Liputan6.com, Jakarta: Suara kembang api yang memecah langit pada detik-detik meninggalkan tahun lama dan memasuki 2007 baru saja usai. Gemerlap pesta membuka tahun masih terasa. Tiba-tiba kabar itu menggebrak. Petang, 1 Januari, pesawat Adam Air dengan nomor penerbangan KI-574 dalam perjalanan dari Bandar Udara Djuanda Surabaya, Jawa Timur, menuju Bandara Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara, hilang.
Di Ahad (7/1) ini, tepat satu pekan pesawat Adam Air jenis Boeing 700-400 lenyap tanpa bekas. Semua pihak bahu-membahu mencari jejak burung besi ini. Sejumlah pakar dari Dewan Keselamatan Transportasi Amerika Serikat tiba di Makassar, Sulawesi Selatan, kemarin. Mereka akan membantu pencarian pesawat nahas.
Sahdan, 1 Januari, pukul 12.59 WIB, pesawat berpenumpang 102 orang, termasuk awak kabin, lepas landas dari Bandara Djuanda. Badan Meteorologi dan Geofisika memberi sinyal cuaca tak aman. Kecepatan angin sekitar 30 knot atau 55 kilometer per jam. Tingkat awan berjenis kumulonimbus dengan kepekatan III. Ini adalah jenis awan yang sulit ditembus pesawat.
Baru satu jam tujuh menit mengangkasa, pesawat dengan nomor registrasi PK-KKW itu kehilangan kontak dengan pusat pengendali udara (ATC) Bandara Hasanuddin Makasar, Sulawesi Selatan. Saat itu, burung besi yang dipiloti Kapten Refri A. Widodo dan Kopilot Yoga berada di ketinggian 35 ribu kaki atau sekitar 10.600 meter di atas bumi. Posisi pesawat berada di 85 mil laut sebelah barat Laut Makassar.
Sebelum jatuh, pilot sempat melaporkan ada cross wind atau angin dari samping yang cukup kuat. Angin ini berkecepatan 130 kilometer per jam. Sejenak kemudian pesawat hilang dari radar Bandara Makassar.
Benarkah pesawat Adam Air nahas lenyap karena nekat menerebos cuaca buruk? Tim Sigi mendapat informasi dari sejumlah pilot senior yang menyebutkan sejumlah maskapai swasta memang tak segan-segan memaksa pilot untuk tetap terbang meski kondisi tidak memungkinkan, misalnya ada kerusakan ringan atau cuaca buruk.
Kasus-kasus akibat instruksi ini sudah menjadi keprihatinan banyak pihak. Pada 14 maret 2006, 17 pilot eks Adam Air bersama Federasi Pilot Indonesia mengadukan kasus-kasus seperti itu ke Komisi VI DPR.
Dalam musibah Adam Air KI-574, manajeman Adam Air meyakinkan bahwa pesawat yang baru setahun disewa dari International Lease Finance Corporation itu dalam kondisi prima. Pesawat layak terbang. Sertifikasi pesawat masih berlaku hingga 19 Januari ini.
Sudah tiga jam lebih layar petunjuk kedatangan Bandara Sam Ratulangi tidak berubah. Pesawat Adam Air dengan nomor penerbangan KI-574 yang seharusnya mendarat pukul 15.14 WITA masih tertera tulisan delay alias terlambat. Waktu bergulir sampai tengah malam. Sanak keluarga yang menunggu penumpang pesawat ini mulai cemas dan bertanya-tanya.
Radar Singapura menangkap sinyal emergency locator beacon (Elba) pesawat Adam Air di daerah Rantepao, Tana Toraja, Sulsel. Berdasarkan data dari radar Singapura, pesawat intai mengitari kawasan Rantepao-Mamuju, Sulawesi Barat, selama tiga jam. Pencarian berakhir tanpa hasil.
Hatta Rajasa, Menteri Perhubungan, mengatakan radar penangkap sinyal Elba milik Indonesia rusak sejak sepekan sebelum musibah menimpa. Namun, Tim Sigi mendapati bukti radar saat itu berfungsi baik. Namun, posisi radar Singapura lebih dekat sehingga Singapuralah yang menangkap sinyal Elba armada Adam Air yang raib itu.
