Layanan Bebas Biaya Visa Korea Selatan untuk Rombongan Wisatawan Indonesia Diperpanjang

Semula, layanan bebas biaya visa Korea Selatan untuk rombongan wisatawan Indonesia hanya berlaku hingga 31 Desember 2025.

Diterbitkan 04 Januari 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Korea Selatan memperpanjang pembebasan biaya pemrosesan visa selama enam bulan tambahan untuk grup wisatawan dari enam negara, termasuk Indonesia. Ini berdasarkan rencana yang diumumkan Menteri Keuangan negara itu, Koo Yun-cheol.

Melansir Yonhap, Jumat, 2 Januari 2026, pembebasan biaya untuk visa C-3-2, yang awalnya dijadwalkan berakhir pada 31 Desember 2025, akan berlanjut hingga akhir Juni 2026. Enam negara yang tercakup dalam perpanjangan ini adalah China, India, Vietnam, Filipina, Indonesia, dan Kamboja.

Koo mengatakan, rencana ini bertujuan "mempertahankan momentum pariwisata masuk." Saat ini, biaya pemrosesan untuk visa C-3-2 ditetapkan sebesar 18 ribu won (sekitar Rp 208 ribu).

Visa C-3-2 adalah jenis visa khusus untuk wisatawan yang bepergian dalam kelompok, biasanya tiga orang atau lebih, yang diajukan melalui agen perjalanan yang disetujui Kedutaan Besar Korea Selatan, melansir The Korea Times. Visa ini bisa dipakai untuk wisata umum, perjalanan insentif, atau kunjungan sekolah (non-universitas).

Visa ini memungkinkan kunjungan jangka pendek, sering kali dengan beberapa kali izin masuk dalam setahun, dan terkadang memberi keringanan biaya bagi warga negara dari negara-negara tertentu untuk meningkatkan pariwisata Negeri Ginseng.

Lupakan liburan sederhana, tahun ini, Organisasi Pariwisata Korea (KTO) mengumumkan bahwa kata kunci pariwisata nasional negara itu pada 2026 adalah "dualisme." Ini mencerminkan keinginan wisatawan untuk dua pengalaman yang kontras dalam perjalanan yang sama: kemewahan dan kepraktisan, serta teknologi mutakhir dan emosi yang murni.

Prospek Pariwisata Korea Selatan

Bulan lalu, KTO memperkenalkan "D.U.A.L.I.S.M." sebagai kerangka kerja untuk prospek pariwisata Korae Selatan pada 2026. Prospek ini didasarkan pada analisis lingkungan makro selama tiga tahun, data telekomunikasi, serta pengeluaran kartu, tren media sosial, juga survei yang melibatkan para ahli dan wisatawan.

Tujuh tren utama yang diidentifikasi adalah digital humanity, kesatuan budaya, ketahanan adaptif, rekreasi lokal, spektrum nilai individual, pengalaman spasial, dan aliran antar-generasi. Setiap tren menunjukkan pergeseran model pariwisata yang dibentuk faktor sosial, lingkungan, dan teknologi.

Di era "kemanusiaan digital," kecerdasan buatan jadi semacam pemandu emosional, mengambil alih perencanaan yang kompleks sehingga para pelancong dapat memusatkan perhatian mereka pada pengalaman sensorik dan koneksi antarmanusia.

Wajah Pariwisata Korea Selatan 2026

"Kesatuan budaya" menangkap daya tarik pariwisata K-life yang semakin berkembang, mengajak pengunjung untuk melangkah melampaui konten K-pop di layar dan masuk ke dalam ritme kehidupan sehari-hari Korea.

"Ketahanan adaptif" menunjukkan pergeseran menuju perjalanan regeneratif yang memulihkan tempat-tempat yang dikunjungi, sementara "rekreasi lokal" mengubah lingkungan biasa—makanan, toko-toko lama, dan ritual sehari-hari mereka sebagai aset wisata yang khas.

"Spektrum nilai individual" mengacu pada gaya konsumsi yang lebih terencana. Hal ini menggambarkan wisatawan yang bersedia mengeluarkan uang secara bebas untuk pengalaman yang mereka anggap bermakna sambil dengan hati-hati menghindari biaya yang tidak perlu.

"Pengalaman spasial" menyoroti munculnya "kreasi spasial," di mana ruang yang tidak terpakai atau terabaikan diubah jadi lingkungan imersif yang berpusat pada seni, media, dan desain sensorik.

Peningkatan Wisatawan Asing

Terakhir, "arus multi-generasi" mencerminkan bagaimana nilai-nilai perjalanan berkembang di berbagai kelompok usia, dengan kesejahteraan yang berarti pembaruan emosional bagi wisatawan muda dan perawatan diri yang penuh perhatian bagi wisatawan yang lebih tua.

"Nilai-nilai yang kontras seperti teknologi dan emosi, global dan lokal, akan muncul untuk menciptakan ekosistem pariwisata baru," kata Kim Sung-eun, direktur data pariwisata KTO.

Para peneliti industri mengatakan bahwa Korea Selatan berpotensi mengalami peningkatan jumlah pengunjung asing hingga lebih dari 21 juta pada 2026, didorong pemulihan berkelanjutan dalam perjalanan masuk dan potensi limpahan permintaan akibat meningkatnya ketegangan antara China dan Jepang, lapor Aju Press.

Perkiraan ini didasarkan pada model permintaan pembelajaran mendalam yang menggabungkan faktor musiman, nilai tukar, indikator makroekonomi, dan faktor geopolitik, menurut Yanolja Research, sebuah lembaga penelitian pariwisata berbasis data.