Liputan6.com, Jakarta - Siluet badak dan harimau Sumatra menyelinap di antara permainan motif batik dalam SMERTI Iwan Tirta Runway Collection 2027. Keduanya membawa jejak fauna Indonesia ke atas kain, lalu hadir kembali dalam bentuk yang lebih kontemporer.
Sebanyak 50 tampilan, terdiri dari 25 menswear dan 25 womenswear, diperkenalkan melalui peragaan yang memadukan busana, musik, pencahayaan, gerak, serta karakter ruang pertunjukan. CEO Iwan Tirta, Widiyana Sudirman, melihat arsip sebagai pijakan untuk membuka kemungkinan baru bagi batik.
"SMERTI lahir dari cara kami memandang memori sebagai sesuatu yang hidup. Karya dan pemikiran Iwan Tirta memberikan pijakan bagi kami untuk terus mengeksplorasi kemungkinan batik dalam konteks hari ini," katanya di sela pertunjukan koleksi di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu malam, 7 Oktober 2026.
Advertisement
"Bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan untuk meneruskan semangat penciptaannya dalam bentuk yang baru," imbuhnya. Nama SMERTI diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti memori.
Konsep tersebut diterapkan dengan mengolah kembali motif dari khazanah Iwan Tirta melalui perubahan ukuran, komposisi, repetisi, penempatan, dan warna. Sebuah motif dapat muncul secara penuh, sementara bagian lain sengaja dipotong menjadi fragmen visual.
Pilihan material ikut mengubah cara motif terbaca. Batik berbahan 100 persen katun dan TENCEL dipadukan dengan sutra, serta denim. Perbedaan tekstur menciptakan permukaan yang tidak seragam, sedangkan konstruksi soft architectural memberikan bentuk yang tetap terarah tanpa terlihat kaku.
Pengerjaan koleksi berlangsung hampir setahun. Pengembangan konsep dan desain motif dilakukan lebih dahulu sebelum proses pembuatan busana dimulai. Penyusunan look kemudian dilanjutkan melalui proses mix and match untuk menemukan komposisi yang sesuai dengan karakter keseluruhan koleksi.
Batik Dibuat dengan Tangan
Batik yang dikerjakan menggunakan tangan membuat proses pewarnaan memiliki tantangan tersendiri. Kondisi cuaca turut memengaruhi hasil akhir kain sehingga proses produksi tidak sepenuhnya dapat berlangsung dalam kondisi yang seragam.
Marketing Director Iwan Tirta, Rindu Melati Pradnyasmita, mengatakan, "Jadi, saat hujan dan panas, pasti hasil warnanya akan berbeda."
Gedung Kesenian Jakarta menghadirkan lapisan lain dalam perjalanan SMERTI. Bangunan bersejarah tersebut untuk pertama kalinya digunakan sebagai lokasi peragaan busana. Rindu menjelaskan alasan pemilihan tempat tersebut berkaitan dengan pengalaman yang ingin diciptakan melalui peragaan.
"Yang ingin kami lakukan adalah membuat memori baru, karena ini adalah pertama kalinya fashion show dilakukan di GKJ," ujar dia.
Â
Advertisement
Batik, Ruang, dan Musik Menjadi Satu Cerita
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368996/original/039285800_1791456278-Efek_Rumah_Kaca_di_Smerti_-_Iwan_Tirta_Runway_Collection_2027.jpeg)
Ruang pertunjukan kemudian tidak diperlakukan sebagai latar belakang semata. Art Director SMERTI dari Shadtoto Studio, Shadtoto Prasetio, menyusun elemen artistik dengan mempertimbangkan karakter gedung sejak awal proses.
"SMERTI dirancang dengan mendengarkan ruangnya. Kami tidak ingin sekadar memindahkan format runway ke dalam gedung pertunjukan, tetapi membangun presentasi yang merespons karakter Gedung Kesenian Jakarta melalui gerak, pencahayaan, musik, dan ritme," ia menjelaskan.
Efek Rumah Kaca tampil secara langsung sepanjang peragaan. Musik memberi irama pada pergerakan model, sekaligus mengisi ruang di antara satu tampilan dengan tampilan berikutnya. Unsur bunyi tersebut melanjutkan perhatian Iwan Tirta terhadap musik sebagai bagian dari pengalaman fashion show jenama itu.
Â
Warisan yang Bergerak Menuju Masa Depan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368985/original/047974600_1791455819-WhatsApp_Image_2026-10-07_at_22.09.52.jpeg)
Pesan mengenai alam hadir pula melalui dukungan WWF dalam acara tersebut. Kehadiran lembaga lingkungan itu memberi konteks lebih luas pada penggunaan motif fauna dalam koleksi.
Badak dan harimau Sumatra yang tercetak di atas kain tidak hanya membawa bentuk satwa ke dalam busana, tapi juga mengingatkan pada kekayaan alam yang menjadi bagian dari identitas Indonesia.
Lampu kemudian menyapu permukaan kain ketika para model bergerak melewati ruang pertunjukan. Motif yang berasal dari arsip itu berubah mengikuti langkah, lipatan, tekstur, dan jatuhnya material.
Di antara siluet kontemporer dan dinding Gedung Kesenian Jakarta, badak, serta harimau Sumatra kembali muncul sebagai gambar yang akrab, kali ini dalam bentuk yang berbeda.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365046/original/083732600_1791097921-cek_fakta_sapi_bebek.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5227787/original/093812800_1747821037-WhatsApp_Image_2025-05-21_at_16.41.19.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2913249/original/058240300_1568693252-KPK_1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343958/original/032352600_1788928394-HOAX__14_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368983/original/080108800_1791455733-WhatsApp_Image_2026-10-07_at_22.09.53.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1415776/original/075402800_1479977544-Iwan_Tirta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342617/original/073173500_1788780222-cumi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368895/original/036845400_1791452812-vladimir-fedotov-xLBLft6jss8-unsplash.jpg)