Sukses

Anies Baswedan Ingin Jakarta Jadi Pusat Peradaban

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menginginkan agar Indonesia menjadi pusat pemikiran dunia. Sebagai negara dengan jumlah mayoritas muslim, Indonesia dapat menjadi laboratorium keilmuwan sosial dan peradaban. 

"Kita ingin Jakarta dan Indonesia jadi pusat para alim ulama dan pemikir dari berbagai negara yang berkumpul di sini," ujar Anies dalam sambutannya dalam acara seminar yang membahas pemikiran Imam Al Ghazali di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (19/1/2018). 

Lewat seminar itu, Anies berharap pemikiran yang bisa berkembang nantinya berdampak ke berbagai belahan dunia, apalagi acara tersebut dihadiri oleh banyak pemikir dunia.

"Momen seminar internasional ini sebagai kesempatan untuk mengenalkan Indonesia dan Jakarta kepada dunia," ucap mantan Mendikbud itu.

Anies juga berharap pemikiran Imam Al Ghazali bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menciptakan harmoni kepada sesama warga.

"Manusia tidak boleh jadi ancaman bagi alam maupun manusia yang lain," pesan Anies Baswedan.

Anies pun sempat berucap bahwa dirinya jarang sekali datang ke acara seminar. Hal tersebut disebabkan oleh padatnya kegiatan Anies sebagai orang nomor satu di Jakarta

"Saya jarang sekali datang ke seminar karena kegiatan di Ibu Kota," ucap Anies.

Namun, ia mengaku tertarik datang pada seminar kali ini karena membahas pemikiran Al Ghazali. 

"Awalnya saya hanya dijadwalkan mendengarkan sambutan tapi justru diminta menyampaikan sambutan," Anies Baswedan menandaskan. 

 

1 dari 2 halaman

Al Ghazali, Pemikir Peradaban

Seminar Internasional Imam al Ghazali di Hotel Borobudur, Jakarta, diselenggarakan 18-20 Januari 2018, mengambil tema "The Role Of Imam Al Ghazali's Sufism Building World Civilization In Peacefully and Harmony".

Acara ini dihadiri Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Ketua MUI Maruf Amin, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, Wamenlu AM Fachir, dan beberapa tokoh Islam lainnya dari Amerika, China, Iran, hingga Rusia.

Imam al-Ghazali (1058-1111 M) merupakan tokoh Islam yang memiliki pemikiran komprehensif dan memiliki pengaruh besar di dunia Islam.

Pemikiran al-Ghazali meliputi semua aspek keilmuan, mulai dari ilmu kalam (teologi), fiqih, filsafat, hingga tasawuf sehingga Imam al-Ghazali memperoleh gelar keilmuan sebagai mutkalimin, fuqaha’, filsouf, dan sufi.

Al-Ghazali meninggal pada 19 Desember 1111 M di kota kelahirannya Thus, wilayah Khurasan (Iran).

Al-Ghazali adalah putra seorang tokoh sufi bernama Muhammad Ibn Muhammad Ibn Ahmad al-Thusi (al-Thabaqat al-Kubra, Juz 3, 416). Sedang guru pertamanya bernama Ahmad Ibn Muhammad al-Razikani.

Perjalanan keilmuannya sangat menarik, mempelajari bahasa Arab, bahasa Persi, fiqh, riwayat hidup para wali, syair-syair cinta, Alquran dan Hadis. Al-Ghazali dalam belajar berpindah-pindah sekolah, tapi yang terkenal di Madrasah Nizamiyah pada era Imam al Haramain al Juwaini di Naisabur.

Imam al-Ghazali menulis sekitar 100 buku baik yang berbahasa Arab maupun yang berbahasa Persi, meliputi ilmu kalam, fikih, tasawuf, filsafat, akhlak dan autobiografi.

Di antara karya Imam al-Ghazali yang terkenal, yaitu Maqashid al-falasifah (tujuan para filosuf), Tahafut al-falasifah (kerancuan para filosuf), al-Munqidz min al-Dhalal (penyelamat dari kesesatan) dan Ihya ‘Ulum a-Din (menghidupkan ilmu agama).

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

Artikel Selanjutnya
Anies Kaji Usulan 22 Ramadan Sebagai Hari Lahir DKI Jakarta
Artikel Selanjutnya
Presiden PKS Hormati Kader Gerindra Ingin Anies Dampingi Prabowo, tapi...