Sehari setelah pesawat Adam Air lenyap, terdengar kabar bangkai pesawat telah diketemukan. Di pagi hari, kabar penemuan bangkai pesawat jurusan Jakarta-Manado via Surabaya merebak. Menurut kabar, pesawat telah ditemukan masyarakat di kawasan Ranguan, Kabupaten Polewali Mandar, Sulbar. Kabar penemuan pun terdengar ke pejabat setempat. Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara Hasanuddin Marsekal TNI Pertama Eddy Suyanto yang pertama kali mengumumkan. Menteri Hatta Rajasa berbicara tak lama berselang bahwa pesawat Adam Air telah ditemukan dengan rincian korban tewas 90 orang dan 12 orang selamat.
Rombongan wartawan yang berjalan 30 kilometer dari Desa Rangoan menemukan fakta warga setempat belum melihat satu pun jenazah penumpang Adam Air. Namun berita tentang kematian penumpang Adam Air sudah telanjur beredar. Bahkan, Komite Nasional Keselamatan Transportasi juga mengumumkan hal yang sama dengan keterangan Menteri Perhubungan. Namun, Tim Search dan Rescue tidak bisa bergerak karena hujan. Informasi yang sama juga datang dari pihak Adam Air.
Ternyata semua berita itu bohong. Menteri Hatta Rajasa menggelar konperensi pers khusus untuk mengoreksi berita tidak benar itu. Posisi pesawat yang sudah terbang lebih dari 41 ribu jam itu masih menjadi misteri.
Keluarga korban yang berharap cemas terhadap nasib saudara mereka kian lemas. Beberapa orang meluapkan emosinya apalagi melihat ketidaksigapan kru Adam Air melayani mereka. Keluarga penumpang marah.
Penyisiran untuk menemukan jejak pesawat Adam Air melalui jalan panjang dan berliku entah di darat, laut, dan udara. Tim Sigi mengikuti pencarian pesawat dengan kapal pengintai Nomad Skuadron Udara 800 Wing Komando Armada Timur TNI Angkatan Laut. Saat pencarian, pesawat ini mendapati badai cyclone yang melintas di atas Selat Makassar.
Di Pantai Tara Ujung, Pambuang, Kabupaten Majene, Sulbar, tim mendapati sejumlah baju, sepatu, dan sandal yang terseret arus ke tepi. Namun, warga setempat mengatakan itu hal yang biasa. Bahkan warga pantai mengakui jika masih layak, mereka sering menggunakan barang-barang yang terdampar di pantai. Karena itu, mereka sangsi baju-baju yang ditemukan tim milik penumpang Adam Air yang belum ditemukan.
Ratusan tentara, polisi, anggota Palang Merah Indonesia, dan warga bergerak ke berbagai tempat. Di Sulbar, tim ini melakukan pencarian dengan menembus Pegunungan Limboro dan sekitarnya. Pencarian berdasarkan kesaksian warga yang sempat melihat pesawat terbang rendah menuju Gunung Limboro. Namun, sejauh ini, Tim SAR yang memasuki kedalaman hutan belum menemukan lokasi kecelakaan pesawat.
Di Kabupaten Tana Toraja, Sulsel, Tim SAR dan warga menyisir hingga pengunungan Sinaji yang berada di perbatasan Kabupaten Toraja Enrekang dan Kabupaten Luwu. Tim juga menyisir daerah pegunungan Sarira di Kecamatan Sanggalangi. Pada hari kejadian, seorang warga mendengar ledakan keras dari arah balik gunung. Namun, tim tak menemukan apa-apa.
Tim SAR Manado sejak Jumat silam memfokuskan pencarian pesawat Adam Air di wilayah Pegunungan Rata Uyu di Kecamatan Noangan, Bolaangmongondow. Tim SAR yang melakukan penyisiran dengan menelusuri jalan setapak di pegunungan tidak menemukan tanda-tanda lokasi kecelakaan pesawat Adam Air.
