12 Kecap Terbaik di Dunia Versi TasteAtlas, Indonesia Tempati 4 Teratas

Simak beragam kecap terbaik di dunia versi TasteAtlas, ada dari China, Indonesia, Korea, hingga Jepang.

Diterbitkan 04 Juli 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kepopuleran kecap sebagai bumbu penting dalam berbagai hidangan tak dapat dimungkiri. Mulai dari masakan Jepang, China, Malaysia, hingga Indonesia, kecap telah menjadi jiwa yang memberikan kedalaman rasa pada setiap sajian. Meskipun bumbu dapur ini umumnya menggunakan kedelai yang difermentasi, setiap negara di Asia memiliki metode dan ciri khas tersendiri dalam proses fermentasinya. Pertanyaannya, kecap dari negara mana yang memiliki profil rasa paling unggul di mata dunia?

TasteAtlas, sebuah ensiklopedia kuliner daring yang memetakan hidangan tradisional, bahan lokal, dan restoran otentik di seluruh dunia, telah menyusun pemeringkatan deretan kecap terbaik di dunia versi TasteAtlas. Pemeringkatan ini didasarkan pada penilaian pengguna yang telah diverifikasi oleh sistem mereka. Per 1 Juli 2026, tercatat ada 617 penilaian yang masuk, dengan 553 di antaranya dianggap valid.

TasteAtlas menegaskan bahwa daftar ini bukan merupakan kesimpulan mutlak mengenai makanan terbaik di dunia. Sebaliknya, pemeringkatan ini bertujuan untuk memperkenalkan makanan tradisional unggulan dan mendorong masyarakat luas untuk lebih mengenal kekayaan kuliner dari berbagai daerah di seluruh penjuru bumi. Yuk, tanpa berbasa-basi, simak daftar deretan kecap terbaik di dunia versi TasteAtlas, dilansir Liputan6.com pada Sabtu (4/7/2026).

1. Sheng Chou (Kecap Asin Ringan) dari China

Sheng Chou, atau kecap asin ringan dari China, menduduki peringkat teratas dengan perolehan 4.4 bintang. Kecap ini dikenal sebagai saus yang tipis, asin, dan aromatik, serta banyak digunakan dalam masakan China. Terbuat dari fermentasi kedelai, gandum, garam, dan air, Sheng Chou memiliki tekstur ringan dan rasa asin yang kuat.

Perkembangan jenis kecap ini dapat ditelusuri kembali ke masa Dinasti Han dan Tang, di mana cairan hasil sampingan dari pasta kedelai kemudian disaring dan dikembangkan menjadi bumbu mandiri. Sheng Chou secara ekstensif digunakan untuk membumbui, menumis, dan sebagai saus celup, karena kemampuannya meningkatkan rasa tanpa membebani hidangan dengan rasa manis atau berat. Profil rasanya segar, asin, gurih, dan bersih.

2. Jiang You (Kecap Asin Hitam) dari China

Dengan 4.3 bintang, Jiang You adalah istilah umum dalam bahasa Mandarin untuk kecap. Namun, dalam konteks pemeringkatan ini, Jiang You merujuk pada jenis kecap asin hitam dari China. Kecap ini terbuat dari fermentasi kedelai, gandum, garam, dan air, dengan sejarah yang berakar sejak Dinasti Han.

Kecap asin hitam ini memiliki warna yang lebih pekat dan sering digunakan untuk memberikan warna pada masakan, selain rasa gurihnya. Jenis kecap ini cukup mudah ditemui, bahkan di Indonesia.

3. Lao Chou (Kecap Asin Hitam) dari China

Lao Chou, yang mendapatkan 4.2 bintang, merupakan kecap yang lebih kental dan berwarna gelap. Kecap ini seringkali diperkaya dengan tambahan pewarna karamel atau molase. Konsentrasi garamnya lebih rendah dibandingkan kecap asin ringan, meskipun penampilannya lebih intens.

Lao Chou umumnya digunakan untuk memberikan warna cokelat tua yang indah serta rasa gurih-manis yang lebih dalam pada masakan. Proses fermentasinya yang lebih lama menghasilkan rasa yang lebih lembut, seimbang, dan matang. Kecap ini sangat penting dalam teknik 'red braising' (hóngshāo) untuk melapisi daging dan memberikan warna khas pada hidangan mie goreng seperti beef chow fun.

4. Kecap Manis dari Indonesia

Kecap Manis dari pulau Jawa, Indonesia, meraih 4.1 bintang. Kecap ini terkenal dengan kandungan gulanya yang tinggi dan teksturnya yang kental, menyerupai molase atau sirup maple. Kecap manis lahir dari adaptasi kecap Tiongkok yang dibawa oleh para perantau Tionghoa ke Indonesia. Melimpahnya gula aren di Indonesia membuat cita rasanya berkembang menjadi manis khas yang kini menjadi bagian penting dari masakan Indonesia.

