirahat sejenak. Keesokkan harinya, ia kembali ke hotel untuk mengambil barang-barang miliknya yang masih tersisa di hotel dan kembali bermalam di Bukit Silae.

Setelah sehari dua malam berada di Bukit Silae, Rahmat berangkat ke Bandar Udara SIS Al-Jufrie Palu untuk pulang ke Banda Aceh. Setelah melalui masa penantian dan dialog permohonan dengan pihak maskapai, akhirnya Rahmat berangkat ke Makassar pada Selasa (2/10/2018) untuk transit ke Jakarta dan turun di tujuan akhir Banda Aceh.

Rahmat tiba di Banda Aceh pada Rabu (3/10/2018) dan setibanya ia di sana, Rahmat di peusijeuk (semacam selamatan) sesaat di Kantor Wali Kota Banda Aceh. Disitu ia disambut oleh sang Wali Kota Aminullah Usman, yang juga memimpin upacara peusijuek. Rahmat baru dapat pulang ke rumah menjumpai keluarga setelah upacara itu selesai.

(Liputan6.com/Melissa Octavianti)