Sukses

Ahok Pusing, Penataan PKL Lenggang Jakarta Molor Lagi

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengaku pusing, terkait pembangunan pusat pelatihan padagang kaki lima (PKL), di Lapangan Ikatan Restoran dan Taman Indonesia (IRTI) Monas.

Pembangunan harus molor dari rencana semula pada Oktober 2014. Badan Pengolaan Keuangan Daerah (BPKD) disebut Ahok sebagai penghambat kelancaran proyek tersebut.

"Lenggang Jakarta nungguin PLN. Ada salah paham, masa PLN pasang gardu (listrik), BPKD minta sewa. Gendeng nggak? Dimintain sewa. Aduh pusing saya," ucap Ahok sambil menunjukkan muka masam, Jakarta, Kamis (29/1/2015).

Ia pun meminta BPKD segera menyelesaikan persoalan gardu listrik itu. Kios-kios PKL nantinya sangat membutuhkan aliran listrik, namun PLN belum melakukan penyambungan. Ahok pun memberi tenggat waktu hingga Februari 2015 mendatang.

"Ini lagi diurus. Target bulan depan," kata mantan Bupati Belitung Timur itu.

Sementara saat dikonfirmasi, Kepala BPKD DKI Heru Budi Hartono mengatakan bahwa informasi yang dilaporkan kepada Ahok keliru. Berdasarkan penjelasan dari Unit Pelayanan (UP) Monas, justru pihak PLN yang menolak memasang aliran listrik di area tersebut, karena PKL yang sebelumnya berdagang di situ menunggak pembayaran listrik.

"Justru PLN belum mau pasang di lokasi itu karena pedagang-pedagang yang dulu nunggak sampai Rp 300 juta. Saya bilang ke UP, ya sudah bayar," kata Heru.

Namun ternyata UP Monas tak bisa membayar tunggakan tersebut karena bersifat perseorangan. Sehingga Heru menyarankan Dinas UKM DKI segera memanggil para pedagang yang menunggak pembayaran listrik itu.

"Tanya PLN siapa saja yang nunggak tinggal dipanggil. Mereka suruh bayar, kalau nggak mau lunasin, jangan dikasih kios di lenggang Jakarta. Kemarin saya sudah panggil dan suruh selesaikan," kata Heru.

Lapangan IRTI Monas akan diubah menjadi pusat pelatihan PKL. Area yang sebelumnya dijadikan lokasi parkir ini akan ditata dan diberi fasilitas seperti gerobak untuk PKL, serta kursi dan meja untuk pengunjung.

"Pusat pelatihan PKL yang paling bagus itu kami mau terapkan di Monas IRTI. Agustus saya akan buka. Nanti di IRTI namanya Lenggang Jakarta," ungkap Ahok pada 17 Juni 2014.

Menurut Ahok, lapangan IRTI Monas memang diperuntukkan sebagai salah satu lokasi binaan PKL. Namun, meski selama ini sejumlah PKL sudah mulai berjualan di lokasi itu, area tersebut justru semakin kumuh. Maka itu, Pemprov DKI mengajak pakar makanan dan chef profesional untuk melatih PKL, bagaimana menyajikan dan menjaga mutu makanan dengan baik.

Para PKL saat ini sedang diseleksi Dinas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), agar nantinya yang terpilih dilatih selama 4 hari oleh chef dan pakar makanan.

Termasuk William Wongso yang dikenal sebagai pakar kuliner dan kritikus makanan, ikut mengontrol kualitas makanan di IRTI nantinya. Tujuannya agar PKL bisa lebih teratur, bermutu, makanannya terjaga, hingga kualitas rasa makanan yang bisa setara dengan hotel berbintang, namun dengan harga kaki lima atau terjangkau.

"Jadi orang kalau masuk ke IRTI, dia akan merasakan betul jaminan mutu makanan, kenyamanan. Ini akan menjadi semacam inkubator melatih PKL khususnya kuliner untuk mengatur menjual barang yang lebih teratur dan rapi," jelas Ahok.

Penataan IRTI menjadi pusat pelatihan, merupakan bantuan corporate social responsibility (CSR) PT Anggada Putra Rekso Mulia (Grup Rekso) yang menaungi PT Sinas Sosro kepada Pemprov DKI. Biaya pelatihan hingga penyediaan fasilitas dan penataan IRTI sepenuhnya ditanggung Rekso Group senilai Rp 8 miliar hingga Rp 9 miliar, tanpa dana dari APBD DKI.

"Kerja sama dengan Rekso Group. Dia latih, pembayaran dengan e-ticketing, pelatihan, kartu parkir dan lain-lain. Rekso ini ya CSR. Cari duit CSR dong cepet. Saya di DKI 20 bulan ngandelin APBD mah nggak jalan-jalan. Ini kebetulan teman saja. Kita sampaikan masalah PKL. Dia mau bantu," jelas Ahok. (Rmn)