Sukses

Profil Reyogchestra yang Bawa Kesenian Tradisional Ponorogo Populer di Eropa

Reyogchestra sangat aktif mempopulerkan kesenian Reog Ponorogo lewat platform seperti YouTube dan TikTok hingga saat pentas di negara Eropa.

Liputan6.com, Jakarta - Kesenian Reog Ponorogo sempat diklaim oleh Malaysia sebagai warisan budayanya, meski jelas itu kesenian asli dari Indonesia. Tak ingin kecolongan, sejumlah seniman daerah makin giat membuat pertunjukan reog sebagai wujud nyata pelestarian kesenian.

Salah satu yang aktif mempromosikan kesenian Reog di era modern adalah Reyogchestra. Reyogchestra menyatakan diri sebagai wadah seniman Reog Ponorogo, khususnya pemain iringan musik dalam kesenian Reog Ponorogo.

Mereka memanfaatkan peran media sosial, seperti Youtube, TikTok, dan Instagram @reyogchestra untuk mempopulerkan kesenian yang kerap disangkutpautkan dengan mistis itu. Di bagian informasi tentang Reyogchestra, mereka menyebut akun tersebut sebagai media dokumentasi musik etnik kontemporer yang ditampilkan baik di dalam maupung di luar negeri.

Pada perayaan 17 Agustus 2020 lalu, tepatnya saat HUT Kemerdekaan ke-77 RI, Reogchestra mengunggah momen pertunjukan mereka di halaman Istana Negara. Potret dan video aksi mereka juga diunggah di laman Instagram. Beberapa lagu khas yang digunakan saat Reog Ponorogo beraksi, seperti gending Jawa dan Lagon Turi-Tur,i diunggah untuk memperkaya informasi seputar Reog Ponorogo.

Begitu juga saat Reog Ponorogo dipopulerkan hingga ke Eropa. Dalam sebuah unggahan, mereka memperlihatkan ekspresi para penonton di Frankfurt, Jerman, saat Reog Ponorogo tampil di pusat kota, tepatnya di Frankfurt am Main, Römer.

"Suatu kebanggaan. Reyog Ponorogo aset budaya bangsa Indonesia, kini sudah banyak diminati untuk dipelajari di Uni Eropa khususnya Jerman. semoga generasi muda mau belajar guna menjaga dan melestarikannya. Pertama dalam sejarah Reyog Ponorogo getarkan Jerman!" tulis akun resmi @reyogchestra di TikTok dikutip Minggu (5/2/2023).  

Sebelumnya, Reyogchestra mengunggah video saat Reog Ponorogo pentas di Australia, mereka tampil di Panggung Budaya Nastional Multicultural Festival (NMF) 2019 Canberra, Australia. 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Edukasi Hal Mistis

Bukan hanya mengunggah video penampilan saat pentas, akun itu juga mengedukasi publik soal kesenian tersebut. Akun Reyogchestra menjelaskan salah satu rahasia di balik penampilan kesenian Reog Ponorogo.

Mengutip dari laman Merdeka, Topeng Dhadhak Merak jadi ciri khas di setiap penampilan kesenian Reog Ponorogo. Dhadhak Merak dikenal lantaran ukuran dan bobotnya yang besar tapi dapat diangkat oleh penari hanya dengan menggigitnya. Berat topeng tersebut berkisar antara 40-50 kilogram.

Banyak yang mengira kalau atraksi Dhadhak Merak mengandung unsur mistik dan penari dalam kondisi orang kesurupan. Padahal, tidak demikian. Reyogchestra memastikan bahwa atraksi dalam Reog Ponorogo tidak ada adegan kesurupan. Para penari Dhadhak Merak telah terlatih dan kuat secara fisik mengangkat topeng tersebut. 

Rahasia lainnya adalah desain Topeng Dhadhak Merak yang terdiri dari dua bagian. Pada bagian kepala yang diwujudkan kepala singa (barong), sementara bagian atas berupa bulu merak, keduanya dibuat saling menyeimbangkan. Bagian kepala cenderang berat ke depan, sedangkan bagian "rengkek" merak di desain melengkung ke belakang.

3 dari 4 halaman

Pendaftaran ke UNESCO

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengajak seluruh masyarakat untuk turut mendukung Reog Ponorogo menjadi Warisan Budaya Tak Benda di UNESCO. Menurut Muhadjir, Malaysia juga berencana melakukan hal yang sama ke UNESCO.

"Maka dari itu, kita harus lebih dulu, karena ini kan sudah menjadi budaya dan warisan kita," terangnya, dikutip dari laman kemenkopmk, Rabu, 6 April 2022. Muhadjir mengatakan belum mengecek lebih jauh soal klaim Malaysia atas Reog Ponorogo.

Muhadjir menyatakan mengklaim suatu budaya sebetulnya tidak salah dan masing-masing negara boleh mengajukan. Meski begitu, ia menegaskan bahwa kesenian reog memiliki bukti sejarah dan tradisi yang sudah mengakar di Indonesia, khususnya di wilayah Ponorogo, Jawa Timur. 

Ia menyebut Kantor Staf Presiden (KSP) akan mengawal proses pengajuan kesenian Reog Ponorogo ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) milik Indonesia. Deputi II KSP, Abetnego Tarigan memastikan, pengajuan kesenian Reog Ponorogo sebagai WBTB yang lahir dan berkembang di Indonesia merupakan langkah prioritas pemerintah.

 

4 dari 4 halaman

Monumen Reog Raksasa

Mengutip kanal Surabaya Liputan6.com, 13 Desember 2022, Pemerintah Kabupaten Ponorogo berencana membangun monumen reog raksasa setinggi 126 meter, lebih tinggi dari Garuda Wisnu Kencana (GWS) yang ada di Bali. Proyek ambisius tersebut dianggarkan menyedot dana hingga Rp84 miliar lebih.

Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko menjelaskan detailed engineering design (DED) proyek tahun jamak ini akan digarap akademisi dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Desainnya sudah setahun dipersiapkan. "Yang mendesain ITS yang mengerjakan DED-nya juga ITS. Sudah direncanakan," kata Sugiri, Selasa, 13 Desember 2022.

Pembiayaan monumen itu merupakan urunan dari APBD Ponorogo, pihak swasta, dan Pemprov Jatim. Saat ini, sudah dilakukan proses lelang dan menurut Sugiri, ada tiga peserta yang lolos dalam prakualifikasi. Dalam perjalanannya, hanya dua yang melakukan memasukkan penawaran. 

Menurut hasil evaluasi yang telah dilakukan Pokja, kata Kepala Bagian Pengadaan Barang dan Jasa Sekretariat Daerah Pemkab Ponorogo Budi Darnawan, hanya PT Widia Satria dari Surabaya yang sudah memenuhi aspek kualifikasi, administrasi, teknis serta kelengkapan lainnya. Sementara, PT. Sinar Cerah Sempurna gugur dalam persyaratan teknis.

Selanjutnya, pPihaknya bakal menerbitkan surat penunjukan penyedia barang dan jasa (SPPBJ) dan diteruskan dengan penandatanganan kontrak antara pemenang tender dan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga sebagai pihak pertama. "Jadi kontrak mulai 2022 hingga Desember 2024, (proyek) tahun jamak. Anggaran pagu Rp84 miliar, nilai HPS Rp76 miliar dan untuk nilai penawaran Rp73 miliar," sebut Budi. 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.