Liputan6.com, Jayapura: Ketua Presidium Dewan Papua (PDP) Theys Hiyo Eluay ditemukan tewas oleh masyarakat di kawasan Koya, sekitar 25 kilometer luar kota Jayapura, Papua. Theys dilaporkan diculik oleh sekelompok orang, Sabtu kemarin sekitar pukul 22.00 WIT. Saat itu, ia tengah dalam perjalanan dari Jayapura menuju Sentani yang berjarak sekitar 45 kilometer. Jenazah korban yang sebelumnya dikabarkan diculik sejumlah orang tak dikenal, ditemukan di Toyota Kijang yang rusak kacanya. Selanjutnya, jenazah dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura untuk divisum.
Korban ditemukan mengenakan pakaian kembang-kembang biru dipandu celana jin dengan posisi menelungkup. Di tangannya, terlihat bekas ikatan dan darah kering di sekujur tubuh. Meski tak ditemukan tanda-tanda kecelakaan, kaca tengah mobil korban pecah. Kijang tersebut ditemukan tak jauh dari jurang di lintasan menuju perbatasan Papua Nugini. Sejauh ini, Tim Penyidik Kepolisian Resor dan Kepolisian Daerah Papua masih melakukan penyelidikan di lokasi kejadian disaksikan langsung Kapolres Jayapura Ajun Komisaris Besar Polisi Daud Sihombing.
Semasa hidupnya, Theys tercatat sebagai satu di antara orang yang memperjuangan kemerdekaan Papua. Pada 1969, setelah menjadi anggota Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera), ia diakui masyarakat Papua sebagai Pemimpin Besar Lembaga Adat Masyrakat (LAM) --belakangan menobatkan diri sebagai Pemimpin Besar Dewan Papua Merdeka (PDPM). Theys juga termasuk orang pertama yang mengibarkan bendera Bintang Kejora sebagai lambang kemerdekaan Papua, 1 Desember 1999. Untuk usahanya yang terakhir ini, ia sempat ditahan.
Saat bertemu Presiden Abdurrahman Wahid pada tahun yang sama, mantan anggota DPRD Irja dari Golkar ini juga pernah meminta penggantian nama Irianjaya menjadi Papua. Selanjutnya, ia juga menyelenggarakan Kongres Papua, Mei-Juni 2000. Tentu saja, penyelenggaraan kongres itu dianggap kontroversial. Tapi, Theys terus melangkah maju. Apalagi, kabarnya kongres itu mendapat restu Presiden Wahid yang menyumbangkan dana sebesar Rp 1 miliar. Alhasil, kongres tersebut kemudian menghasilkan sejumlah keputusan yang mengarah pada kemerdekaan rakyat Papua.
Kendati punya banyak pendukung, namun tak semua rakyat Papua setuju dengan perjuangan Theys. Di Jakarta, misalnya. Ia berhubungan erat dengan Yorris Raweyai, tokoh organisasi Pemuda Pancasila yang dekat dengan keluarga Cendana. Theys sebenarnya bukan tokoh Papua yang sejak awal telah menjalani garis oposisi. Pasalnya, selama tiga periode berturut-turut, Theys pernah menjadi anggota DPRD setempat mewakili Golongan Karya. Hanya pada Pemilihan Umum 1992, ia tak lagi terpilih menjadi anggota Dewan.
Sejak itulah Theys mulai memperlihatkan sikap perlawanannya terhadap pemerintah dan memposisikan diri sebagai pejuang kemerdekaan bagi rakyat Papua. Terakhir, ia menolak Rancangan Undang-undang tentang Otonomi Khusus Papua. Di mata Theys dan PDP, UU tersebut hanya menunjukkan arogansi pemerintah pusat kepada rakyat Papua [baca: Presidium Dewan Papua Menolak RUU Otsus].(SID/Ruba`i Kadir)
Korban ditemukan mengenakan pakaian kembang-kembang biru dipandu celana jin dengan posisi menelungkup. Di tangannya, terlihat bekas ikatan dan darah kering di sekujur tubuh. Meski tak ditemukan tanda-tanda kecelakaan, kaca tengah mobil korban pecah. Kijang tersebut ditemukan tak jauh dari jurang di lintasan menuju perbatasan Papua Nugini. Sejauh ini, Tim Penyidik Kepolisian Resor dan Kepolisian Daerah Papua masih melakukan penyelidikan di lokasi kejadian disaksikan langsung Kapolres Jayapura Ajun Komisaris Besar Polisi Daud Sihombing.