Angkatan Udara Singapura yang membawa pesawat Fokker 50 yang dilengkapi alat infra merah terus menyisiri setiap gunung. Semula fokus pencarian didasarkan sinyal Elba. Areal pencarian adalah selatan Makassar, Mamuju, Majene, Polewali Mandar, Tana Toraja, dan Pare-pare.
Pencarian pesawat membuat semua mata memandang pada perusahaan maskapai penerbangan swasta ini. Adam Air berdiri dengan nama perusahaan PT Adam Skyconnection Airlines. Usia maskapai ini tergolong sangat muda karena baru beroperasi sejak 19 Desember 2003. Awalnya Adam Air hanya bermodalkan US$ 10 juta atau sekitar Rp 9 miliar. Pesawat yang dimiliki saat itu hanya dua: Boeing 737 seri 400 dan Boeing 737 seri 500. Ini pun pesawat sewaan.
Tapi gerakan Adam Air sangat cepat. Kini, Adam Air memiliki 22 armada. Semunya jenis Boeing 737 dari berbagai seri mulai dari 200, 300, 400, dan seri 500. Tahun iini, Adam Air berencana menambah 10 pesawat air bus A-320. Sukses Adam Air membawa maskapai ini menerima penghargaan internasional award of merit untuk kategori airline bertarif murah atau low cost airline pada 8 November tahun kemarin.
Saham Adam Air dipegang oleh keluarga pasangan Suherman dan Sandra Ang. Pemegang saham lain adalah Agung Laksono, politisi Partai Golongan Karya yang juga Ketua DPR. Buktinya, ketika Adam Air memperkenalkan jalur penerbangan Jakarta-Singapura pertengahan Maret 2006, Agung selaku Komisaris Adam Air mengirimkan undangan ke para wakil rakyat di Komisi V untuk meresmikan trayek baru itu.
Tindakan ini menuai protes. Apalagi, di saat Komisi V sedang mencermati kasus-kasus kecelakaan pesawat, termasuk yang dialami Adam Air.
Namun, Agung membantah memiliki saham di Adam Air sejak dia menjadi Ketua DPR. Meski kamera SCTV merekam nama dan foto Agung Laksono yang terpampang bersama direksi lain di Kantor Pusat Adam Air di daerah Kalideres, Jakarta Barat.
Pernyataan Agung ini ditanggapi sinis oleh anggota DPR Alvin Lie. Anggota Komisi V DPR ini melihat Agung seolah-olah ingin cuci tangan. Menurut Alvin, Agung hanya mau tampil dalam kegiatan-kegiatan yang membanggakan tapi justru menafikkan keterkaitan dirinya dengan Adam Air saat perusahaan menghadapi bencana. "Mutu seorang pemimpin di uji pada saat krisis, bukan ada krisis lepas tangan," kata Alvin. Dia juga menegaskan memiliki bukti bahwa tidak benar sejak menjadi Ketua DPR Agung mundur dari Adam Air.
Di sisi lain, Adam Air juga membukukan catatan kontroversial. Sebut saja, sejumlah kecelakaan yang tidak tertuntaskan oleh pemerintah. Sejumlah sumber di Departeman Perhubungan mengatakan ini terkait nama besar di balik Adam Air.
Pada penerbangan KL-296, 3 September 2006, Adam Air mengalami pecah ban, tapi justru menuduh ada benda asing di landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, sebagai penyebab. Yang paling heboh adalah saat pesawat Adam Air jenis Boeing 737-300 jurusan Jakarta-Makassar tersesat dari rutenya pada 11 Februari 2006. Pesawat ini mendarat di bandara kecil di Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat, Nusatenggara Timur, akibat kerusakan alat navigasi.
Alih-alih meng-grounded pesawat agar bisa diinvestigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi, pihak Adam Air justru mengirim pesawat lain ke bandara itu untuk menjemput para penumpang dan menerbangkan pesawat yang rusak itu ke bandara tujuan Makassar. Padahal, Tim Komite Transportasi belum tiba dan Bandara Tambolaka jauh dari layak disinggahi pesawat berbadan lebar seperti boeing milik Adam Air itu. Alhasil, pesawat ini didorong-dorong warga layaknya angkutan kota yang mogok. Fakta ini jelas-jelas tidak bisa dibenarkah menurut standar penerbangan sipil internasional (ICAO).