Kecap manis dapat mengandung hingga 50% gula aren dan sering diperkaya dengan rempah-rempah seperti adas bintang, kayu manis, lada hitam, ketumbar, dan cengkeh. Kecap ini berfungsi sebagai bumbu sekaligus glasir, menjadi bahan dasar penting untuk marinasi, glasir daging panggang, dan bumbu meja. Kecap manis merupakan bumbu esensial dalam masakan Indonesia, menyumbang sekitar 90% dari total produksi kecap di negara ini, dan digunakan dalam hidangan populer seperti nasi goreng, mie goreng, dan sate.

5. Yangjo-Ganjang dari Korea

Yangjo-Ganjang adalah kecap Korea yang diproduksi melalui fermentasi alami campuran kedelai, gandum, dan air garam. Kecap ini dikategorikan sebagai varietas kecap modern berkualitas tinggi di Korea Selatan. Metodologi pembuatannya muncul pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, dipengaruhi oleh teknik pembuatan bir Jepang yang menggunakan gandum sebagai sumber karbohidrat utama.

Fermentasi Yangjo-Ganjang biasanya berlangsung enam bulan hingga satu tahun, di mana enzim memecah protein menjadi asam amino dan pati menjadi gula. Proses ini menghasilkan aroma yang kompleks, sedikit buah, dan warna cokelat kemerahan yang dalam. Rasanya cenderung lebih manis karena penambahan gandum. Kecap ini sering digunakan sebagai saus celup, saus untuk salad segar, atau bumbu akhir untuk hidangan tumis, umumnya ditambahkan di akhir proses memasak untuk menjaga senyawa aromatiknya yang halus.

6. Gaeryang Ganjang dari Korea

Gaeryang Ganjang merupakan kecap Korea modern yang paling banyak dikonsumsi saat ini. Kecap ini memiliki rasa yang lebih manis dan konsisten, berkat penggunaan kultur mikroba khusus dalam proses pembuatannya. Istilah "Gaeryang ganjang" sendiri berarti "kecap yang ditingkatkan" atau "kecap modern", merujuk pada kecap yang diproduksi secara komersial dengan proses fermentasi campuran atau dipercepat untuk mencapai rasa yang stabil dan manis.

7. Jin-ganjang dari Korea

Jin-ganjang adalah bumbu cair kental dan gelap dari Korea yang mewakili tingkat kecap kedelai fermentasi tertua. Kecap ini dimasak lebih lama dari jenis kecap Korea lainnya, sehingga menghasilkan warna yang sangat gelap, tekstur lebih kental, dan rasa umami yang kuat. Jin-ganjang merupakan hasil penyimpanan jangka panjang, minimal lima tahun, bahkan ada yang mencapai puluhan atau ratusan tahun.

Selama proses penuaan, reaksi Maillard mengubah protein menjadi melanoidin, memberikan warna dan tekstur kental tanpa tambahan karamel. Seiring bertambahnya usia, rasa asinnya berkurang, dan kecap ini mengembangkan profil aromatik yang kompleks, mirip dengan cuka balsamic yang sudah tua. Jin-ganjang disajikan dalam jumlah kecil sebagai elemen penyelesaian atau saus celup khusus, karena rasanya terlalu kuat untuk bumbu sup umum, sering dipasangkan dengan stik sayuran mentah atau daging panggang berkualitas tinggi.

8. Jung-ganjang dari Korea

Korea Selatan dikenal dengan ciri khas fermentasi makanan dalam waktu lama, dan Jung-ganjang adalah salah satu contohnya. Kecap Korea ini difermentasikan lebih lama, biasanya selama tiga hingga empat tahun. Proses fermentasi yang lebih panjang ini menghasilkan keseimbangan rasa asin dan manis yang baik, serta profil rasa yang lebih kompleks dan matang. Kecap ini berada di tengah-tengah dalam hal penuaan dibandingkan dengan varietas kecap Korea lainnya.

9. Haet-ganjang dari Korea

Berbeda dengan Jung-ganjang yang difermentasikan dalam waktu lama, kecap Haet-ganjang memiliki umur fermentasi yang lebih cepat. Kecap ini hanya difermentasikan pada tahun pertama setelah dibuat. Istilah "haet" menandakan panen pertama atau hasil terbaru tahun itu.

Karena hanya berusia beberapa bulan hingga satu tahun, Haet-ganjang memiliki warna yang lebih terang dan rasa asin yang lebih tajam dan lugas dibandingkan varietas yang lebih tua. Kecap ini memiliki tingkat senyawa aromatik volatil yang tinggi yang belum melunak melalui oksidasi. Haet-ganjang terutama digunakan sebagai bumbu untuk hidangan yang membutuhkan profil garam yang bersih dan cerah, seperti sup ringan dan namul sayuran segar.