Semasa hidupnya, Theys tercatat sebagai satu di antara orang yang memperjuangan kemerdekaan Papua. Pada 1969, setelah menjadi anggota Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera), ia diakui masyarakat Papua sebagai Pemimpin Besar Lembaga Adat Masyrakat (LAM) --belakangan menobatkan diri sebagai Pemimpin Besar Dewan Papua Merdeka (PDPM). Theys juga termasuk orang pertama yang mengibarkan bendera Bintang Kejora sebagai lambang kemerdekaan Papua, 1 Desember 1999. Untuk usahanya yang terakhir ini, ia sempat ditahan.
Saat bertemu Presiden Abdurrahman Wahid pada tahun yang sama, mantan anggota DPRD Irja dari Golkar ini juga pernah meminta penggantian nama Irianjaya menjadi Papua. Selanjutnya, ia juga menyelenggarakan Kongres Papua, Mei-Juni 2000. Tentu saja, penyelenggaraan kongres itu dianggap kontroversial. Tapi, Theys terus melangkah maju. Apalagi, kabarnya kongres itu mendapat restu Presiden Wahid yang menyumbangkan dana sebesar Rp 1 miliar. Alhasil, kongres tersebut kemudian menghasilkan sejumlah keputusan yang mengarah pada kemerdekaan rakyat Papua.
Kendati punya banyak pendukung, namun tak semua rakyat Papua setuju dengan perjuangan Theys. Di Jakarta, misalnya. Ia berhubungan erat dengan Yorris Raweyai, tokoh organisasi Pemuda Pancasila yang dekat dengan keluarga Cendana. Theys sebenarnya bukan tokoh Papua yang sejak awal telah menjalani garis oposisi. Pasalnya, selama tiga periode berturut-turut, Theys pernah menjadi anggota DPRD setempat mewakili Golongan Karya. Hanya pada Pemilihan Umum 1992, ia tak lagi terpilih menjadi anggota Dewan.
Sejak itulah Theys mulai memperlihatkan sikap perlawanannya terhadap pemerintah dan memposisikan diri sebagai pejuang kemerdekaan bagi rakyat Papua. Terakhir, ia menolak Rancangan Undang-undang tentang Otonomi Khusus Papua. Di mata Theys dan PDP, UU tersebut hanya menunjukkan arogansi pemerintah pusat kepada rakyat Papua [baca: Presidium Dewan Papua Menolak RUU Otsus].(SID/Ruba`i Kadir)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5481724/original/069742900_1769143528-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-01-23T110013.385.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267613/original/079814300_1602679710-Kejahatan_Siber.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7503211/original/044195200_1780275516-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-01T075745.914.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/362546/original/111101bTheys.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260724/original/073509600_1781647690-PRANCIS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5482261/original/017449400_1769169646-Timnas_Yordania-Kelme.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8290659/original/010335100_1782151822-063_2282792467.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260719/original/004737300_1781644637-000_B7BY7EB.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8296460/original/082795500_1782159766-Argentina_s_Lionel_Messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261470/original/080593900_1781707583-haaland.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4258833/original/075986400_1670866002-000_3339699.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261701/original/046985700_1781754821-000_B7GK8PT.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8290686/original/071046700_1782151905-000_B7WZ2B3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262481/original/011971700_1781803398-Croatia_s_Luka_Modric.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261515/original/075937400_1781733992-IMG-20260618-WA0000.jpg)