Berbagai insiden dan kecelakaan besar pesawat terjadi di negeri ini. Ada kecelakaan pesawat Lion Air di Solo, Jawa Tengah, yang menewaskan 116 orang. Juga musibah penerbangan yang menimpa Mandala Air dan sejumlah kecelakaan lain. Indonesia menempati peringkat teratas di Asia dalam rekor kecelakaan pesawat. Rata-rata setiap tahun terjadi sembilan kasus kecelakaan pesawat dengan sejumlah nyawa melayang.
Kasus Adam Air nomor penerbangan KI-574 awal tahun ini menambah panjang catatan hitam penerbangan Indonesia. Itu semua terjadi dengan berbagai alasan. Mulai dari kelemahan teknologi, cuaca, dan bukan tidak mungkin lantaran keteledoran yang akumulatif dari orang-orang di bisnis penerbangan itu sendiri.
Saat ini, ada 25 perusahaan penerbangan komersial dan 12 penerbangan carteran atau sewaan khusus. Sayang angka kecelakaan pesawat di Indonesia justru makin tinggi sebanding dengan perusahaan penerbangan lokal yang begitu menjamur.
Hingga kini, keluarga para penumpang Adam Air menanti dengan kesabaran dan ketabahan tak berbatas. Peti-peti jenazah telah berjejer rapi. Seolah mengembuskan pesan kuat tentang kematian.(TNA/Tim Sigi)
Di Ahad (7/1) ini, tepat satu pekan pesawat Adam Air jenis Boeing 700-400 lenyap tanpa bekas. Semua pihak bahu-membahu mencari jejak burung besi ini. Sejumlah pakar dari Dewan Keselamatan Transportasi Amerika Serikat tiba di Makassar, Sulawesi Selatan, kemarin. Mereka akan membantu pencarian pesawat nahas.
Sahdan, 1 Januari, pukul 12.59 WIB, pesawat berpenumpang 102 orang, termasuk awak kabin, lepas landas dari Bandara Djuanda. Badan Meteorologi dan Geofisika memberi sinyal cuaca tak aman. Kecepatan angin sekitar 30 knot atau 55 kilometer per jam. Tingkat awan berjenis kumulonimbus dengan kepekatan III. Ini adalah jenis awan yang sulit ditembus pesawat.
Baru satu jam tujuh menit mengangkasa, pesawat dengan nomor registrasi PK-KKW itu kehilangan kontak dengan pusat pengendali udara (ATC) Bandara Hasanuddin Makasar, Sulawesi Selatan. Saat itu, burung besi yang dipiloti Kapten Refri A. Widodo dan Kopilot Yoga berada di ketinggian 35 ribu kaki atau sekitar 10.600 meter di atas bumi. Posisi pesawat berada di 85 mil laut sebelah barat Laut Makassar.
Sebelum jatuh, pilot sempat melaporkan ada cross wind atau angin dari samping yang cukup kuat. Angin ini berkecepatan 130 kilometer per jam. Sejenak kemudian pesawat hilang dari radar Bandara Makassar.
Benarkah pesawat Adam Air nahas lenyap karena nekat menerebos cuaca buruk? Tim Sigi mendapat informasi dari sejumlah pilot senior yang menyebutkan sejumlah maskapai swasta memang tak segan-segan memaksa pilot untuk tetap terbang meski kondisi tidak memungkinkan, misalnya ada kerusakan ringan atau cuaca buruk.
Kasus-kasus akibat instruksi ini sudah menjadi keprihatinan banyak pihak. Pada 14 maret 2006, 17 pilot eks Adam Air bersama Federasi Pilot Indonesia mengadukan kasus-kasus seperti itu ke Komisi VI DPR.
