Sukses

Tips Menemani Anak Bermain agar Lebih Menyenangkan

Liputan6.com, Jakarta - Bermain memiliki beragam manfaat yang baik bagi tumbuh kembang anak. Untuk mendukung hal tersebut, orangtua dapat menciptakan momen bermain yang lebih menyenangkan bersama buah hati tercinta.

"Walaupun sudah sering dengar penting bermain menyenangkan, tapi jangan-jangan yang menyenangkan versi anak sama versi orangtua berbeda. Pertama yang perlu kita paham bahwa tujuan bermain sama anak itu berarti customernya si anak butuh child center," kata psikolog anak Anastasia Satriyo dalam bincang virtual "Ayo Main: Bawa Perubahan Lewat Bermain" bersama IKEA pada Kamis, 3 November 2022.

Anas melanjutkan, orangtua perlu memahami otak orang dewasa lebih mudah untuk menyesuaikan dengan anak. Ia mencontohkan, ada lagu anak-anak yang orang dewasa bosan dengar berkali-kali, tapi bila anak senang, orangtua punya kemampuan untuk memahami.

"Atau ada orangtua yang sangat menjaga kebersihan jadi mereka enggak terlalu mau main pakai pasir atau slime, padahal itu butuh yang untuk sensory-nya. Begitu kita punya pengetahuan dan kita tahu seberapa pentingnya itu untuk anak, biasanya kita punya kemampuan untuk bertoleransi dan beradaptasi," tambahnya.

Anas menyarankan kepada orangtua untuk membuat proporsi. "Jadi main proporsi, misalnya 60 persen aktivitas main yang anaknya suka, 40 persen kita bilang ikutin aktivitas yang orangtua mau," terang Anas.

"Biasanya (kalau orangtua) lagi capek role playnya jadi gunung atau jadi pasien, anaknya jadi dokter. Itu kita agak santai, tapi tetap ada interaksi main," tambahnya.

Anas menjelaskan sangat menarik untuk dapat bergantian memberi ide bermain. Hal tersebut dikatakannya, secara tidak langsung anak belajar bergantian.

"Ini jadi isu yang cukup happening buat orangtua di Indonesia, bagaimana sih cara mengajarkan anak mau bergantian, ngantre, bisa lewat kegiatan bermain yang gantian ide," terangnya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Tahapan Bermain

Bila di rumah ada lebih dari satu anak, belajar bergantian juga melatih anak untuk mengelola konflik bersaudara. "Kita bisa latih sore ini ide bermain adek, besok kakak. Bisa menjadi sarana mereka merasa sama-sama diterima, tapi sama-sama menghargai orang lain," tuturnya.

"Bermain perlu kita yakini bisa membantu anak membuat perubahan di dunia dengan aktivitas bermain yang kita berikan di masa kecilnya, cerita yang kita dengar, sebagai orangtua perlu punya pengetahuan dasar tentang tahapan bermain anak," kata Anas.

Ia menambahkan, ada tiga tahapan bermain, pertama, bermain sensory play. Ini adalah segala aktivitas yang melatih indra anak saat bermain, berlari, merangkak, sampai stimulasi dengan segala hal yang ia pegang.

"Lalu usia 4--5 tahun ke atas itu bermainnya role play, awalnya pakai figur atau kerja sama Lego, lama-lama dia yang pakai bajunya atau tenda-tenda," tambahnya.

Sedangkan tahap bermain selanjutnya adalah ketika anak bermain untuk memecagkan masalah, sembari digabung dengan role play sosial. "Ada role play problem solvingnya dan juga di usia berapapun sangat penting bermain yang membantu anak untuk memproses emosi lewat bermain art," tambahnya.

"Jadi itu yang kadang-kadang ketinggalan di Indonesia, dipikirnya belajar art itu cuma ikut les gambar yang ikutin instruksi dari orang lain, tapi waktu-waktu untuk anak bergambar anak ditanya merasanya apa, lagi happy digambarnya rasanya apa, marah kalau dibikin warna jadi kayak apa, itu sangat penting buat anak berkembang secara holistik menjadi anak yang sehat mental dan juga memiliki kemampuan intelegensi yang baik," terang Anas.

3 dari 4 halaman

Pentingnya Bermain

Anas juga menyampaikan bermain berperan sangat penting bagi anak. Bermain adalah aktivitas natural untuk otak buah hati.

"Otak anak itu berkembang paling awal di 7 tahun pertama di area emosinya. Area emosi ini terkait dengan imajinasi, storytelling, cerita, beragam warna, ekspresi bentuk wajah," ungkapnya.

Ia menerangkan, lewat perkembangan otak di area imajinasi ini, makan bermain menjadi sarana untuk anak belajar. Dikatakannya, belajar buat anak bukan selalu duduk dengan kertas atau diberi ceramah.

"Justru, bermain adalah belajarnya anak dan alat bermain itu mengembangkan aspek emosinya sehingga kepeduliannya terhadap lingkungan sekitar, bagaimana sosialisasi dengan teman," terang Anas.

Terlebih interaksi berkurang akibat pandemi Covid-19 yang melanda. Hal ini memunculkan isu adaptasi ke lingkungan sosial yang langsung, bertemu dengan beragam teman-teman yang seusia anak.

"Ini sangat bisa kita bantu fasilitasi sebagai orangtua lewat aktivitas bermain dengan anak," tambahnya.

Orangtua dapat mengembangkan pemahaman tentang diri anak, memahami emosi, memahami peran di lingkungan, hingga lewat bermain role play (main peran). Orangtua bisa membantu mengembangkan intelegensi dan kognitif anak lewat beragam aktivitas permainan, mulai dari beragam ekspresi, komunikasi, pemecahan masalah, dari masalah sosial sampai logika, yang dilakukan lewat bermain.

4 dari 4 halaman

Menemani

"Ketika anak dan orangtua ada waktu bermain, anak perlu waktu main sendiri, tapi orangtua juga perlu 20--30 menit berkala menemani anak bermain itu ternyata juga memperkuat emotional bonding dan attachment," tutur Anas.

Ia menambahkan bila orangtua paham otak anak berkembang di area emosi berarti dengan setiap kali orangtua menemani anak bermain, itu adalah upaya mengembangkan otak anak, bukan sekadar membuang waktu saja. Manfaat bermain anak juga menyentuh elemen yang sangat penting.

"Manfaat bermain untuk anak meningkatkan kognitif sosial, fisik anak juga, dan mengembangkan kesejahteraan emosi, sosial, atau kesehatan mental, ini juga fondasi untuk dari masa anak-anak sampai remaja," ungkap Anas.

Lewat bermain pula, disebut Anas, anak-anak akhirnya belajar mengerti tentang dirinya dan dunia sekitarnya. Maka, sangat diharapkan supaya anak-anak berkembang menjadi orang-orang yang punya empati, kepedulian dengan lingkungannya.

"Ternyata apapun isu emosi anak, itu dimulai dari perkembangan fisik dulu. Ada pendekatan namanya movement and learning, jadi kita enggak bisa meminta anak punya kemampuan fokus atau kasus-kasus yang banyak aku tangani anak-anak yang terlambat bicara," lanjut Anas.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS