Sukses

Menabuh Bedug, Bagian dari Tradisi Malam Takbiran

Liputan6.com, Jakarta: Duk..duk..duk, suara bedug bertalu-talu di setiap surau dan masjid. Gema takbir pun saling bersahutan. Semua warga, baik tua, muda, dan anak-anak seperti tak ingin bertahan di rumah. Mereka bergegas menuju masjid untuk bertakbir. Semua bersuka cita menyambut awal bulan Syawal. Gambaran itulah yang terlihat di sudut-sudut kampung dan kota pada malam sebelum Idul Fitri.

Ridwan Saidi, budayawan Betawi, baru-baru ini menjelaskan, suasana seperti itu sudah menjadi tradisi tahunan tiap menjelang malam sebelum Lebaran atau lebih dikenal dengan malam takbiran. "Malam itu, dengan berbagai cara masyarakat ingin menyambut hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa," jelasnya. Menurut Ridwan, malam takbiran menjadi terasa sakral saat tabuhan bedug mulai ditingkah takbir sambung menyambung dari berbagai penjuru sebagai wujud rasa syukur.

Tapi, Ridwan menerangkan, dahulu bedug sebagai bagian dari sebuah masjid tak boleh dibawa pergi. Sebab itu, takbiran hanya dipusatkan di surau dan masjid. Namun, menurut Ridwan, seiring waktu, aturan tersebut mulai ditinggalkan. "Kini, warga banyak yang membawa bedug saat takbir berkeliling kota," katanya.(ICH/Bayu Sutiyono dan Satya Pandia)
    Loading