Mengenal Tren Soft Saving, Cara Gen Z Menabung Tanpa Mengorbankan Kesejahteraan Mental

Soft saving menawarkan cara menabung yang lebih fleksibel dengan tetap memberi ruang untuk menikmati hidup tanpa mengabaikan kebutuhan finansial di masa depan.

Diterbitkan 08 Oktober 2026, 21:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Soft saving menjadi tren pengelolaan keuangan yang menawarkan pendekatan yang lebih fleksibel terhadap kebiasaan menabung. Konsep ini tidak menempatkan akumulasi uang sebanyak mungkin sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan finansial.

Kualitas hidup, pengalaman, kesehatan mental, serta kemampuan menikmati penghasilan hari ini turut dipertimbangkan dalam menentukan bagaimana seseorang menggunakan uangnya. Soft saving memiliki perbedaan dengan pola menabung agresif seperti Financial Independence, Retire Early alias FIRE.

FIRE mendorong seseorang untuk menekan pengeluaran dan mengalokasikan porsi besar dari pendapatan untuk mencapai kebebasan finansial lebih cepat. Soft saving mengambil arah berbeda dengan memberi ruang lebih besar untuk kebutuhan serta pengalaman saat ini, sementara sebagian penghasilan tetap disisihkan untuk masa depan.

Popularitasnya berkaitan dengan perubahan kondisi ekonomi yang dirasakan generasi muda. Lebih dari 70 persen Gen Z dalam sebuah survei mengatakan mereka lebih memilih kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan dengan memiliki tambahan uang di tabungan.

Sebanyak 48 persen responden dalam survei TIAA 2024 mengatakan berbagai tantangan global membuat mereka ingin lebih menikmati kehidupan saat ini, melansir Investopedia, Kamis (8/10/2026).

Kondisi tersebut tidak berarti Gen Z sepenuhnya meninggalkan kebiasaan menabung. Sebagian besar Gen Z masih menyisihkan sebagian pendapatan setiap bulan dan memiliki anggaran.

Tingginya biaya tempat tinggal, utang pendidikan, serta ketidakpastian pekerjaan membuat kemampuan untuk menabung dalam jumlah besar menjadi semakin terbatas.

Penerapan Soft Saving

Soft saving pada dasarnya menempatkan kebutuhan serta keinginan saat ini lebih dahulu, kemudian menyisihkan jumlah yang masih terasa nyaman untuk ditabung. Nominalnya tidak harus selalu sama setiap bulan selama kebiasaan tersebut tetap memperhatikan keseimbangan keuangan.

Pengguna soft saving dapat mengalokasikan uang untuk perjalanan, kegiatan bersama teman, hobi, atau kebutuhan yang meningkatkan kualitas hidup tanpa merasa seluruh pengeluaran tersebut bertentangan dengan tujuan finansial.

Sebagian orang tetap menentukan jumlah tabungan yang dianggap realistis, tetapi tidak menjadikan target besar sebagai sumber tekanan setiap bulan.

 Soft saver dapat menggunakan rekening tabungan yang tetap memberikan imbal hasil, tapi memungkinkan dana digunakan ketika diperlukan, terutama untuk target jangka pendek seperti liburan, pembelian tertentu, atau kebutuhan lainnya.

Alasan Soft Saving Menarik bagi Gen Z

Soft saving berkembang bersamaan dengan perubahan cara generasi muda mendefinisikan keberhasilan finansial. Target seperti memiliki rumah pada usia tertentu atau mengumpulkan dana pensiun dalam jumlah besar terasa semakin sulit ketika harga hunian dan biaya hidup meningkat.

Sekitar separuh anggaran bulanan Gen Z rata-rata terserap untuk kebutuhan primer, sementara utang pendidikan serta kondisi pasar kerja menambah tekanan terhadap kemampuan menabung. Banyak anak muda mengalami perubahan perspektif setelah tumbuh dalam periode penuh ketidakpastian dan akhirnya lebih menghargai kesempatan untuk menikmati pengalaman saat ini.

Fleksibilitas menjadi salah satu manfaat soft saving karena seseorang dapat memiliki ruang untuk mencoba karier baru, mengembangkan keterampilan, atau mengejar pengalaman pribadi tanpa merasa harus memenuhi seluruh target finansial dalam waktu tertentu.

Soft Saving Tetap Butuh Batas

Fleksibilitas soft saving dapat berubah menjadi persoalan ketika keinginan untuk menikmati kehidupan saat ini membuat persiapan masa depan terus ditunda. Menabung terlalu sedikit dapat mengurangi kesempatan memperoleh manfaat pertumbuhan jangka panjang dari dana yang disimpan atau diinvestasikan sejak lebih awal.

Ketiadaan dana darurat turut membuat seseorang lebih rentan ketika menghadapi pengeluaran tidak terduga. Lifestyle creep dapat terjadi ketika pengeluaran meningkat seiring kenaikan pendapatan, sehingga kebiasaan menabung semakin sulit dibangun kembali.

Versi soft saving yang lebih sehat tetap memberikan ruang untuk menikmati penghasilan sambil menjaga beberapa fondasi finansial. Menabung rutin untuk dana darurat dan kebutuhan masa depan tetap dilakukan meskipun jumlahnya tidak besar.