Dalam musibah Adam Air KI-574, manajeman Adam Air meyakinkan bahwa pesawat yang baru setahun disewa dari International Lease Finance Corporation itu dalam kondisi prima. Pesawat layak terbang. Sertifikasi pesawat masih berlaku hingga 19 Januari ini.
Sudah tiga jam lebih layar petunjuk kedatangan Bandara Sam Ratulangi tidak berubah. Pesawat Adam Air dengan nomor penerbangan KI-574 yang seharusnya mendarat pukul 15.14 WITA masih tertera tulisan delay alias terlambat. Waktu bergulir sampai tengah malam. Sanak keluarga yang menunggu penumpang pesawat ini mulai cemas dan bertanya-tanya.
Radar Singapura menangkap sinyal emergency locator beacon (Elba) pesawat Adam Air di daerah Rantepao, Tana Toraja, Sulsel. Berdasarkan data dari radar Singapura, pesawat intai mengitari kawasan Rantepao-Mamuju, Sulawesi Barat, selama tiga jam. Pencarian berakhir tanpa hasil.
Hatta Rajasa, Menteri Perhubungan, mengatakan radar penangkap sinyal Elba milik Indonesia rusak sejak sepekan sebelum musibah menimpa. Namun, Tim Sigi mendapati bukti radar saat itu berfungsi baik. Namun, posisi radar Singapura lebih dekat sehingga Singapuralah yang menangkap sinyal Elba armada Adam Air yang raib itu.
Sehari setelah pesawat Adam Air lenyap, terdengar kabar bangkai pesawat telah diketemukan. Di pagi hari, kabar penemuan bangkai pesawat jurusan Jakarta-Manado via Surabaya merebak. Menurut kabar, pesawat telah ditemukan masyarakat di kawasan Ranguan, Kabupaten Polewali Mandar, Sulbar. Kabar penemuan pun terdengar ke pejabat setempat. Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara Hasanuddin Marsekal TNI Pertama Eddy Suyanto yang pertama kali mengumumkan. Menteri Hatta Rajasa berbicara tak lama berselang bahwa pesawat Adam Air telah ditemukan dengan rincian korban tewas 90 orang dan 12 orang selamat.
Rombongan wartawan yang berjalan 30 kilometer dari Desa Rangoan menemukan fakta warga setempat belum melihat satu pun jenazah penumpang Adam Air. Namun berita tentang kematian penumpang Adam Air sudah telanjur beredar. Bahkan, Komite Nasional Keselamatan Transportasi juga mengumumkan hal yang sama dengan keterangan Menteri Perhubungan. Namun, Tim Search dan Rescue tidak bisa bergerak karena hujan. Informasi yang sama juga datang dari pihak Adam Air.
Ternyata semua berita itu bohong. Menteri Hatta Rajasa menggelar konperensi pers khusus untuk mengoreksi berita tidak benar itu. Posisi pesawat yang sudah terbang lebih dari 41 ribu jam itu masih menjadi misteri.
Keluarga korban yang berharap cemas terhadap nasib saudara mereka kian lemas. Beberapa orang meluapkan emosinya apalagi melihat ketidaksigapan kru Adam Air melayani mereka. Keluarga penumpang marah.
Penyisiran untuk menemukan jejak pesawat Adam Air melalui jalan panjang dan berliku entah di darat, laut, dan udara. Tim Sigi mengikuti pencarian pesawat dengan kapal pengintai Nomad Skuadron Udara 800 Wing Komando Armada Timur TNI Angkatan Laut. Saat pencarian, pesawat ini mendapati badai cyclone yang melintas di atas Selat Makassar.
Di Pantai Tara Ujung, Pambuang, Kabupaten Majene, Sulbar, tim mendapati sejumlah baju, sepatu, dan sandal yang terseret arus ke tepi. Namun, warga setempat mengatakan itu hal yang biasa. Bahkan warga pantai mengakui jika masih layak, mereka sering menggunakan barang-barang yang terdampar di pantai. Karena itu, mereka sangsi baju-baju yang ditemukan tim milik penumpang Adam Air yang belum ditemukan.
