Distribusi Bantuan Masih Lamban

Korban bencana alam gempa bumi di Yogyakarta masih mengeluhkan lambannya bantuan. Gubernur Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X mengakui terlambatnya distribusi bantuan karena terbatasnya tenaga yang menyalurkan.

Diterbitkan 30 Mei 2006, 19:01 WIB
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Yogyakarta: Distribusi bantuan kepada korban bencana alam gempa bumi di Yogyakarta masih lamban, Selasa (30/5). Masih banyak warga yang mengeluh belum menerima bantuan. Saritem, misalnya. Sejak musibah akhir pekan silam, warga Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul ini, sama sekali belum menerima bantuan. Sedangkan persediaan bahan makanan yang dimilikinya juga sudah habis.

Untuk memenuhi kebutuhannya, Saritem dengan mengayuh sepeda sejauh 10 kilometer terpaksa mendatangi sendiri posko bantuan di Bantul, Yogyarkarta. Sesampainya di posko, Saritem juga harus meyakinkan petugas sebelum menerima dua kardus mi instan untuk keperluan 19 orang anggota keluarganya. Di Kecamatan Pandak, Bantul, dari 6.200 warganya tercatat 90 orang tewas dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal.

Menurut Gubernur Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X, lambannya distribusi bantuan di daerah ini diakibatkan terbatasnya tenaga yang menyalurkan. "Kami memang masih memiliki kesulitan. Tidak hanya soal konsolidasi tapi juga transportasi," kata Sultan. 

Masih terbatasnya bantuan yang sampai kepada warga memaksa mereka meminta-minta bantuan di pinggir jalan. Warga yang sudah kehilangan tempat tinggal dan harta benda kini harus membuang rasa malu demi melanjutkan hidup di pengungsian [baca: Kondisi Korban Gempa Masih Memprihatinkan].

Supri warga Kecamatan Jetis, setiap hari mengasongkan-asongkan kotak kardus kepada setiap kendaraan yang melintas di jalanan. Perempuan ini terpaksa mengemis meminta uang untuk memenuhi kebutuhan hidup orang tua dan lima saudaranya yang tinggal di sebuah bangunan darurat.

Aktivitas semacam ini tidak hanya dilakukan Supri tapi banyak juga dilakukan korban gempa lainnya. Sebenarnya, Supri yang sehari-hari bekerja sebagi buruh pengrajin ini lebih berharap adanya bantuan dari para dermawan agar kehidupannya kembali normal.(IAN/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6