Marawis, Seni Musik Bernuansa Islami

Saat bulan puasa atau Hari Raya Idul Fitri, lagu dan musik dengan nuansa islami ramai didendangkan. Marawis, misalnya. Namun salah satu seni musik bernuansa islami ini lebih dekat dengan acara amal ketimbang komersial.

Diterbitkan 03 November 2005, 15:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Ada pertunjukan musik yang cukup menarik di kawasan Cakung, Jakarta Timur, baru-baru ini. Beberapa anak usia sekolah yang berbusana muslim tampak memainkan sejumlah alat musik. Mereka pun hanyut dalam alunan dinamis dan penuh hentakan dari alat musik yang sebagian besar didominasi oleh kendang berbagai ukuran itu. Jangan salah, alat musik itu memang mirip kendang tapi namanya berbeda. Kendang berdiameter sekitar 25 sentimeter itu disebut marawis.

Pada Hari Raya Idul Fitri seperti saat ini pun marawis dimainkan. Para pemainnya adalah puluhan anak-anak yang sedang menikmati libur sekolah di kawasan Cakung. Mereka berkumpul untuk melatih keterampilan bermain marawis. Bahkan, hampir setiap petang di bulan Ramadan, mereka asyik berlatih memainkan alat musik tersebut.

Syahdan, marawis adalah permainan alat-alat musik yang dibawa oleh para saudagar Islam dari Yaman. Belakangan, marawis beradaptasi dengan budaya lokal dan mulai dimainkan oleh kelompok musik marawis di Ibu Kota.

Asal mula marawis berkembang di Jakarta, diperkuat keterangan Usman Sofiyan. Menurut Usman yang tak lain pengasuh Grup Marawis Asy-Syafagoh, perkembangan marawis bermula di kampung-kampung yang memang bernuansa Islam. Tepatnya, perkampungan yang penduduknya campuran etnis Betawi dan Arab. "Di sanalah berkembangnya gambus dan marawis," ungkap Usman.

Adapun pola permainan marawis sangat sederhana, namun dibutuhkan konsentrasi tinggi. Para pemain yang harus saling mengisi nada membuat permainan marawis terlihat rumit. Teknik ini di kalangan pemain marawis dikenal dengan istilah "tanya dan jawab". Nah, dari pola permainan inilah lahir tiga bentuk irama atau pukulan dalam marawis, yakni sarah, zahefa, dan zapin.

Permainan marawis semakin berkembang dari bentuk asalnya, seiring dengan bertambahnya alat musik modern, seperti biola dan keyboard. Marawis juga kerap digunakan untuk mengiringi tarian samhar. Tarian ini hanya dibawakan oleh laki-laki yang juga merupakan anggota dari kelompok marawis tersebut.

Ada manfaat lain dari marawis. Kesenian yang didominasi perkusi ini dapat mencegah para pemainnya terpengaruh hal-hal yang negatif. Ini dibenarkan Ahmad Fairuz. Ketua Kelompok Marawis Asy-syafagoh mengatakan, marawis dapat memotivasi para pemainnya untuk menjauhi pergaulan yang tidak benar. Faedah lainnya, si pemain dapat mengembangkan kesenian bernuansa islami.

Sedangkan bagi kebanyakan pemain marawis, pertunjukan mereka adalah amal. Semakin sering mereka manggung, maka kian banyak amal yang diperoleh. Lantaran itulah, mereka tidak pernah meminta bayaran untuk sebuah pertunjukan.(ANS/Satya Pandia)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6