Ratusan tentara, polisi, anggota Palang Merah Indonesia, dan warga bergerak ke berbagai tempat. Di Sulbar, tim ini melakukan pencarian dengan menembus Pegunungan Limboro dan sekitarnya. Pencarian berdasarkan kesaksian warga yang sempat melihat pesawat terbang rendah menuju Gunung Limboro. Namun, sejauh ini, Tim SAR yang memasuki kedalaman hutan belum menemukan lokasi kecelakaan pesawat.
Di Kabupaten Tana Toraja, Sulsel, Tim SAR dan warga menyisir hingga pengunungan Sinaji yang berada di perbatasan Kabupaten Toraja Enrekang dan Kabupaten Luwu. Tim juga menyisir daerah pegunungan Sarira di Kecamatan Sanggalangi. Pada hari kejadian, seorang warga mendengar ledakan keras dari arah balik gunung. Namun, tim tak menemukan apa-apa.
Tim SAR Manado sejak Jumat silam memfokuskan pencarian pesawat Adam Air di wilayah Pegunungan Rata Uyu di Kecamatan Noangan, Bolaangmongondow. Tim SAR yang melakukan penyisiran dengan menelusuri jalan setapak di pegunungan tidak menemukan tanda-tanda lokasi kecelakaan pesawat Adam Air.
Angkatan Udara Singapura yang membawa pesawat Fokker 50 yang dilengkapi alat infra merah terus menyisiri setiap gunung. Semula fokus pencarian didasarkan sinyal Elba. Areal pencarian adalah selatan Makassar, Mamuju, Majene, Polewali Mandar, Tana Toraja, dan Pare-pare.
Pencarian pesawat membuat semua mata memandang pada perusahaan maskapai penerbangan swasta ini. Adam Air berdiri dengan nama perusahaan PT Adam Skyconnection Airlines. Usia maskapai ini tergolong sangat muda karena baru beroperasi sejak 19 Desember 2003. Awalnya Adam Air hanya bermodalkan US$ 10 juta atau sekitar Rp 9 miliar. Pesawat yang dimiliki saat itu hanya dua: Boeing 737 seri 400 dan Boeing 737 seri 500. Ini pun pesawat sewaan.
Tapi gerakan Adam Air sangat cepat. Kini, Adam Air memiliki 22 armada. Semunya jenis Boeing 737 dari berbagai seri mulai dari 200, 300, 400, dan seri 500. Tahun iini, Adam Air berencana menambah 10 pesawat air bus A-320. Sukses Adam Air membawa maskapai ini menerima penghargaan internasional award of merit untuk kategori airline bertarif murah atau low cost airline pada 8 November tahun kemarin.
Saham Adam Air dipegang oleh keluarga pasangan Suherman dan Sandra Ang. Pemegang saham lain adalah Agung Laksono, politisi Partai Golongan Karya yang juga Ketua DPR. Buktinya, ketika Adam Air memperkenalkan jalur penerbangan Jakarta-Singapura pertengahan Maret 2006, Agung selaku Komisaris Adam Air mengirimkan undangan ke para wakil rakyat di Komisi V untuk meresmikan trayek baru itu.
Tindakan ini menuai protes. Apalagi, di saat Komisi V sedang mencermati kasus-kasus kecelakaan pesawat, termasuk yang dialami Adam Air.
Namun, Agung membantah memiliki saham di Adam Air sejak dia menjadi Ketua DPR. Meski kamera SCTV merekam nama dan foto Agung Laksono yang terpampang bersama direksi lain di Kantor Pusat Adam Air di daerah Kalideres, Jakarta Barat.
Pernyataan Agung ini ditanggapi sinis oleh anggota DPR Alvin Lie. Anggota Komisi V DPR ini melihat Agung seolah-olah ingin cuci tangan. Menurut Alvin, Agung hanya mau tampil dalam kegiatan-kegiatan yang membanggakan tapi justru menafikkan keterkaitan dirinya dengan Adam Air saat perusahaan menghadapi bencana. "Mutu seorang pemimpin di uji pada saat krisis, bukan ada krisis lepas tangan," kata Alvin. Dia juga menegaskan memiliki bukti bahwa tidak benar sejak menjadi Ketua DPR Agung mundur dari Adam Air.
