Sukses

Korban Tangga Roboh di Apartemen Bekasi Dievakuasi

Liputan6.com, Jakarta - Jasad Pajar Sidik yang tertimbun reruntuhan puing tangga darurat Apartemen Grand Kamala Lagoon Kota Bekasi akhirnya dievakuasi oleh Badan SAR Nasional (Basarnas). Jasad pemuda 24 tahun itu dievakuasi Kamis 5 Januari malam, atau membutuhkan waktu 30 jam.

"Basarnas bergabung dalam tim evakuasi korban berdasarkan informasi dari media massa. Tidak ada laporan kepada kami dari pihak perusahaan maupun instansi terkait perihal insiden kecelakaan kerja ini," kata Kepala Seksi Operasi dan Komunikasi Basarnas Pusat Agust di Bekasi, Jawa Barat.

Menurut dia, tim Basarnas beranggotakan 12 orang langsung menuju ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Tower Emerald North, Apartemen Grand Kamala Lagoon, Kelurahan Pekayon Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, pada Rabu 4 Januari sore.

Basarnas bergabung dengan tim evakuasi dari kepolisian, TNI, PMI, pemadam kebakaran, dan pihak pengembang untuk mencari jasad Pajar Sidik.

"Tiga puluh jam kami bekerja mencari jasad korban dan ditemukan pukul 20.45 WIB, sejajar dengan pintu low ground (LG) dalam keadaan tewas," kata Agust seperti dikutip dari Antara, Jumat (6/1/2017).

Agust mengatakan, tanda awal ditemukannya korban adalah bercak darah korban yang menempel pada besi cor.

"Tanda awalnya adalah besi cor tampak darah bekas kulit atau luka di posisi kedalaman 7 meter dari permukaan atas reruntuhan," beber dia.

Dari tanda tersebut, Basarnas memperkirakan jasad korban ada di kedalaman 50 sentimeter dari tanda tersebut.

"Perkiraan itu kita hitung dari ujung besi dengan bekas darah, dan benar saja korban berada di posisi itu setelah 30 jam proses evakuasi," kata Agust.

Proses penggalian pun difokuskan pada tanda tersebut dan perlahan jasad korban mulai terlihat petugas.

"Awalnya yang terlihat bagian kepala, kuping dan bahu korban. Korban ditemukan pada posisi telungkup berkaos merah dan celana hitam pukul 20.45 WIB," ungkap Agust.

Komandan Operasi Lapangan Basarnas Pusat Budiharto mengatakan, proses evakuasi korban memang berjalan lambat akibat sempitnya ruang kejadian yang berukuran 6x2 meter per segi serta beban material puing beton dan besi yang cukup berat.

"Kalau dihitung bobot puingnya bisa sampai puluhan ton. Kami angkut puing menggunakan alat berat crane dari satu lobang celah lantai 34 hingga ke lantai LG satu per satu. Kalau puing ringan, kita gali manual pakai pacul dan pengki," beber Budiharto.

Jasad warga Kampung Gunung Madang, Kelurahan Kawitan, Kecamatan Salopa Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, itu selanjutnya dibawa petugas menuju RS Polri Kramatjati, Jakarta untuk autopsi.