Redam Insiden Kekerasan dalam Penerbangan, Penumpang Pesawat Diminta Berpakaian Lebih Sopan

Menteri Transportasi AS Sean Duffy mendesak para penumpang pesawat untuk berpakaian lebih sopan, tidak pakai sandal dan piyama.

Diterbitkan 18 Desember 2025, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Transportasi Amerika Serikat (AS), Sean Duffy, meluncurkan sebuah kampanye yang mendesak warga Amerika berpakaian lebih rapi dan sopan saat bepergian menggunakan pesawat. Kampanye ini muncul menjelang periode perjalanan Thanksgiving, yang diperkirakan jadi yang tersibuk dalam 15 tahun terakhir, menurut Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA).

Kampanye Departemen Transportasi AS (DOT) tersebut meromantisasi era penerbangan tahun 1950-an dan 60-an, menampilkan klip terminal yang teratur, lalu membandingkannya dengan rekaman penumpang modern yang terlibat perkelahian, meletakkan kaki telanjang di lorong, dan berselisih dengan awak kabin.

Namun, dorongan Duffy menuai reaksi cepat yang sebagian besar bernada skeptis dan kritis dari berbagai pihak. Melansir Euro News, 1 Desember 2025, di video kampanye DOT, Duffy menyatakan, "Tata krama tidak berhenti di gerbang," lalu melanjutkan pertanyaan retoris, "Apakah kamu berpakaian dengan sopan?"

Puncak dari seruan ini disampaikan saat berbicara di Bandara Newark, di mana ia secara spesifik menargetkan pakaian yang dianggapnya tidak pantas untuk bepergian. "Mari kita mencoba untuk tidak memakai sandal dan piyama saat datang ke bandara," ujarnya.

Kampanye ini diluncurkan untuk mengurangi kekerasan dan perilaku mengganggu di terminal dan di dalam pesawat. DOT mencatat peningkatan signifikan dalam insiden penumpang yang sulit diatur, dengan total 13.800 insiden sejak 2021.

Laporan dari International Air Transport Association (IATA) juga menunjukkan bahwa secara global, insiden penumpang yang mengganggu terjadi untuk setiap 395 penerbangan pada 2024. 

Masalahnya Bukan Piyama, tapi Biaya dan Kepadatan

Kampanye video tersebut dinilai sebagai nostalgia palsu, mengingat kondisi dan masalah struktural penerbangan modern yang jauh berbeda dari masa lalu. Para kritikus berpendapat bahwa fokus pada pakaian mengalihkan perhatian dari masalah mendasar yang sebenarnya memicu perilaku tidak tertib.

Mereka mendesak Menteri Transportasi AS untuk mengalihkan fokusnya ke isu-isu struktural yang nyata, seperti kerumunan yang tak tertahankan, biaya penerbangan yang tinggi, penundaan penerbangan yang merajalela, dan proses pemeriksaan keamanan yang melelahkan.

Pernyataan ini secara lugas merangkum pandangan bahwa tuntutan untuk berpakaian formal tidak realistis ketika penumpang harus siap menghadapi kondisi yang tidak nyaman dan tidak terduga, seperti penundaan berjam-jam atau pembatalan penerbangan. Para kritikus berpendapat bahwa stres dan kelelahan yang ditimbulkan model ultra-low cost, kabin yang ramai, dan bandara yang beroperasi mendekati kapasitas maksimum adalah pemicu utama dari emosi yang memuncak.

Tren Kausalitas di Industri Penerbangan

Dorongan Duffy untuk berpakaian formal dan rapi juga dinilai tidak sejalan dengan tren di industri penerbangan, terutama terkait standar seragam dan penampilan awak kabin. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak maskapai penerbangan di seluruh dunia justru melonggarkan kode penampilan dan seragam mereka, bergerak menuju pendekatan yang lebih kasual dan inklusif.

Di Amerika Serikat, Alaska Airlines merombak kode penampilannya pada 2022, menghilangkan perbedaan kaku antara penampilan pria dan wanita, menciptakan opsi netral gender, bahkan mulai mengizinkan riasan, cat kuku, serta beberapa tindikan.

Tren serupa juga terlihat di maskapai besar lain. United Airlines kini mengizinkan beberapa tato yang terlihat dan rambut panjang untuk semua jenis kelamin. Virgin Atlantic membatalkan kewajiban riasan untuk kru wanita pada 2019 dan melonggarkan aturan tatonya tahun 2022. 

Konteks Sejarah dan Akar Permasalahan Perjalanan Udara

Meski kampanye DOT bertujuan meromantisasi "Zaman Keemasan" perjalanan udara, para sejarawan penerbangan menunjukkan bahwa era tersebut tidak seideal yang digambarkan Duffy. Tahun 1950-an, penerbangan memang lebih eksklusif karena tarifnya jauh lebih mahal, sehingga hanya sebagian kecil populasi yang mampu bepergian.

Namun, kondisi kabin saat itu jauh dari kata ideal, dengan merokok diperbolehkan di dalam pesawat, dan insiden pembajakan terjadi lebih sering daripada saat ini. Selain itu, pramugari saat itu sering menghadapi aturan ketenagakerjaan yang ketat dan berbasis penampilan.

Lebih penting lagi, keselamatan penerbangan pada "era emas" jauh lebih buruk. Menurut data Airbus, tingkat kecelakaan fatal per juta penerbangan pada 1961 adalah 10, sedangkan saat ini angkanya mendekati nol.

"Cara terbaik untuk memperbaiki perjalanan udara adalah dengan memperluas dan mengembangkan jaringan kereta api domestik sehingga orang memiliki pilihan alternatif selain mengambil penerbangan domestik singkat," kata seorang warganet.