Love Language Bisa Jadi Bentuk Self-Care, Bantu Jaga Kesehatan Tubuh dan Pikiran

Love Language tak hanya berlaku dalam hubungan, tapi bisa menjadi cara mengenali dan memenuhi kebutuhan diri dengan lebih sadar.

Diterbitkan 07 Oktober 2026, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Love language tidak hanya dapat digunakan untuk memahami cara seseorang menerima kasih sayang dari pasangan atau orang terdekat. Konsep tersebut dapat diterapkan dalam hubungan dengan diri sendiri melalui kebiasaan yang membuat kebutuhan fisik dan emosional lebih diperhatikan.

Pendekatan ini mengadaptasi lima bentuk love language, yakni words of affirmation, quality time, receiving gifts, acts of service, dan physical touch, menjadi cara untuk melakukan self-care, melansir Tatler Asia, Rabu, 7 Oktober 2026.

Gagasan tersebut sejalan dengan penjelasan mengenai self-love yang lebih dekat dengan self-compassion. Menyayangi diri berarti menghargai kebutuhan, keinginan, batasan, serta kondisi emosional tanpa terus-menerus menghakimi diri sendiri.

Bentuknya tidak selalu berupa aktivitas besar atau waktu khusus untuk memanjakan diri karena kebutuhan setiap orang dapat berubah dari hari ke hari. Kebiasaan terus memberikan waktu dan energi tanpa memperhatikan kondisi sendiri dapat berujung pada kelelahan, rasa kesal, bahkan hubungan yang terasa terbebani.

Perawatan diri kemudian bukan dipandang sebagai tindakan egois, melainkan cara menjaga kapasitas agar seseorang dapat hadir dengan lebih baik dalam hubungannya dengan orang lain.

Penerapannya dapat dimulai dengan pertanyaan sederhana seperti "Apa yang sedang saya butuhkan hari ini?" Lakukan self-assessment secara rutin untuk mengenali kebutuhan tersebut, karena bentuk perawatan diri ketika sedang lelah tentu berbeda dengan saat tubuh masih memiliki banyak energi.

 

Words of Affirmation untuk Berbicara Lebih Baik kepada Diri Sendiri

Words of affirmation dapat diterapkan kepada diri sendiri melalui cara berbicara yang lebih suportif. Awali jurnal dengan kalimat seperti "I am," "I can," atau "I will” untuk membangun kebiasaan mengafirmasi diri.

Kalimat seperti "Saya gagal" dapat diganti menjadi "Saya belum berhasil dan masih bisa belajar dari pengalaman ini." Perubahan tersebut bukan berarti mengabaikan kekurangan, melainkan memberi ruang untuk mengevaluasi sesuatu tanpa menjadikan satu kesalahan sebagai penilaian terhadap keseluruhan diri.

Kebiasaan berbicara kepada diri sendiri secara lebih positif merupakan bagian dari kebiasaan yang dapat mendukung kesehatan mental. Proses tersebut membutuhkan latihan karena pola berpikir yang kritis terhadap diri sendiri biasanya tidak berubah hanya melalui satu kalimat afirmasi.

Physical Touch untuk Perhatian pada Tubuh

Physical touch dalam konteks self-love tidak harus dikaitkan dengan hubungan romantis atau sentuhan dari orang lain. Love language tersebut menjadi cara untuk memberikan perhatian kepada tubuh melalui aktivitas yang membuat seseorang merasa lebih nyaman dan menyadari kondisi fisiknya.

Peregangan menjadi salah satu bentuk sederhana yang dapat dilakukan ketika tubuh terasa kaku setelah duduk atau beraktivitas dalam waktu lama. Mandi, pijat, foam rolling, atau perawatan tubuh di rumah dapat digunakan sebagai kesempatan untuk berhenti sejenak dan memperhatikan sensasi fisik yang muncul.

Kegiatan seperti jalan kaki, menari, yoga, berkebun, atau melakukan peregangan singkat dapat membantu tubuh tetap aktif sekaligus memberikan jeda dari rutinitas yang terlalu padat.

Quality Time, Acts of Service, dan Receiving Gifts untuk Diri Sendiri

Quality time dapat diwujudkan dengan menyediakan waktu yang benar-benar diberikan untuk diri sendiri tanpa tuntutan untuk selalu produktif. Membaca buku, berjalan kaki, bermeditasi, melakukan yoga, menikmati makanan, atau sekadar duduk tanpa agenda dapat menjadi bentuk perhatian ketika seseorang membutuhkan ruang untuk memulihkan energi.

Acts of service berfokus pada tindakan yang membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih ringan. Menyusun jadwal, menyelesaikan tugas yang tertunda, memasak makanan yang disukai, menyiapkan kebutuhan untuk keesokan hari, atau merapikan ruang dapat menjadi bentuk pelayanan kepada diri sendiri.

Receiving gifts untuk diri sendiri dapat digambarkan sebagai pemberian hadiah kepada diri sendiri melalui benda atau pengalaman yang memiliki makna personal.

Buku yang sudah lama ingin dibaca, bunga untuk menghias ruang, makanan favorit, atau waktu untuk menikmati kegiatan yang disukai dapat menjadi bentuk apresiasi atas usaha yang telah dilakukan.