Sukses

Tumpang Negeri, Penolak Bala Raja Landak

Liputan6.com, Landak: Hingga bulan berganti tahun, Sungai Landak ini menjadi urat nadi kehidupan warga Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Tapi, sesungguhnya terselip kekhawatiran saat terdengar kabar banjir bandang menerjang di beberapa daerah. Mereka khawatir bencana alam itu akan terjadi di daerah mereka. Di saat kekhawatiran itulah, keturunan Kerajaan Landak, sebuah kerajaan melayu bekas jajahan Majapahit di kawasan Ngabang, membangkitkan ritual Tumpang Negeri. Sebuah ritual warisan terakhir Kerajaan Landak untuk memohon perlindungan Sang Pencipta agar terhindar dari marabahaya dan bencana.

Kerajaan Landak memiliki catatan sejarah yang panjang. Landak dipakai sebagai nama kerajaan karena banjir yang sering melanda Kampung Landak. Kerajaan Melayu yang dibangun Abad ke-14 oleh Raja Pulang Pali ini nyaris tergerus lebih dari 60 tahun pascapemerintahan kolonial Belanda dan Jepang. Satu abad kemudian, sang raja yang menganut ajaran Hindu berhubungan dengan saudagar Malaka yang memberi napas Islam. Kala itu, ajaran Islam mulai dianut Raja Abdul Kahar atau Ismahayana. Di era itulah, Tradisi Tumpang Negeri atau ritual penolak bala mulai dilakukan. Hingga akhirnya ritual terakhir dilakukan enam tahun silam.

Prosesi Tumpang Negeri diawali dengan ritual Buang-Buang. Dalam prosesi ini, Pangeran Landak ke-39 dibantu seorang pawang menghaturkan sesajian nasi pulut atau nasi kuning untuk mencegah pengaruh buruk ritual Tumpang Negeri. Ritual Buang-Buang sendiri menyimpan mitos dan legenda Tanah Landak. Konon, ini dilakukan sebagai lambang penghormatan dan permohonan kepada leluhur mereka yang dibuang ke sungai. Sebagian warga mempercayai mitos itu dengan membuang tujuh macam makanan. Sebuah simbol yang dipercaya dapat mewakili kesuburan tanah mereka yang dialiri Sungai Landak.

Beberapa persembahan juga disediakan dengan maksud untuk meminta keselamatan bagi seluruh umat. Wujudnya disimbolkan dengan sebuah perahu rakit. Dalam kepercayaan mereka, roh-roh jahat yang singgah perlu diantarkan pergi agar tak menimbulkan malapetaka. Ini tak lebih dari sebuah permohonan halus agar roh gaib tak murka. Perahu nantinya dibekali makanan seperti layaknya perahu berpenumpang yang akan bepergian jauh. Sesajian di atas perahu sebagai bekal bagi roh yang diusir pergi. Perahu yang didesain khusus ini menjadi penutup dari ritual Tumpang Negeri. Esok, perahu dari kayu meranti akan dilarung ke arah muara Sungai Landak.

Hari yang ditunggu telah tiba. Sejak pagi, para abdi Keraton Landak disibukkan dengan persiapan ritual Tumpang Negeri. Para abdi dalem rata-rata berusia lanjut dan bekerja sukarela demi kelangsungan tradisi leluhur. Mereka menyiapkan tumpang atau tempat sesaji dengan untaian janur kuning yang dipercaya bisa mengabulkan doa mereka. Di tempat lain, kaum wanita tengah mempersiapkan sesajian khusus yang hanya bisa dikerjakan para wanita yang sudah menopause. Sebutan bagi mereka adalah wanita suci.

Beberapa sesajian dibuat seperti nasi pulut yang melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan. Mereka membuat lima macam penganan, laksana pandangan lima rukun dalam agama Islam. Adapun patung yang terbuat dari tepung adalah wujud laki-laki dan perempuan yang kelak ikut dilarung. Persediaan larung mirip persiapan awak kapal yang akan berlayar. Segala macam bumbu dapur dan beras disiapkan sebagai bekal bagi roh gaib yang diyakini akan ikut melarung. Sore harinya, perahu rakit diusung dan diarak ke keraton untuk didoakan oleh keturunan terakhir Kerajaan Landak, yakni Pangeran Ratu Gusti Suriansyah yang dianggap sebagai wali bagi warganya.

Perahu rakit sarat makanan itu akhirnya dilarung di muara Sungai Landak dan Munggu. Sungai pertemuan di antara pusat bekas Kerajaan Landak di zaman dulu. Perjalanan perahu seolah menyiratkan harapan masyarakat Landak yang pernah dilanda banjir bandang beberapa tahun silam. Sebuah harapan yang terus digulirkan agar terhindar dari segala bencana di masa-masa mendatang.(ORS/Hardjuno Pramundito dan Bondan Wicaksono)