10. Guk-ganjang dari Korea

Guk-ganjang adalah kecap asin cair berwarna terang dari Korea yang diproduksi secara eksklusif dari kedelai dan air garam. Perkembangan bumbu ini berakar pada masyarakat agraris awal Semenanjak Korea, di mana fermentasi blok kedelai menyediakan sumber asam amino dan garam yang stabil. Bukti arkeologis dari era Goguryeo menunjukkan bahwa produksi cairan berbasis kedelai telah mapan sebagai cara untuk mengawetkan protein dan memberi rasa pada hasil panen musiman.

Persiapannya dimulai dengan meju, yaitu blok kedelai rebus yang telah difermentasi dan dikeringkan untuk menampung mikroflora tertentu, terutama Bacillus subtilis dan berbagai jamur liar. Tidak seperti kebanyakan kecap yang diproduksi massal, Guk-ganjang tidak mengandung gandum, menghasilkan konsistensi yang lebih tipis dan rasio garam-ke-manis yang lebih tinggi. Kecap ini digunakan sebagai bumbu dasar dalam kaldu dan sup bening, seperti miyeok-guk atau mu-guk, di mana warnanya yang pucat menjaga kejernihan cairan sambil memberikan dasar rasa gurih yang dalam.

11. Ganjang dari Korea

Ganjang adalah istilah umum untuk kecap Korea, bumbu fermentasi tradisional yang terbuat dari kedelai, garam, dan air. Kecap ini memainkan peran sentral dalam masakan Korea, memberikan rasa umami yang dalam dan keseimbangan pada berbagai hidangan. Produksinya telah didokumentasikan di semenanjung Korea sejak periode Tiga Kerajaan.

Proses pembuatannya dimulai dengan meju, blok kedelai rebus yang dihaluskan, dibentuk, dan digantung untuk dikeringkan dan difermentasi secara alami. Setelah fermentasi, bagian padatnya digunakan untuk membuat doenjang (pasta kedelai), sedangkan cairannya menjadi ganjang. Ganjang memiliki rasa gurih yang kaya dengan umami yang dalam dan rasa asin yang seimbang, seringkali dengan sedikit rasa manis yang lebih ringan dan finish asin yang bersih dibandingkan beberapa kecap lainnya.

12. Amakuchi dari Jepang

Amakuchi adalah varietas kecap manis dari Jepang yang terutama terkait dengan wilayah Kyushu di Jepang selatan. Kecap ini dibedakan oleh rasa manis yang menonjol dan rasa asin yang lebih rendah dibandingkan varietas koikuchi standar yang digunakan di Jepang timur. Preferensi untuk gaya ini berkembang karena kondisi geografis dan ekonomi Kyushu selama periode Edo, khususnya kedekatannya dengan pelabuhan Nagasaki, yang merupakan titik masuk untuk gula impor.

Beberapa daerah Amakuchi memiliki rasa yang "sangat manis" bagi konsumen yang tidak terbiasa. Kecap ini sering digunakan sebagai saus celup untuk makanan laut mentah, terutama di daerah dengan ikan berlemak tinggi. Amakuchi juga merupakan komponen fundamental dalam persiapan nimono gaya Kyushu dan pendamping untuk chicken nanban dan sashimi. Kecap ini memiliki rasa yang lebih lembut daripada varietas Shoyu lainnya, dengan rasa asin dan manis yang memberikan umami unik.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kecap Terbaik di Dunia Versi TasteAtlas

1. Apa itu TasteAtlas dan bagaimana mereka menentukan peringkat kecap terbaik?

TasteAtlas adalah ensiklopedia kuliner daring yang memetakan hidangan tradisional, bahan lokal, dan restoran otentik di seluruh dunia. Mereka menentukan peringkat berdasarkan penilaian pengguna yang telah diverifikasi.

2. Kecap dari negara mana yang mendominasi daftar 12 teratas ini?

Korea Selatan mendominasi daftar ini dengan tujuh jenis kecap, diikuti oleh China dengan tiga jenis, Indonesia dengan satu jenis, dan Jepang dengan satu jenis.

3. Apa perbedaan utama antara Sheng Chou dan Lao Chou dari China?

Sheng Chou (kecap asin ringan) lebih tipis, lebih asin, dan digunakan untuk membumbui tanpa mengubah warna. Sementara itu, Lao Chou (kecap asin hitam) lebih kental, lebih gelap, dan digunakan terutama untuk memberikan warna serta rasa gurih-manis yang lebih dalam pada masakan.

4. Mengapa Kecap Manis Indonesia memiliki rasa yang unik?

Kecap Manis memiliki rasa unik karena merupakan adaptasi dari kecap Tiongkok dengan penambahan gula aren lokal yang melimpah di Indonesia, menghasilkan tekstur kental dan rasa manis karamel yang khas.

5. Apa karakteristik utama dari kecap Korea Guk-ganjang?

Guk-ganjang adalah kecap asin cair berwarna terang dari Korea yang diproduksi secara eksklusif dari kedelai dan air garam, tanpa gandum. Kecap ini digunakan terutama untuk sup bening dan sayuran agar tidak mengubah warna hidangan.