Di sisi lain, Adam Air juga membukukan catatan kontroversial. Sebut saja, sejumlah kecelakaan yang tidak tertuntaskan oleh pemerintah. Sejumlah sumber di Departeman Perhubungan mengatakan ini terkait nama besar di balik Adam Air.
Pada penerbangan KL-296, 3 September 2006, Adam Air mengalami pecah ban, tapi justru menuduh ada benda asing di landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, sebagai penyebab. Yang paling heboh adalah saat pesawat Adam Air jenis Boeing 737-300 jurusan Jakarta-Makassar tersesat dari rutenya pada 11 Februari 2006. Pesawat ini mendarat di bandara kecil di Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat, Nusatenggara Timur, akibat kerusakan alat navigasi.
Alih-alih meng-grounded pesawat agar bisa diinvestigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi, pihak Adam Air justru mengirim pesawat lain ke bandara itu untuk menjemput para penumpang dan menerbangkan pesawat yang rusak itu ke bandara tujuan Makassar. Padahal, Tim Komite Transportasi belum tiba dan Bandara Tambolaka jauh dari layak disinggahi pesawat berbadan lebar seperti boeing milik Adam Air itu. Alhasil, pesawat ini didorong-dorong warga layaknya angkutan kota yang mogok. Fakta ini jelas-jelas tidak bisa dibenarkah menurut standar penerbangan sipil internasional (ICAO).
Berbagai insiden dan kecelakaan besar pesawat terjadi di negeri ini. Ada kecelakaan pesawat Lion Air di Solo, Jawa Tengah, yang menewaskan 116 orang. Juga musibah penerbangan yang menimpa Mandala Air dan sejumlah kecelakaan lain. Indonesia menempati peringkat teratas di Asia dalam rekor kecelakaan pesawat. Rata-rata setiap tahun terjadi sembilan kasus kecelakaan pesawat dengan sejumlah nyawa melayang.
Kasus Adam Air nomor penerbangan KI-574 awal tahun ini menambah panjang catatan hitam penerbangan Indonesia. Itu semua terjadi dengan berbagai alasan. Mulai dari kelemahan teknologi, cuaca, dan bukan tidak mungkin lantaran keteledoran yang akumulatif dari orang-orang di bisnis penerbangan itu sendiri.
Saat ini, ada 25 perusahaan penerbangan komersial dan 12 penerbangan carteran atau sewaan khusus. Sayang angka kecelakaan pesawat di Indonesia justru makin tinggi sebanding dengan perusahaan penerbangan lokal yang begitu menjamur.
Hingga kini, keluarga para penumpang Adam Air menanti dengan kesabaran dan ketabahan tak berbatas. Peti-peti jenazah telah berjejer rapi. Seolah mengembuskan pesan kuat tentang kematian.(TNA/Tim Sigi)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300009/original/089493000_1784283677-Untitled_design.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297860/original/099954200_1784109220-cek_fakta_-_purbaya_kuis_tebak_nama_kota.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5380981/original/046199200_1760441878-klaim_link_magang_kemnaker.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299864/original/085658400_1784277079-pupuk_subsidi_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/471640/original/070107bsigi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299067/original/052484900_1784191879-lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4256851/original/004151200_1670703759-7_AP22344709351178.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299482/original/065812300_1784259465-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297796/original/002584500_1784106935-didier.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299317/original/088764800_1784212809-argentina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297046/original/098584500_1784067058-Spain_s_Mikel_Oyarzabal__left__celebrates.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300004/original/015093400_1784283318-000_C2EH69E.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4246766/original/006828700_1669910509-AP22335568653043.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262483/original/075097700_1781805987-Argentina_s_Lionel_Messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295935/original/031909000_1783995386-063_2285696199.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4256899/original/040579900_1670717208-Inggris_vs_Prancis_di_Laga_Perempat_Final_Piala_Dunia_2022-AP__11_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4205869/original/033832800_1666872124-000_32G277K.jpg)