Sukses

Gunung Semeru dan Terlanggarnya Larangan ke Puncak Mahameru

Liputan6.com, Malang - Hampir setiap tahun selalu saja ada nyawa melayang di atas puncak Gunung Semeru. Tetapi kabar duka itu sepertinya tak membuat gentar para pendaki untuk menaklukkan puncak gunung setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut (MDPL) tersebut.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) sebenarnya telah mengeluarkan larangan kepada para pendaki Semeru, agar tak naik sampai puncak Mahameru. Titik terakhir yang diizinkan hanya sampai Pos Kalimati. Larangan ini sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG), terkait aktivitas vulkanik gunung tersebut.
 
"Sudah ada larangan tegas pada pendaki, agar tidak ke puncak Semeru. Tapi mereka tetap saja melanggar larangan itu," kata Kepala BB TNBTS Ayu Dewi Utari di Malang, Jawa Timur, Jumat (14/8/2018).
 
Larangan naik ke puncak itu telah disampaikan petugas secara langsung, saat para pendaki mengajukan izin di Pos Ranupani. Selain itu, pendaki wajib menandatangani surat pernyataan bermaterai agar memenuhi aturan itu. Namun tetap saja, para pendaki banyak tak mematuhi apa yang sudah disepakati.
 
"Ini sudah soal perilaku masing-masing individu, kami tak bisa mengawasi mereka. Tak mungkin kami membangun barikade di sekitar Pos Kalimati agar pendaki tak naik, atau menempatkan petugas di Pos Kalimati, karena saat ini suhu udara berkisar antara 10-15 derajat Celcius. Bahkan, saat musim hujan bisa 0 derajat Celcius," jelas Ayu.
 
Ayu hanya bisa berharap para pendaki Semeru mematuhi aturan yang telah ditetapkan. Sebab, aturan dibuat demi keselamatan pendaki itu sendiri.

Menurut Ayu, mendaki gunung kini memang seperti menjadi tren masyarakat kota. Namun mendaki gunung bukan seperti tempat wisata alam umumnya. Selain harus mematuhi aturan, para pendaki juga harus memperhitungkan berbagai hal.

"Bukan mengecilkan pengalaman para pendaki, tapi bukankan lebih baik mengetahui aktivitas vulkanik gunung sebelum mendaki gunung. Mempertimbangkan cuaca sebelum memutuskan mendaki juga penting. Selain itu, pendaki juga harus benar-benar mempersiapkan kondisi fisik yang baik dan peralatan memadai, jika tak ingin mati sia-sia di atas gunung," pungkas Ayu.

Sementara para pendaki Semeru umumnya memang mengetahui adanya aturan tersebut, namun mereka tetap saja melanggar. Seperti yang diakui Hendry, seorang pendaki asal Sukabumi, Jawa Barat.
 
"Saat di Pos Ranupani, saya dan rombongan sudah diberi arahan petugas agar tak mendaki sampai puncak. Tapi kami tetap penasaran, kalau sudah ke Semeru. Tak afdol kalau tak menjejakkan kaki di puncak," ucap dia.
 
Hal senada dikatakan Yoga Aditia, pendaki asal Medan, Sumatera Utara. Ia sadar betul menabrak aturan demi memuaskan rasa penasarannya menuju puncak Mahameru.

"Saya tahu ada larangan itu, tapi tak asyik kalau tak sampai puncak Semeru," ungkap Yoga.

2 dari 2 halaman

Foto Selfie Hingga Tertimpa Batu

Jangan menoleh ke belakang jika cinta dihatimu ingin abadi. Begitulah bisik mesra Tanjakan Cinta Semeru.  (Liputan6.com/Andi Jatmiko).

Seorang pendaki asal Desa Jampang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, bernama Budiawan, terjatuh di jurang Blank 75 Gunung Semeru pada Jumat 3 Juli 2015. Korban awalnya dilaporkan tersesat atau hilang saat turun dari puncak Semeru. Setelah dilakukan penyisiran, tim SAR menemukan korban dalam posisi terjatuh di Blank 75. Ia diduga terpeleset saat foto selfie.
 
Pada Selasa 11 Agustus 2015, seorang pendaki bernama Daniel Saroha (31) asal Bogor, Jawa Barat dilaporkan hilang. Dia tersesat di jalur pendakian Gunung Semeru. Pada Kamis 13 Agustus 2015, Daniel ditemukan tim SAR di titik Sumbermani dalam kondisi selamat. Dia hanya mengalami luka-luka.

Pada Rabu 12 Agustus 2015 malam, 2 pendaki Semeru dinyatakan tertimpa batu besar yang jatuh dari puncak Mahameru. Seorang pendaki meninggal dunia, sedangkan 1 pendaki lainnya mengalami patah kaki.

Korban meninggal dunia adalah Dania Agustina Rahman (19), warga Jalan Arif Rahman Hakim Perbata No 4 RT 04 RW 04, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Sukabumi, Jawa Barat. Korban mengalami luka pada bagian kepala dan patah kaki kiri.

Korban patah kaki atas nama M Rendyka (20), mahasiswa Universitas Harapan Mandiri Medan, Sumatera Utara. Rendyka adalah warga Jalan Penguin 7 No 157 Dusun Kenanga Baru, Kecamatan Pecut Sei Tuan, Deli Serdang.

Kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 05.45 di lokasi sama, atau  sekitar 30 menit menuju puncak Mahameru. Keduanya tertimpa batu besar yang jatuh dari puncak Semeru.

Pada 3 November 2014, seorang pendaki bernama Ahmad Fauzi juga meninggal dunia. Pendaki asal Aceh Singkil ini kehilangan nyawa, setelah tertimpa batu yang jatuh dari puncak Mahameru. (Rmn/Sss)