Angkutan Laut Menjadi Alternatif di Aceh

Sejak terjadi gangguan jalur lalu lintas darat, masyarakat Banda Aceh memilih transportasi laut. Kapal Motor Sangiang tak mampu menghadapi ledakan penumpang.

Diterbitkan 20 Mei 2001, 13:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Banda Aceh: Gara-gara bus antarkota dan provinsi mogok, masyarakat Aceh lebih memilih transportasi laut. Perubahan ini menyebabkan kepadatan di Pelabuhan Malahayati, Banda Aceh dalam beberapa hari belakangan ini. Kapal Motor Sangiang--satu-satunya alat trasportasi laut--kewalahan menghadapi ledakan penumpang tersebut. Demikian pemantauan SCTV di pelabuban tersebut, baru-baru ini.

Selain arus penumpang, pasokan bahan pokok dari luar provinsi juga menumpuk di pelabuhan tersebut. Kendati demikian, harga sejumlah kebutuhan pokok di Banda Aceh masih cukup tinggi [baca: Harga Minyak Tanah di Aceh Melambung]. Soalnya, angkutan barang ke Aceh masih belum normal. Hingga kini, harga minyak goreng curah mencapai Rp 5.000 per kilogram. Begitu pula, harga telur ayam ras mencapai Rp 600 per butir.

Sementara itu, bus antarkota dan provinsi mulai kembali beroperasi. Sebelumnya, pungli dan pemblokiran jalan sepanjang jalur Banda Aceh-Medan menjadi penyebab aksi pemogokan tersebut [baca: Sopir Bus Medan-Aceh Mogok].(AWD/Mukhtarudin Yakob dan Feri Efendi)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6